Anggap Saja Begitu | Hari Ke-6 @31HariMenulis


Rupanya, ngilunya hatiku 2 hari yg lalu

adalah isyarat kehilangan rasa darimu.

Mungkin karena kau tahu aku mulai mau denganmu,

nilaiku turun di matamu.

 

Aku percaya pepatah “patah tumbuh hilang berganti”.

Tapi bukan berarti tiap ada yg lebih baik, selalu pindah ke lain hati.

Kau meninggalkanku tepat ketika kubuka hatiku, untukmu.

Katamu, kau tak melihat masa depan denganku.

 

Jangan buru buru kau hakimi masa kini.

Kita tak tahu rahasia masa depan yang disiapkan penguasa waktu untuk kita jalani.

Karena batas antara cintamu dan Cintaku adalah waktu.

Kau ingin buru-buru. Aku minta nanti dulu.

 

Pertanyaanku, “Bilakah cintamu cintaku lebih sabar dari waktu

ataukah menyerah pada kuasa waktu?

Karena melalui waktu, Tuhan menyapihku dari cinta-cinta yang jemu lagi semu.

 

Padaku kau bertanya-tanya,

“Inikah karma? Akulah petaka bagi orang-orang yg kucinta?!”

Jawabku, “Tahu apa kau tentang karma?!

Engkau adalah cinta yg belum matang sempurna”

 

Karma adalah pelajaran tentang perjalanan rasa

yang dialami semua manusia.

Semua sama! Hanya urutan dan detil ceritanya beda.

“Rasa?! Kupikir menjadi orang perasa dan menuruti rasa

adalah percuma dan buang2 waktu saja,” balasmu tak kalah seru.

 

Di situlah intinya!

(Bukankah) bercinta adalah perbuatan yang paling buang buang waktu saja?!

Orang rela semalaman bercumbu.

Padahal hanya butuh sebelas menit, kata Maria dari Copacabana, untuk tubuh menyatu.

 

Cinta bukan sekadar status atau padatan.

Tidak hanya soal iya atau tidak, hitam atau putih, terima atau tolak.

Cari tahu dulu turangga dan pranata-nya.

Pelajari, pahami dulu konteks yg meliputi keduanya.

Jika pun harus “iya”, kau akan menjalaninya dengan penuh KESADARAN.

Kalaupun yg terjadi adalah “tidak” kau akan menjalaninya dg penuh KESABARAN.

Cinta adalah segala sesuatu yang mengantarkanmu pada Tuhan.

Pada kebenaran, pada kebaikan, dan pada keindahan.

 

Aku merasakan kehadiran Tuhan di detik terakhir kau memandangku, kemudian berlalu.

Meskipun kau tak lagi mau, biarlah aku merindumu semampuku.

Dan hujan ini adalah ribuan restu semesta atas rinduku padamu.

 

Kota Sejuta Romansa, 20 Mei 2013

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

5 thoughts on “Anggap Saja Begitu | Hari Ke-6 @31HariMenulis”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s