@31HariMenulis | What They Don’t Talk About When They Talk About Reformasi #Mei98


Hari ini harian Detik Pagi memuat wawancara dengan Emha atau lebih akrab disebut Cak Nun seputar Reformasi. Intinya Cak mengatakan, bahkan menjadi judul tulisan, “Reformasi Tidak Hanya Gagal”. Cak Nun sendiri adalah salah satu orang yang pada beberapa hari sebelum dan sesudah tanggal 21 Mei 1998 (ketika Suharto menyatakan pengunduran dirinya) berada di episentrum perubahan. Cak Nun memang hampir tidak pernah terlihat sedang orasi di depan para demonstran baik di Jogja maupun di Jakarta menuntut Suharto. Oleh karena itu ia hampir-hampir tak terekam kiprahnya di media massa. Memang benar, ia memilih untuk tidak terlihat paling depan di barisan para demonstran, dalam beberapa liputan malah ia diberitakan sedang intens menjalin hubungan dengan keluarga Cendana, tapi perannya sangat krusial dalam mengawal perubahan Indonesia.
Jika kita mencari berita tentang siapa-siapa tokoh yang berperan dalam reformasi, jawaban yang muncul sebagian besar adalah Dr. Nur Cholish Majid dan Amien Rais, dan tentu saja para mahasiswa sang agen perubahan. Sangat jarang yang menyinggung peran Cak Nun. Dalam berita, ia hanya pelengkap pendapat saja, tapi pendapatnya tak benar-benar diperhatikan. Ia sendiri menyebut dirinya lalat di antara 9 orang yang diundang Presiden Suharto waktu itu untuk dimintai pendapat sebagai tokoh masyarakat.

Tentang peranan Cak Nun seputar reformasi pertama kali saya dengar sendiri dari penuturan Cak Nun pada acara Mocopat Syafaat tiap tanggal 17. Cerita itu memantik rasa ingin tahu saya untuk menelusuri rekam berita media pada tanggal-tanggal krusial mulai awal tanggal 8 – 27 Mei 1998. Di Koran Kompas dan Republika hanya sedikit sekali. Ketika itu Cak Nun menceritakan kronologi ikhtiar yang dilakukan baik secara spiritual melalui wirid hizb nashor bersama jamaah maiyah Padhang Mbulan maupun secara taktis strategis dan langsung tepat di pusat sasaran reformasi. Namun wacana yang berkembang di media massa kemudian adalah bahwa Cak Nun pengkhianat reformasi, antek Suharto, dan menerima sejumlah harta dari Cendana.

Tulisan ini tidak bermaksud mengunggul-unggulkan Cak Nun. Memang saya nge-fans sama beliau tapi itu juga tidak membuat saya jadi Cak Nun-sentris. Di sini saya ingin menghormati, menempatkan, dan menceritakan beliau sebagaimana yang seharusnya. Bahwa Cak Nun, diam-diam, memang ditugasi Allah sebagai penjaga dan ‘pengawal’ tiap perubahan besar di nusantara sebagaimana peran Sunan Kalijaga, biarlah banyak orang yang tidak tahu.

Berikut ini adalah kronologi terjadinya reformasi versi Cak Nun. Anggap saja kita bisa punya pintu kemana saja-nya doraemon dan nginthil Cak Nun dari tanggal 11 – 21 Mei 1998
11 Mei : Cak Nun mengawali pengajian Padhang Mbulan di rumah asalnya di Menturo Jombang dengan kalimat “Pak Harto sekarang sudah tidak punya waktu lagi. Bulan ini juga ia harus mengembalikan kekuasaan kepada rakyat…” setelah itu Cak Nun mengajak jamaah untuk berdoa massal dan meminta ibundanya memimpin pembacaan Hizib Nashr. Bersama-sama mereka meminta kepada Allah salah satu dari 2 opsi untuk Suharto. Apakah Suharto melunak hatinya dan menjauhkan diri dari kekuasaan dunia yang begitu menguasainya atau hancur sekalian seluruh sejarahnya. Dari dokumen-dokumen wawancara dengan Cak Nun, sejak lama ketika Orde Baru masih jaya-jayanya dalam suatu kesempatan pengajian, Cak Nun mengajak jamaah untuk mendoakan Presiden Suharto semoga berakhir dengan khusnul khotimah.

12 Mei : Terjadi kerusuhan di Jakarta yang menyebabkan 4 mahasiswa Universitas Trisakti tewas kena tembakan aparat

14 Mei: Terjadi penjarahan toko oleh rakyat di pusat pertokoan. Muncul sentimen etnis Cina. Kerusuhan dan penjarahan pertokoan ini terjadi di beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, dan Surakarta. Ada kecemasan kerusuhan ini akan meluas.
Cak Nun dan Mbak Novia sudah berada di Jakarta karena memang waktu itu tinggal di Jakarta (Kelapa Gading?)

15 – 16 Mei: Kerusuhan semakin menjadi-jadi. Mahasiswa dan massa demonstrasi semakin berani. Sementara aparat keamanan mulai tidak kompak. (menurut cerita kakak ipar saya, mahasiswa IAIN SUKA Jogja, waktu itu beredar isu bahwa Jogja target kerusuhan berikutnya. Banyak preman dari luar kereta mulai datang ke jogja numpang kereta api.)

17 Mei: Cak Nun berkoordinasi dengan Brotoseno (sekarang komandan SAR DIY) agar menggagas Pisowanan Ageng, forum terbuka rakyat bersama Sultan HB X sebagai dukungan moral bagi reformasi dan mencegah kerusuhan terjadi.

Di Jakarta, Dr Nur Cholish Majid dan Cak Nun bertemu di hotel Regent membicarakan tentang kemungkinan-kemungkinan untuk membuat Suharto mau turun. Semua percaya bahwa tiada jalan lain, Suharto harus turun. Hanya saja bagaimana caranya agar Suharto mau turun tanpa menimbulkan kekacauan yang lebih parah. Lalu mereka mengajak kawan yang lain yaitu Malik Fadjar, Oetomo Danandjaya, dan S. Drajat untuk rapat kecil. Akhirnya disepakati 4 opsi yang bisa dipilih Suharto untuk turun. Lalu mereka sepakat untuk mengadakan konferensi pers keesokan harinya.

18 Mei: Kelima orang tersebut mengadakan konferensi pers di Hotel Wisata tentang permintaan agar Suharto bersedia turun dengan 4 opsi skenario. Secara resmi tawaran tersebut disampaikan melalui Mensesneg Saadillah Mursyid. Malamnya pihak istana menghubungi Cak Nur, intinya Suharto bersedia turun asal didampingi Cak Nur dan Cak Nun bagaimana baiknya. Sekaligus juga mengundang kelima tokoh penggagas ditambah 4 orang lagi tokoh masyarakat sehingga berjumlah Sembilan. Dalam tim 9 itu tidak ada Amien Rais, yang waktu itu dikenal sebagai, tokoh paling vocal soal reformasi dan meminta Suharto turun. Rupanya ini memang disengaja, meskipun kepada media mereka seolah mbodoni, karena Amien Rais adalah macan-nya reformasi sementara Suharto adalah macan orde baru. Kalo macan ketemu macan jadinya malah pertarungan.

19 Mei: Tim 9 bertemu dengan Suharto di Istana. Pertemuan terjadi selama kurang lebih 2,5 jam. Sebenarnya dalam pertemuan ini tidak ada deal-deal tertentu tentang turunnya Suharto. Karena pada dasarnya Suharto sudah berniat untuk madheg pandhito lalu lengser keprabon. Lima menit sebelum masuk ruang Jepara di Istana Negara, Cak Nun mengajak Cak Nur untuk membuat kesepakatan di antara mereka berdua. Bahwa setelah ini, mereka berdua berjanji untuk tidak menjabat apapun jika terjadi perubahan kekuasaan. Bahkan tidak boleh ada yang ikut menjadi anggota Komite Reformasi jika nantinya disetujui untuk dibentuk.

20 Mei: Pisowanan Ageng berhasil dilaksanakan di Yogyakarta. Berbagai tokoh masyarakat, seniman, akademisi, tukang parkir, pedagang, dan ribuan rakyat kumpul. Saat itu Butet Kertarajasa menyampaikan orasi budaya dan menyinggung Cak Nun sebagai pekathik (tukang urus kuda istana)-nya Suharto. Mungkin ini jadi salah satu sebab mengapa hubungan mereka agak kurang mesra sampai sekarang. Padahal tahun 1980an keduanya aktif bersama di Teater Dinasti.

Di Jakarta sendiri tim 5 berunding lagi. Kalau Suharto sudah turun, lalu siapa yang pantas menggantinya? Menurut undang-undang, jika presiden tidak bisa menjalankan tugasnya lagi otomatis wakilnya yang naik, yaitu Habibie. Sementara habibie adalah bagian dari orde baru juga. Akhirnya tim 5 memutuskan untuk mengeluarkan statement bahwa kalau terjadi suksesi, Habibie sebagai pengganti presiden tidak boleh dibiarkan menerima cek kosong reformasi. Dia harus menjalankan agenda reformasi. Untuk itulah diusulkan agar ada Komite Reformasi yang tugasnya menyiapkan segala yang diperlukan selama masa transisi.

Malamnya kelima tokoh tersebut berencana mengumumkan hasil kesepakatan di depan media nasional maupun internasional. Acara itu bertempat di rumah Malik Fadjar. Rencananya nanti Cak Nun akan memberi pengantar lalu dilanjutkan pembacaan statement oleh Cak Nur. Lalu kelima orang itu tanda tangan. Di tengah jalan dari rumah menuju ruang pertemuan, ada Amin Rais datang. Dia mengajak ngobrol sebentar dengan Cak Nur sementara ke empat lainnya meneruskan jalan untuk menyiapkan ruang.
Selang berapa menit, Cak Nur masuk dan langsung membacakan statement. Sempat ada beberapa kesalahan baca hingga harus diulangi. Yang lebih mengejutkan lagi, setelah kalimat terakhir dibaca Cak Nur, “tertanda Nur Cholish Majid dan Amien Rais”

Lalu Amin Rais juga mendapatkan kesempatan bicara padahal tidak ada dalam rencana, “Saya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah saya mengadakan jumpa pers ini kecuali saya mengajak Saudara-saudara semua … marilah kita bersyukur kepada Allah karena sekali lagi kita akan memasuki babakan baru dalam sejarah modern Indonesia ini, yaitu mengucapkan selamat tinggal kepada pemerintahan yang lama dan menyambut datangnya pemerintahan yang baru,” demikian pernyataan Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah Amien Rais yang didampingi cendekiawan Nurcholish Madjid pada hari Kamis (21/5) dini hari.

Menurut pengakuan Cak Nun sampai detik ia tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Amin Rais kepada Cak Nur sehingga membuat Cak Nur mengambil keputusan untuk mengubah redaksinya. Di tempat duduknya, Cak Nun hanya bisa saling bersitatap kebingungan dengan Malik Fadjar. Sejak saat itulah Cak Nun memutuskan untuk segera angkat kaki dari segala urusan reformasi. Di depan media ia mengatakan reformasi ini tidak jujur. Pada bulan-bulan berikutnya Cak Nun memilih pulang ke rumah sejatinya bersama rakyat. Berkeliling Indonesia mengajak rakyat bershalawat hingga sekarang.

21 Mei: Pukul 09.00 WIB Presiden Suharto menyatakan mengundurkan diri dari jabatan presiden. Rakyat bersorak, dan Suharto-suharto kecil bersiap berebut kursi.

*catatan: masih banyak yang ingin saya tulis. Berhubung sebentar lagi Kapak bang Wiro melayang. Mending segera ku setor dulu aja. Reformasi? Ah Tai!

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s