Menuju Batuampar | @31HariMenulis


Rabu, 5 Mei 2013

Hari ini urusanku dengan RRI Sumenep selesai. Jam 10 aku berangkat ke kantor untuk mengambil kuesioner yang sudah terisi sekalian pamitan dengan Pak Kepsta. 

Sekitar jam 12 aku baru bisa keluar dari kantor RRI Sumenep. Nyegat tukang becak dan minta diantar ke terminal bis. Di tengah jalan mas becaknya minta tolong aku untuk mencatat sebuah nomer telpon, hapenya lowbat katanya.

“Itu nomer pacar saya” katanya menjelaskan sembari mengayuh pedal becaknya.

Sampai di terminal lama Sumenep, aku mencari informasi tentang angkutan yang bisa membawaku ke Batuampar Pamekasan. menurut informasi, aku harus menunggu minibus yang lewat di depan pasar. Hari sudah beranjak sore ketika akhirnya aku mendapatkan minibus menuju Batuampar. 

Jarak Sumenep dan Pamekasan tidaklah terlalu jauh. Keduanya berbatasan langsung. perjalanan naik bis kurang lebih satu jam lamanya. Ongkosnya 7 ribu. Di dalam bis aku tak berani tidur karena takut kesasar atau kebablasan. berkali-kali aku tanya kepada penumpang di sebelah di mana aku harus turun.

Memasuki kabupaten Pamekasan aku bilang ke kenek, “saya turun Gadin ya.”

Dari Gadin aku disarankan untuk naik becak menuju suatu perempatan besar yang merupakan jalur ke Batuampar. 

Dari perempatan itu pilihannya ada 2, naik mobil carry omprengan atau ngojek. Jarak Batuampar dari pusat kota Pamekasan lumayan jauh kira-kira 7-10 kilometer. Aku memilih naik omprengan dengan biaya 20 ribu. Hal unik yang kuperhatikan selama perjalanan naik ompreng adalah rupanya di sini sopir omprengan biasa merangkap jadi kurir dagang bagi pelanggannya. 

Sekitar jam 5 sore akhirnya aku sampai di pelataran makam Syekh Syamsuddin Batuampar. Sama seperti kompleks pemakaman para wali, Batuampar terlihat ramai baik oleh peziarah maupun pedagang suvenir.

Aku segera menemui juru kunci makam, kang Dadan namanya. Ia berasal dari jawa barat tetapi sedang berkhidmah di Batuampar. kuutarakan maksudku untuk menginap barang 1-2 hari untuk khataman. Rupanya Kang Dadan sudah mafhum, karena memang bukan aku saja musafir di sini. Kang Dadan memintaku mengisi buku tamu dan melapor jika hendak pamit pulang nanti. 

“Saya harus mengisi kas berapa kang?” tanyaku sungkan. 

“Tidak ada aturan baku harus infak berapa. Silakan disesuaikan dengan bekal mas. Yang penting ikhlas,” jawabnya menjelaskan.

Setelah itu ia menyodorkan kunci padaku.

“Ini kunci kotak untuk menyimpan barang-barangmu”

“makasih kang!”

Aku segera beranjak dari sekretariat juru kunci. Bergegas aku mandi. Sebentar lagi maghrib dan konser* sehari semalam akan segera digelar.

 

Catatan:
*konser adalah istilah dalam keluargaku untuk menyebutkan kegiatan khataman qur’an dari juz pertama sampai akhir dalam satu waktu.

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s