Hujan, Jangan Menangis! | @31HariMenulis


Hujan sore itu lebat sekali. Petir kulihat makentar-kentar  di langit selatan Jogja. Sementara gemuruhnya kudengar sampai di Jogja utara. Seketika aku mencari perlindungan di ceruk hatiku. Tahukah kamu bahwa alam semesta di luar tubuh kita adalah cerminan dari semesta di dalam diri kita? Semesta raya berbahasa sama kepada semua manusia, tetapi maknanya bisa berbeda-beda sesuai dengan kondisi kita.

Hatiku membadai sore itu. Senja kehilangan sinarnya. Tertutup awan gelap pekat. Ia yang kucinta memintaku untuk tak lagi berharap padanya. Tak ada lagi tempatku di hatinya. Aku ingin teriak tapi tak bisa. Rupanya semesta mewakilinya.

Hujan, tolong jangan menangisiku berlebihan.
Aku tahu kau berusaha menunjukkan empati atas apa yang terjadi pada hatiku malam ini.
Aku hanya pulang, bukan pergi meninggalkan.

Sejak dari Jogja hingga Ambarawa tangisan semesta tak juga reda. Terbata-bata hatiku kembali kutata. Mungkin ini karma, persimpangan jalan takdir kita, atau jangan-jangan ini hanya peristiwa depolarisasi hati biasa.

Sebagai lelaki Jawa, aku punya kemampuan merekayasa batin untuk merasionalisasi, dengan menyematkan makna pada, tiap kecewa dan luka yang kuterima. Kemampuan rekayasa batin itu yang membuatku mampu bertahan, tetap mengumbar senyuman, bahkan menertawakan penderitaan. Tapi betapapun canggihnya rekayasa batin yang kupunya, itu tak bisa mengubah kenyataan bahwa dalam hidupmu, aku tak lagi bermakna.

Tahukah kamu apa yang paling membuat sedih seorang lelaki? Begitu sedihnya hingga merasa kematian adalah sesuatu yang sangat dirindunya? Tak ada yang lebih menyedihkan bagi lelaki melebihi sedihnya menjadi orang yang tak lagi bermakna, tak ada guna, dan tak bisa berbuat apa-apa bagi perempuan yang dicintainya.

“Jalani saja pilihanmu. Tak usah kau risaukan hati dan perasaanku. Biarlah Allah sendiri yang mem-pukpuk pundakku dan mengusap-usap kepalaku.”

Di Ujung Utara Pulau Jawa, 26 Mei 2013

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s