Madura Mission | @31HariMenulis


Aku segera bergegas menuju pemberhentian bus jurusan Surabaya – Sumenep. Ini merupakan perjalananku pertama ke Sumenep dengan naik bus, sendirian. Aku tak mau bermalam di terminal gara-gara ketinggalan bus. Untunglah bus jurusan Sumenep tersedia tiap jam. Aku segera naik ke dalam bus yang sudah penuh.

Jam 8 malam, bus meninggalkan terminal Purabaya. Perjalanan selama kurang lebih 6 jam kumanfaatkan untuk tidur saja. aku sampai sumenep sekitar pukul 1 dini hari, turun di terminal yang mulai sepi. ada beberapa Cak becak mangkal. aku langsung pilih salah satu dan minta diantar menuju hotel di tengah kota. hotel atau lebih tepatnya losmen ini untungnya masih mau menerima tamu di pagi buta. aku minta list harga kamar. tanpa berpikir panjang kupilih yang paling tinggi kelasnya dengan rata kurang lebih 150 ribu per malam. Jangan bayangkan bentuk dan fasilitas kamarnya.

setelah mandi dan ganti sarung, aku keluar kamar. berharap masih ada warung makan buka. Di pintu samping hotel ternyata ada penjual sate ayam. ku beli seporsi. malam itu aku baru tahu kalau ternyata di Sumenep aku tidak pernah sekalipun menjumpai penjual sate dengan tulisan Sate Madura. Ya iyalah kan aku ada di Madura. Setelah perut kenyang, aku kembali ke kamar dan istirahat dengan tenang.

4 Mei 2010

Pagi ini agendaku adalah ke kantor RRI Sumenep. Meminta ijin bertemu dengan pak Kepsta (kepala stasiun) terkait pengambilan data di lingkup pegawai RRI Sumenep. bagian ini tidak menarik untuk diceritakan. jadi kusingkat saja ya. singkat kata, urusan kerjaan hari pertama selesai.

Aku kembali ke penginapan dengan naik becak. oiya perlu diketahui di Sumenep ini, transportasi yang umum ada adalah becak. Tidak ada angkutan dalam kota alias angkot. tarif becak di Sumenep menurutku lumayan bersahabat. kemana-mana jauh dekat 5000 rupiah, kecuali jauh banget. kalau jauh banget, dikasih 10-15 ribu udah senang Cak becaknya.

Setelah menaruh tas punggung di kamar, aku memutuskan jalan-jalan keliling kota. literally jalan kaki. Ada beberapa beberapa tempat yang kukunjungi selama di Sumenep.

1. Masjid Sumenep.

Masjid ini terletak di pusat kota. terlihat mewah dengan paduan warna putih dan kuning emas. Sebelum memasuki kompleks masjid, kita akan melewati bangunan gerbang yang terbuat dari tembok.

2. Museum

Dari masjid agung Sumenep aku jalan ke arah timur. melewati alun-alun yang lebih mirip taman kota. Museum ini terdiri dari 2 bagian bangunan. bangunan pertama terletak di sebelah selatan jalan. Dalam bangunan ini ada kereta kencana, quran raksasa, beberapa perabot kerajaan jaman dulu yang ornamennya mengingatkan pada kerajaan inggris.

Bagian bangunan berikutnya ada di seberang jalan. satu kompleks dengan rumah dinas bupati Sumenep yang sepertinya mantan istana kerajaan. Dalam bagian ini terdapat miniatur peralatan mata pencaharian seperti perahu, karapan, peralatan nelayan. ada juga peralatan perang seperti baju zirah yang sudah berkarat, carok alias arit, pecut dan lain sebagainya.

3. Rumah Bupati (kompleks mantan istana?)

Yang menjadi ciri bahwa kompleks rumah bupati ini dulunya istana kerajaan adalah adanya tempat mandi para putri dengan sebutan Taman Sare (kalau di Jawa disebut Taman Sari).

Sebelum masuk ke kompleks rumah bupati ini ada pintu gapura yang disebut sebagai Labeng Mesem (Pintu Tersenyum). Memang digerbang tersebut ada ornamen raksasa yang sedang tersenyum/tertawa.

4. Kompleks Makam raja-raja di Astana Tinggi

Selanjutnya aku menuju ke Astana Tinggi. Ini merupakan kompleks makam raja-raja kerajaan Soengenep tempo dulu. ketika baru sampai di lokasi memasuki gerbang, suasananya mirip tempat ziarah para wali songo. jamaah datang berduyun-duyun atau sendirian. aku masuk ke dalam kompleks makam. ada beberapa bangunan yang ternyata adalah makam. bangunan itu menurutku sangat mirip dengan gereja blenduk di Semarang. entah apakah ada hubungan antara kerajaan Sumenep masa lalu dengan pemerintah kolonial Belanda hingga peninggalan budayanya ada kemiripan.

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

2 thoughts on “Madura Mission | @31HariMenulis”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s