Rezim Award | @31HariMenulis


Syahdan, di jagad timeline santer kicauan tentang rencana pemberian penghargaan kepada SBYudhoyono oleh Appeal of Conscience Foundation. Penghargaan ini diberikan kepada orang yang dianggap telah berjasa mengembangkan toleransi kehidupan beragama.

What?!

Iya, toleransi beragama!

What the Fuck!

Mengembangkan toleransi beragama tai kucing! kita sendiri melihat tayangan di televisi dan surat kabar bagaimana fanatisme kembali merebak di tanah air. Bagaimana FPI wa ala alihi menghalangi orang kristen beribadah di gerejanya sendiri. Bagaimana FPI mengepung penganut ahmadiyah di masjid mereka sendiri. juga bagaimana kaum syiah di Madura harus terusir dari rumah-rumah mereka sendiri. Atas semua kejadian itu apa yang dilakukan SBY? Ga ada. bahkan sekedar mengucapkan prihatin aja susah.

Atas kejanggalan dan ketidaksesuaian kenyataan dengan alasan penghargaan, Romo Magnis secara terbuka membuat surat keberatannya. Surat keberatan itu dikirimkan juga kepada panitia pemberi award ACF. Buya Syafii Maarif pun sepakat dengan keberatan Romo Magnis. tentu saja para aktivis sosial, HAM, atau sekedar warga yang melek saja pasti setuju dengan pendapat Romo.

Meskipun begitu ada juga orang yang begitu pekok membela SBY. Adalah Dipo Alam, sekretaris kabinet, yang pasang badan untuk SBY. menurut pendapatnya, SBY tidak pernah meminta untuk diberi award. kalau ada pihak lain yang mau memberi ya silakan. menurutnya lagi, pendapat Romo Magnis itu hanya karena Romo melihat kasus tersebut hanya dari televisi. kemudian, masih menurut Dipo, pemikiran Romo terlalu dangkal dalam menilai SBY.

Lalu apa sikap SBY? Ga ada!

Entah karena dia ga tahu atau pura-pura ga tahu. kadang aku berpikir kalo SBY ini sungguh merupakan bukti kepekokan yang nyata!

Presiden satu ini benar-benar merupakan ujian bagi bangsa Indonesia. SBY memang diutus oleh Tuhan untuk jadi orang yang tidak bisa dipercaya oleh rakyatnya. itu semua demi kemandirian bangsa.

Nah omong-omong soal award dan sebangsanya, sekarang ini memang kita hidup di rezim award, kuasa sertifikasi, haus pengakuan. idealnya, orang melakukan sesuatu dan menunjukkan kemampuannnya di bidang tertentu baru kemudian diakui atau diberi penghargaan atas kemampuan dia oleh orang lain. tapi sekarang penghargaan itu bisa diminta. penghargaan adalah barang dagangan. Manusia modern tak lagi percaya pada dirinya sendiri. Manusia modern butuh pengakuan dari luar. kebutuhan atas pengakuan ini menunjukkan betapa manusia sekarang terasing dari dirinya sendiri. tak kenal siapa sebenarnya dirinya sehingga harus diyakinkan oleh pihak di luar dirinya tentang siapa dan apa yang sudah diperbuatnya..

Saya pernah dengar cerita begini. Pada tahun 2003 UGM memberikan penghargaan kepada Jakob Oetama sebagai doktor honoris causa di bidang komunikasi. Jakob dianggap telah berjasa menyajikan jurnalisme damai dan berhasil membuka wawasan tentang pers modern, profesional, dan nonpartisan. Dalam sambutan sekaligus pidatonya Pak Jakob dikabarkan begitu terharu sehingga matanya berkaca-kaca.

Selang beberapa waktu kemudian, sebuah proposal dari UGM datang ke kantor Pak Jakob. nominalnya kurang lebih 1 milyar. Menceloslah hati Pak Jakob. Ia baru sadar kalau gelar honoris causa tak gratis. peraih gelar honoris causa harus bersedia memberi honor kepada pemberinya.

Baru-baru ini dalam sebuah rapat persiapan konferensi ilmiah tingkat internasional, ada pembicaraan tentang sponsorsip acara tersebut. Pemimpin rapat berkata, “ini sebenernya perusahan X mau ngasih 100 juta, tapi imbalannya kita sebagai panitia memberikan award untuk perusahaan tersebut. tapi ya gimana, masak ngasih 100 juta aja minta award. trus award sebagai apa? kalau dia ngasih banyak mungkin bisa kita pertimbangkan”

Dyar!!

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s