Pak Sujarno dan Persaudaraan Orang-Orang Sholat | @31HariMenulis


Kereta memasuki kota Surabaya ketika hari mulai gelap. Aku segera mengeluarkan biskuit Togo dan Sebotol Pocari yang kubeli di Jogja sebagai syarat pembatal puasa. Tentu saja perutku masih lapar. Aku membayangkan warung-warung makan begitu keluar dari stasiun Gubeng nantinya.

Pukul 08.05 kereta Mutiara Selatan merapat di stasiun Gubeng Surabaya. Tukang ojek dan supir taksi menyambutku di depan pintu keluar peron. Aku memilih untuk keluar dari stasiun, berharap ada angkutan jurusan terminal bis Purabaya. tapi ternyata tak satu angkot pun lewat.

Aku menyusuri jalan. Kulihat masjid Al-Ittihad di seberang jalan. Aku bergegas ke sana. Di mulut gang di samping masjid, seorang tukang becak sudah kemulan sarung dan leyeh-leyeh di atas becaknya. Lampu masjid sebagian sudah padam di bagian dalam. Jamaah sudah bubar. hanya ada satu dua musafir. Segera kutunaikan sholat isya dan maghrib secara jamak qashr. Tuhan sudah memberi keringanan, sungkan kalo nolak.

Selesai sholat aku  menuju warung makan dan memesan ayam goreng, di warung Lamongan. Selama makan aku mengamati jalan raya. kalau-kalau ada kendaraan umum lewat yang bisa mengantarku sampai terminal. tapi ternyata tidak ada.

Setelah makan, aku kembali ke jalan. menghampiri tukang becak di ujung gang depan masjid.

“Pak, nyuwun sewu badhe tanglet (permisi mau tanya), kalau mau ke terminal bis dari sini naik apa ya?”

“Wah kalau jam segini ya udah ga ada angkot.”

“gitu ya pak? trus kalo mau ke sana pripun?”

“paling naik ojek. ayo saya antar.”

“naik becak?”

“ya nggak, soalnya jauh. nanti saya ambil motor.”

“kalo ojek, ongkosnya berapa pak?

“yaa dua lima ribu”

“waah kok mahal pak”

“emang segitu mas. jauh dari sini”

“lima belas ribu ya pak”

“ga bisa mas. emang tarifnya segitu mas. dua lima”

“ya udah deh saya kasih dua puluh”

“wah belum bisa mas. jaraknya jauh dari sini. sekitar 8-10 kilo”

“dua puluh lah pak, saya mau ke madura ini. udah malam gini.” aku masih menawar.

Kemudian bapak tukang becak itu terdiam sejenak.

“Ya sudah lah mas. sebenarnya tetep belum bisa. tapi karena tadi saya lihat mas sholat di masjid, saya antar deh. Kepada orang yang tidak ninggal sholat, bagi saya pantang menawar. karena mas saya anggap saudara.”

gantian aku yang bengong.

“Mas tunggu di sini dulu, saya ambil motor dulu di rumah. deket masjid situ kok.”

Tak berapa lama aku sudah berada di atas motor. Baru ku tahu memang cukup jauh jarak dari stasiun Gubeng ke terminal Purabaya. Aku penasaran dengan alasan bapak tadi menerima tawaranku.

“Namanya siapa pak?”

“Sujarno”

“Bapak ini tukang becak apa tukang ojek sebenernya?”

“Ya dua-duanya mas. gantian. kadang mbecak, kadang ngojek. Saya itu ya jadi merbot (orang yang menjaga dan membersihkan mushola/masjid seperti Bang Jack di serial Para Pencari Tuhan).”

“Ooh…” aku hanya bisa bilang begitu.

“kalo waktunya sholat saya yang adzan. setelah itu narik becak ato ngojek lagi.” lanjut pak Sujarno.

Aku tak bisa menahan rasa ingin tahuku,

“Pak, tadi kan saya nawar di bawah standar, kok bapak tetep mau nganter?”

“saya itu hormat sama orang yang meskipun sedang perjalanan jauh tetap tidak ninggal sholat. tadi saya lihat mas-nya keluar dari stasiun trus sholat ke masjid.”

“emang kenapa pak?”

“Saya itu punya pengalaman. Dulu saya itu sering ninggal sholat. Saya Islam tapi jarang ibadah, saya minum dan judi. Suatu ketika saya sakit sampai tidak bisa bangun. ketika saya sakit, saya pernah bermimpi melihat akhirat dan melihat bagaimana saya di sana.”

“Mimpi melihat akhirat?!”

“Iya, waktu itu saya kurang percaya. Ah paling itu hanya mimpi. lama-kelamaan saya sembuh. terus lupa sama mimpi itu. Sampai beberapa tahun saya sholatnya masih bolong-bolong sampai jarang sholat lagi. tiba-tiba saya jatuh sakit lagi. waktu sakit itu saya bermimpi lagi melihat akhirat, melihat malaikat.” suara Pak Sujarno kabur kanginan di antara deru kendaraan lainnya.

“Saya langsung bangun dan sejak saat itu saya benar-benar percaya kalau akhirat itu ada. sampai sekarang saya insyaallah tidak meninggalkan sholat satu kali pun.”

Aku terdiam. ada yang sedang berbisik di hati. bahwa aku merasakan persaudaraan tanpa ikatan darah atau perkawinan. Aku baru pertama kali bertemu pak Sujarno. tapi dia bisa dengan enteng menerima tawaranku yang di bawah standar harga ojek hanya karena dia melihatku sholat. betapa orang-orang yang sholat sesungguhnya bersaudara. persaudaraan orang-orang yang sholat.

Akhirnya kami tiba di depan pintu masuk terminal. aku langsung mengambil dua lembar uang warna hijau dan ungu. kuulurkan ke tangan pak Sujarno,

“Matur nuwun pak. Doakan semoga saya sukses”

*catatan perjalanan Jogja-Madura, 3 Mei 2010. Ditulis di Solo 17 Mei 2013 menjelang kapak Bang Wiro melayang.

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

2 thoughts on “Pak Sujarno dan Persaudaraan Orang-Orang Sholat | @31HariMenulis”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s