Merasakan Rasa | @31HariMenulis


Sampai menjelang kepulangan aku masih merasa masih belum menemukan ‘rasa’. Rasa yang kumaksud agak susah digambarkan. Semacam rasa haru, dekat, dan didengar olehNya. Bahkan setelah di saat aku telah berhasil mengkhatamkan 30 juz dalam 24 jam terakhir perasaanku biasa-biasa saja.

“anta ta’lam kaifa haaliy, faghfirliy warhamniy”

(Engkau lebih tahu bagaimana kondisiku, maka ampuni dan kasihanilah hamba)

Sebelum datang ke sini, makam syekh Syamsuddin Batuampar, kuniatkan khataman ini sebagai riyadloh (laku spiritual) untuk meminta 3 hal. hanya tiga saja:

1. Hafalan Qur’anku lanyah (lancar) kembali

2. Skripsiku cepat selesai lalu wisuda.

3. Mati muda.

Begitu sampai di sini dan berhasil menyelesaikan tantangan yang menjadi mitos di makam ini, barang siapa berhasil mengkhatamkan qur’an satu majlis di sini kemudian berdoa niscaya dikabulkan, ada semacam perasaan “mumpung di sini. di makam wali di mana segala hajat mungkin lebih didengar Tuhan.”

Hatiku membuncah. Mongkok. Diikuti jutaan keinginan yang berkelebatan dalam angan: ingin punya banyak harta, dimudahkan urusan cinta, diterima kerja di mana, sampai-sampai aku lancang mendikte Tuhan siapa wanita yang ingin kujadikan pasangan.

Aku serakah. Aku kalap akan ‘barokah’.

Astagfirullaaah…!

Rupanya ini yang menghalangiku merasakan rasa. Di tempat yang seharusnya aku hanya mengingatNya, mendekat pada-Nya, dan hanya boleh ada Dia, aku masih disibukkan dengan keinginan dunia.

Bukankah Allah lebih tahu apa yang kubutuhkan?! Kenapa tidak kubiarkan Dia memberikan apa yang terbaik bagiku di mata-Nya?! Bukankah selalu kubaca dalam doa “Ilahi anta maqshudiy wa ridloka mathlubiy

(Ilahi, Engkaulah tujuanku dan (hanya) ridlo-Mu yang kupinta)

Bukankah selama ini Dia yang selama ini kuinginkan, kenapa masih saja nikmat dunia yang kepikiran?!

Hatiku tersentak. Mataku terasa hangat. Ada air menggenang di pelupuknya. Aku tak sanggup untuk terus menulis. Baru tiga kata pertama tiba-tiba hatiku menyuruhku segera bersila.

“Berhentilah berfikir. Rasakan saja!” bentaknya.

Sejenak kubiarkan diri hanyut. Kuucap syukur atas hati yang hudlur. Setelah ‘rasa’ ini berlalu, mata juga tak lagi sendu, kulanjutkan tulisan ini. Sementara orang-orang di sekitarku serempak mengucap kalimat istighfar berulang kali.

Astaghfirullah li abi wa ummi… (Aku memohon ampun kepada Allah untuk ayah ibuku)

Batuampar, Jumat 7 Mei 2010

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

2 thoughts on “Merasakan Rasa | @31HariMenulis”

  1. u know Nick, I’m longing for that feeling for so long…
    *opo mergo aku terlalu sibuk karo urusan ‘dunia’?*

    aku rasa aku manut wae “Berhentilah berfikir. Rasakan saja!”.
    lupa rasanya merasa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s