#31HariMenulis: Semacam Pengantar


Gambar

Tiga jam lebih dua puluh tiga menit sudah tanggal 15 Mei 2013 berlangsung. Ini hari yang kutunggu dengan perasaan harap-harap cemas. Hari ini adalah hari pertama dari program #31HariMenulis tahun ketiga, tetapi yang pertama bagiku. Dua tahun sebelumnya aku hanya menjadi pembaca saja. Tahun ini aku memberanikan diri ikut setelah disenggol mas ketua angkatan komunikasi 2005, Tuki, di twitter. 

Terus terang #31HariMenulis ini adalah tantangan yang gampang-gampang susah. Gampang karena tak ada ketentuan harus posting tulisan serius. Postingan apa saja boleh. Tulisan singkat satu paragraf boleh, tugas kuliah, puisi, cerpen, curhatan, bahkan foto makanan yang kumakan hari itu juga boleh. Asal bukan twit, karena platform media yang boleh didaftarkan di #31HariMenulis hanya blog atau catatan di facebook. Susahnya adalah konsistensi bikin postingan tiap hari. Bukan soal idenya. kalo ide tulisan pasti ada. minimal curhatan kegiatan sehari-hari. Cuma membiasakan diri meluangkan waktu barang 30-60 menit sehari untuk ngetik itu yang butuh perjuangan. Membiasakan bangun pagi (apalagi dini hari) saja susahnya seperti merencanakan revolusi. 

Tapi ya bismillah, diniati ibadah.

Biasanya aku butuh waktu yang tidak singkat untuk menghasilkan satu tulisan. bisa beberapa jam sampai beberapa hari untuk mengendapkan pikiran dan menuliskannya. lha ini tiap hari dituntut Bang Wiro untuk menghasilkan tulisan yang krenyes tetapi bermakna di hati pembaca.

sejak memberanikan diri mengirimkan link blog ini ke Bang Wiro, otakku secara otomatis memetakan kira-kira ada stok tema apa saja di kepalaku untuk kutuliskan selama 31 hari ke depan demi menghindari denda. Secara spesifik memang belum ada stok tulisan atau judul tapi setidaknya ada beberapa tema yang menjadi minatku selama ini.

Beberapa tema yang mungkin bisa aku tulis antara lain:

a. Catatan perjalanan. meski belum rutin, aku membiasakan diri untuk membuat catatan selama melakukan perjalanan ke suatu daerah yang baru kukunjungi. Sudah ada coretan acak perjalananku dua minggu di Nusa Tenggara Timur dan perjalanan ke Sumenep beberapa tahun yang lalu.

b. Literasi Media. ganteng-ganteng gini aku ini peneliti. *njukjumawa. Sejak mahasiswa aku tertarik dan pernah menginisiasi program literasi media. waktu itu aku, Mirah, dan Susan melahirkan buku gambar 7 Cerita Rimo Tevi yg dalam pengerjaan kreatifnya, kami dibantu Hisra, Dimas, Bang Ipul, dan Yustan. Buku tersebut bagiku adalah masterpiece. kami melakukan riset kecil-kecilan ke murid TK dan orang tuanya. lalu merumuskan pesan literasi media yang sesuai dengan kondisi mereka. Tahun lalu, ketika aku sudah resmi tergabung menjadi peneliti Pusat Kajian Media dan Budaya Populer, bersama-sama mengerjakan riset tentang model Gerakan Literasi Media di Indonesia. Hasil riset itu juga kami bukukan. 

Oleh karena itu aku mungkin perlu membuat beberapa tulisan tentang literasi media. Hitung-hitung mengikat ingatan.

c. Soul Coaching. Istilah ini kuambil dari judul buku Denise Linn. Buku tersebut berisi panduan praktis treatment selama 28 hari untuk mengenal diri sendiri, mendengarkan suara jiwa kita sendiri. Tujuannya bukan untuk melihat roh atau sejenis makhluk halus, tetapi personal growth, yaitu perkembangan kedewasaan kita sendiri. 

Aku sudah pernah melakukannya sekitar 2-3 tahun lalu ketika perjalanan hidupku mentok dan berhenti di kamu, kamu, kamu, *eh berhenti gara-gara skripsi dan patah hati. Satu hal yang menarik dari soul coaching ini adalah treatmentnya menggunakan pendekatan 4 elemen yaitu udara, air, api, dan tanah. Jadi setelah lulus treatment ini, kita jadi avatar seperti Aang. hahaha. bukan laaah.

Alasan lain mengapa aku merasa perlu menuliskan-terjemahkan buku Soul Coaching ini adalah karena TUPOKSI (tanya para PNS pasti tahu) penciptaanku di dunia ini. ceritanya begini, weekend kemarin adikku perempuan dolan ke Jogja sendirian. katanya mau membolang (bocah petualang). ketika kutanya mau kuantar ke mana, dia bilang tak punya tujuan spesifik. ketika kuantar ke terminal sebelum pulang, dia memberikanku secarik kertas berisi curhatan. Rupanya dia sedang bimbang tentang identitas dan orientasi hidupnya. Dengan kata lain dia sedang mencari jati dirinya. Itulah mengapa aku menawarkan soul coaching sebagai salah satu cara menemukan identitas diri, panggilan jiwa kita. semoga dia tidak keberatan kusinggung di sini. 

Tentu saja terbuka kemungkinan ada tulisan di luar ketiga tema itu. 

Kiranya cukup sampai di sini dulu pembuka dari #31HariMenulis dariku. Terima kasih kepada Masjaki dan Mas Tuki yang menyeretku ke, juga Awe Meyer sebagai salah satu penggagas, kompetisi selo ini. Salam kenal kepada para peserta #31HariMenulis lainnya.

 

Mengutip dari buku sakti Dasar-Dasar Penulisan,

Tulis Saja, Kapan Lagi. (Kapan-Kapan, Tulis Lagi)

 

Tabok, eh Tabik!

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s