Mungkinkah Kau Tak Benar-Benar Menginginkan Bahagia?! | @31HariMenulis


Dalam buku Self Discipline in 10 Days: How to Go From Thinking to Doing disebutkan bahwa salah satu penyebab kegagalan adalah fear success (takut berhasil). Iya, takut berhasil. Mungkin kamu mau menyanggah, “Mana ada orang yang nggak mau berhasil? Mana ada orang tidak mau hidup bahagia?!” Di alam pikiran sadar memang tidak ada manusia yang tidak ingin berhasil. Tapi dalam alam bawah sadar, nanti dulu.

Manusia memang makhluk paradoks. Selalu melakukan apa yang tidak ingin dilakukan dan selalu tidak melakukan untuk apa-apa yang diucapkan. Padahal jelas-jelas kaburo maqtan (kemarahan besar) dari Tuhan jika kita mengatakan apa yang tidak kita kerjakan. Perasaan takut berhasil ini biasanya diawali dengan self-talk negatif tentang diri sendiri, “Mungkin aku tidak pantas mendapatkan ini,” atau “dia terlalu baik untukku.”

Perasaan semacam ini bukan tiba-tiba muncul. Bukan pula warisan genetis. Kadang kita mengatakan pada diri kita sendiri bahwa kita tidak pantas merasa senang atau puas yang berasal dari usaha kita sendiri. Kita merasa unworthy, tidak layak, karena pengalaman, pikiran-pikiran, maupun tindakan kita di masa lalu atau masa sekarang. Perasaan unworthy ini biasanya berkaitan dengan sering tidak terpenuhinya harapan terhadap orang lain (mulai dari keluarga, kekasih, atau teman). Kadang orang lain mengungkapkan kekecewaannya karena kita tidak seperti yang mereka harapkan. Tapi yang lebih sering adalah kita kecewa karena mereka (keluarga, kekasih, atau teman) tak seperti yang kita harapkan. Pengalaman-pengalaman seperti itu yang lama-lama membuat kita merasa tak berharga.

Pernahkah kamu begitu menginginkan sesuatu dan bingung mengapa susah sekali mendapatkannya? Bisa jadi karena kamu takut berhasil. Takut bahagia. Tak ada dalam referensi pengalamanmu tentang keberhasilan itu.

Mungkin kamu sangat ingin merasakan bahagia, dicintai oleh orang yang juga kamu cintai. Tapi ketika sosok yang pernah kamu bayang-bayangkan itu hadir di depanmu dan menyatakan cintanya padamu, bisa jadi justru kamu menolaknya. Mungkin dalam pengalaman relasimu yang lalu-lalu, kebahagiaan belum sempat singgah di hatimu. Pengalaman cintamu selalu menghadiahimu kecewa dan luka.

Seringkali besarnya rasa cintamu pada manusia menerbangkan harapmu setinggi angkasa. Lalu menghempaskanmu secara tiba-tiba. Begitu seterusnya. Betapa seringnya kamu mengalami luka dalam cinta-cintamu yang lama, begitu dalamnya luka yang kau rasa karena mencinta, sehingga secara tak sadar membatu di gua alam bawah sadarmu. Terbentuklah prasasti di alam bawah sadarmu yang disitu tertulis “Cinta adalah Luka”.

Lalu kau mulai meyakini bahwa tiada cinta selain luka. Itulah mengapa kau selalu mengulang cerita tentang luka dalam tiap percintaanmu. Karena kamu merasa kamu ada, cintamu ada ketika kau terluka. Lama-lama menikmati luka, mencari-cari luka dengan menjalin relasi yang tak cukup satu saja. Kau tabrak norma. Kau tutup mata, hati, dan telinga. Kau mencipta luka, padamu atau pada yang lainnya. Kau tak kenal jenis cinta yang sederhana namun bahagia. Kau bingung bagaimana menyikapi cinta yang menawarkan bahagia. Saat itulah kau kehilangan percaya, pada Cinta yang sesungguhnya. Dan seberat-berat hidup adalah hidup tanpa ada sesuatu pun untuk dipercaya.

Di sini aku masih menanti kau sambut tanganku. Bersama, kita jalani cinta dengan cara yang tak sama.

Aku hanya lelaki biasa. cintaku pun sederhana. Semoga itu cukup sebagai bekal kita merasa bahagia sampai di surga.

 

Kota Sejuta Romansa, satu jam sebelum pulang ke Jepara, 25 Mei 2013

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s