Menjadi Manusia Jazz | @31HariMenulis


Sabtu (25/5) aku dan gunawan berencana pulang dan mampir ke Gambang Syafaat. Berangkat dari Jogja Jam 17.30 diiringi hujan deras sepanjang jalan. Pukul 21.30 kuparkir Si Meggy di pelataran masjid Baiturrahman Semarang. Aku dan satu temanku langsung mencari di mana kiranya panggung Gambang Syafaat berada. Ternyata ada di sebelah selatan masjid. Orang-orang sudah duduk berdatangan di atas hamparan karpet dan terpal.

Berhubung sejak pagi belum makan nasi, aku mengajak Gunboi untuk cari makan di sekitar Simpang Lima. Di trotoar depan masjid ada warung nasi kucing. Di atas mejanya tersaji banyak nasi berbungkus kertas coklat dengan berbagai pilihan rasa, teri, ayam pedas, ayam lombok ijo, rames, dll. Segera kupesan dua gelas susu jahe panas sambil kubuka bungkus nasi kucing yang pertama. Dua bungkus nasi, empat tempe mendoan, segelas susu jahe panas cukup sebagai bekalku menikmati Gambang Jazz sampai pagi.

Kami berdua kembali ke lokasi dan langsung menempati ruang kosong di depan panggung sebelah kiri. Di panggung tiga pengantar agak canggung menjelaskan hubungan antara Jazz, improvisasi, dan petani. Mereka terlihat seperti bicara sendiri. Sementara penonton diam tak mengerti.

Sekitar pukul 23.00 Cak Nun, Mas Beben, mbak Inna Kamarie, beberapa pemusik Jazz Ngisor Ringin naik ke panggung. Pak EH masih memandu Tanya jawab antara peserta dengan beberapa narasumber. Gerimis mulai menitis dari langit. Lama-lama menjadi hujan. Jamaah gusar. Sebagian menyingkir mencari perlindungan. Panitia segera tanggap dengan membuka backdrop panggung dan mempersilakan jamaah pindah ke serambi masjid. Sementara sebagian jamaah beramai-ramai mengusung tenda ke depan panggung sebagai tempat berlindung.

Seperti biasa Cak Nun meminta jamaah untuk mengkhalifahi keadaan. Jangan sampai kita memarahi hujan karena beranggapan kedatangan hujan mengganggu kemesraan. Hujan adalah hal (peristiwa atau kondisi) yang disiapkan oleh Tuhan untuk menunjukkan tingkat kedewasaan kita dalam menghadapi kenyataan. Lalu Cak Nun mengumandangkan adzan.

Malam ini tema Gambang Syafaat adalah Jazz. Sebagaimana yang telah dilakukan di forum-forum Maiyah, Cak Nun mengajak Mas Beben dan istrinya keliling daerah. Menyapa dan memperkenalkan Jazz pada jamaah Maiyah.

Sebelum bertemu Mas Beben, aku berpandangan bahwa Jazz adalah jenis musik yang elit. Tiket konsernya selalu mahal. Pendengarnya dari orang-orang gedongan. Dari musiknya sendiri terlalu rumit untuk didengarkan. Apalagi ketika penyanyinya bersyubidu-syubidu menirukan bunyi alat musik. Dulu aku tak pernah paham.

Musik Jazz aslinya berasal dari Swahili, suatu daerah di Afrika Barat. Jazz masuk ke daratan Amerika bersamaan dengan gelombang kedatangan penduduk Afrika sebagai tenaga kerja, yang kemudian menjadi perbudakan. Kedatangan tenaga kerja dari Swahili tentu tidak hanya badan fisik mereka saja tetapi juga budaya. Orang afrika memiliki kebiasaan untuk menyanyi sambil bekerja. Alat-alat yang digunakan pun sederhana. Menyanyikannya seringkali bersahutbalas antar kelompok pekerja di ladang/tambang yang berbeda. Liriknya pun sederhana. Biasanya bercerita tentang hidup keseharian mereka.

Secara istilah Jazz mengalami beberapa perubahan. Ada yang menyebutkan asal kata Jazz adalah bahasa slang dari kata Jasm yang berarti spirit, semangat, energi. Kata Jasm sendiri merupakan turunan dari kata Jism yang berarti spirit atau energi. Pada kesempatan lain, Jism atau jasm bisa diartikan sebagai semen atau sperma. Mungkin pada waktu itu istilah nge-jazz mirip juga dengan istilah ngencuk sekarang.😀 penulisan kata Jazz juga beberapa kali mengalami perubahan dari kata aslinya Jasm antara lain Jazz, Jaz, Jass, Jas, atau bahkan Jasz.

Setelah memainkan 2-3 lagu dengan irama jazz Mas Beben menjelaskan bahwa dalam musik Jazz ada setidaknya 4 unsur untuk mengenalinya.

  1. Swing feel. Perasaan mengayun. Mendayu-dayu.
  2. Blue note, sentuhan blues atau biasa disebut juga Sad tone.
  3. Syncopation, menempatkan penekanan atau aksentuasi tidak pada tempat yang sewajarnya.
  4. Improvisasi, dalam Jazz satu lagu tak pernah sama jika dimainkan untuk kedua kalinya.

Jazz adalah lambang kebebasan. Setiap pemain bebas mengekspresikan dirinya, melalui permainan musiknya tentu saja, tanpa menegasikan keberadaan pemain lainnya. Awalnya aku menduga, ini jangan-jangan bisanya Cak Nun saja untuk membesarkan hati Mas Beben.

Pernah suatu ketika kutanyakan pada Diwa, seorang teman yang biasa nyanyi di JazzMbenSenen, “Menurutmu musik jazz itu apa?”

Ia diam sejenak, lalu menjawab, “Bebas. Jazz kuwi maen musik sak karepmu. Opo wae iso.”

Musik Jazz hanyalah satu dari sekian output dalam kehidupan jazz. Secara lebih luas, jazz adalah suatu sikap hidup dengan prinsip-prinsip sebagaimana yang umum disepakati sebagai unsur musik jazz. Unsur musik jazz, sebagai prinsip, adalah kristalisasi pengalaman budaya yang mengiringi sejarah music jazz.

Manusia jazz adalah manusia yang senantiasa mencari apa yang tidak dicari banyak orang. Melihat apa yang tak terlihat oleh mata awam. Yaitu yang berfokus pada ruang di sela titik-titik air hujan. Ruang yang sebenarnya luas tapi tak disadari keberadaannya karena manusia berfokus pada air hujan. Manusia Jazz selalu melihat peluang dari tiap kesulitan.

Jazz adalah tarekat. Tarekat adalah jalan. Jalan mencari keindahan. Jalan menuju kemulyaan. Sebagai tarekat, manusia Jazz harus menguasai syariat. Seorang gitaris dalam permainan jazz harus paham betul syariatnya gitar. Bagian mana yang harus dipetik atau ditekan untuk menghasilkan nada yang diinginkan. Seorang hakim memang harus hafal dan menguasai pasal-pasal, tapi ketika ia mengadili perkara ia tidak harus menggunakan pasal. Karena hakim, sebagai manifestasi hukum, berhak menciptakan pasal-pasal baru yang belum ada di kitab undang-undang. Dengan penguasaan pasal-pasal, seorang hakim harus berorientasi keadilan bukan malah terpenjara oleh pasal-pasal itu sendiri.

Manusia Jazz adalah manusia yang  tak terpaku pada pasal-pasal, petunjuk manual, atau buku teoritis yang tebal. Bukan berarti mereka tak mau belajar. Justru karena mereka sadar, kehidupan dan berbagai kemungkinan interaksi di dalamnya terlalu banyak untuk diatur dalam aturan-aturan. Untuk itulah diperlukan kemampuan improvisasi yang kaya dan spontan.

Jazz adalah tentang kemauan mendengarkan. Rata-rata pemain jazz memiliki daya konsentrasi dan kepekaan yang tinggi. Setiap pemain harus mendengarkan dan memperhatikan pemain lainnya. Seringkali vokalis bertindak sebagai pengatur harmoni. Ia menentukan kapan gitar harus menonjolkan diri, kapan musik harus berhenti. Begitu pula dalam hidup. Begitu banyak persoalan terjadi hanya karena ada pihak yang tidak tulus mendengarkan atau maunya hanya didengarkan. Padahal Allah selalu menyebut dirinya Sami’an (mahamendengar) dulu baru Bashiiron (mahamelihat). Itu artinya kita sebagai manusia perlu lebih banyak mendengar. Kemampuan mendengar ini yang akan menentukan banyak sedikitnya ilmu yang kita dapatkan dari kehidupan.

Kita tak harus bermain musik jazz untuk menjadi manusia Jazz. Kita bisa nge-Jazz di mana saja. Kita harus bisa nge-Jazz di tempat kerja. Kita harus nge-Jazz dalam bergaul dengan masyarakat yang sedemikian rupa. Di tengah-tengah fanatisme, kekerasan, dan hobi menyalahkan, kita harus mampu memainkan peranan. Menjadi ruang di sela hujan. Memperluas hati untuk menerima segala perbedaan.

Kira-kira pukul 03.00 dini hari, acara mencapai puncaknya. setelah ditutup dengan doa, jamaah mulai berdiri untuk bersalaman dengan para pengisi acara. Aku pun ikut berbaris antri bersalaman dengan Mas Beben, Mbak Inna, Pak EH, Pak Saratri, Pak Ilyas, Pak Totok, dan Cak Nun. Ketika sampai bersalaman dengan Cak Nun, ternyata doi menyebut namaku. itu merupakan kebahagiaan yang tak terkirakan. Dari sekian puluh ribu jamaah maiyah, sesekali dilirik saja aku sudah senang. Bolehlah sekali ini aku GR. Bagiku ini adalah hadiah dari Tuhan atas kesedihan yang kurasakan karena ditinggal perempuan (bagian ini sengaja dibuat dramatis hehe). Seketika mengalun dalam hatiku penggalan lirik Jalan Sunyi,

Kalau memang tak sedia engkau menatap wajahku

Biarlah para kekasih rahasia Allah yang mengusap-usap kepalaku

 

 

Ditulis di Jepara yang dilanda mendung tak berkesudahan, 27 Mei 2013

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

2 thoughts on “Menjadi Manusia Jazz | @31HariMenulis”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s