@31HariMenulis | I am alone, after all.


“At the end of the day, you gotta stand alone with your own dreams. If there are others walking beside you, it’s a bonus. Some people will join you on some parts of your journey to your dreams. Be grateful. But always be ready for crossroads. those dreams of yours are shining on distant shores, and if they’re calling you away, I have no right to make you stay. You’re the one who starts the journey, you’re the one who has to finish it. Own your dreams. Own your journey.”

-@AlissaWahid

 

“I am alone, after all” kalimat itu terucap begitu aku melangkah keluar dari kontrakan di Klebengan. Siang ini aku harus berangkat ke stasiun Tugu menuju stasiun Gubeng Surabaya dengan kereta Argo Dwipangga, untuk selanjutnya ke Sumenep Madura. Aku bingung bagaimana caranya aku bisa sampai stasiun Tugu secepatnya. Aku hanya punya sepeda. Mau naik taksi, ga punya nomer teleponnya. Ingin meminta salah satu teman untuk mengantar tapi bingung siapa teman yang cukup dekat sehingga, tak sungkan aku meminta bantuan. Satu persatu wajah teman-temanku berkelebatan. Mau minta tolong Majid, tapi sekarang kami sudah beda kos dan sudah lama tidak kontak. Mau minta tolong Lola, dia sedang sibuk skripsi. Mau minta antar Loli, takut dikira mbribik pacar temen sendiri.

Beberapa jam sebelumnya, aku mampir ke kampus. Memenuhi permintaan adik angkatan untuk diskusi tentang tugas kuliah. Pagi itu Kepel, tempat nongkrong mahasiswa Komunikasi di bawah pohon Kepel, ramai. Sebagian adik angkatan thethek sambil nunggu jam kuliah berikutnya. Ada juga teman se-angkatan yang makin jarang kelihatan di kampus. selesai diskusi dengan satu teman, datang teman yang lain untuk diskusi rencana skripsinya.

Kowe kok menclok ning endi-endi to am? kabeh kok mbok bribik?! (kamu kok nimbrung di mana-mana am? Semua kok kamu rayu?!),” tiba-tiba David nyeletuk karena melihatku begitu eksis di Kepel.

Aku diam sejenak lalu menjawab, “Lha mereka tanya kan aku cuma bantu jawab.”

Lalu Lola menyahut, “Ni’am kan everybody’s best friend” sambil merangkul tangan kiriku.

“Dia sama siapa aja, ga ada yang cemburu. Pacarku biasa aja kalo aku bilang lagi sama Ni’am” Lanjutnya.

Aku hanya diam.

Diam-diam aku coba memahami kalimat every body’s best friend tadi. Jika benar begitu, berarti aku patut bersyukur ada teman-teman yang menganggapku sebagai best friend. Tapi di sisi lain, jika aku adalah best friend semua orang, lalu siapa yang paling best friend. Gimana tuh?! bukankah itu artinya semuanya sama saja. sama baiknya. Tak ada yang spesial.

Itu pula yang membuatku bingung tiap kali butuh bantuan. Aku bingung siapa temen yang paling dekat, tak keberatan kumintai tolong. Aku sensitif terhadap penolakan. karenanya aku sangat jarang meminta bantuan.

I am alone, after all!

Meskipun aku mungkin punya banyak teman. banyak teman yang sudah kubantu. banyak pula yang menganggapku teman baiknya. tapi pada akhirnya, aku tetap merasa sendiri. ya, bahwa manusia pada dasarnya terlahir dan akan meninggal sebagai seorang yang sendiri. Kita mempertanggungjawabkan segala amal kita secara personal, sendirian.

Termasuk perjalanan ke Madura kali ini juga sendiri. Oiya, perjalananku kali ini sebenarnya adalah dalam rangka penelitian RRI yang dikerjakan PKMBP. Aku ditugaskan RRI Sumenep selama 3 hari. Aku sendiri yang memilih ke Madura. Aku pernah dengar cerita di keluargaku, bahwa pada masa mudanya bapakku, dia pernah ke Batuampar Madura untuk khataman qur’an. Mitosnya, barang siapa yang berhasil mengkhatamkan baca al-quran dalam sekali majlis di makam Batuampar dijamin segala hajatnya dikabulkan. Aku ingin napak tilas pengalaman bapakku. lagipula saat itu aku di tengah kebimbangan urusan skripsi.

Jadilah tugas penelitianku ini sekaligus kujadikan perjalanan spiritual. layaknya tiap perjalanan spiritual, ia selalu bersifat personal. perjalanan spiritual hakekatnya perjalanan personal. perjalanan menemukan diri yang sejati. tak ada yang bisa menemani. sebagaimana nabi muhammad harus melangkah sendiri di altar sidratul muntaha. Malaikat Jibril tak berani mengiringi karena itu bukan wilayahnya. wilayah privasi antara makhluk dan kholiqnya.

I am alone, after all!

Ya akhirnya aku memutuskan untuk tak meminta bantuan siapapun. Aku akan melangkahkan kaki ditemani bisikan-bisikan dalam hati. Berharap menemukan Diri yang tersembunyi.

 

Kota Sejuta Romansa, 3 Mei 2010 ditulis pada 16 Mei 2013

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

2 thoughts on “@31HariMenulis | I am alone, after all.”

  1. Sudah baca dari kemarin tapi baru bisa mampir hari ini. Semalem sempet kepikiran, “you are everybody’s best friend. As bestfriend, I believe most of us will be glad to give u ride… But then I remember the -Aku sensitif terhadap penolakan- part. Then it will be hard for me to convince u to ask someone on your mind to give u a ride.”

    *Kapan muleh pakde?*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s