Catatan untuk (Calon) Da’i Muda Kampus | @31HariMenulis


Pagi tadi saya dipercaya untuk berbagi ilmu kepada calon Da’i Muda Kampus pada kegiatan Pembinaan Da’i Muda Kampus: Optimalisasi Potensi Mahasiswa untuk Pemberdayaan Masyarakat. Acara ini digagas oleh jurusan Sastra Asia Barat FIB UGM dengan mengundang beberapa aktivis mushola atau lembaga dakwah kampus di berbagai fakultas. Utamanya adalah mereka yang akan mengikuti program KKN bulan depan.

Biasanya dalam KKN, mahasiswa harus menjadi mahasiswa multitalenta dan serbabisa. Masyarakat tidak mau tahu apa jurusan kuliah kita, apa yang kita pelajari di kampus. Masyarakat hanya tahu mahasiswa adalah orang pinter. Mahasiswa KKN adalah sumber daya yang harus dimanfaatkan. Termasuk urusan ceramah atau kultum. Paling minim, jadi guru TPA bagi anak-anak kampung. Padahal tidak semua mahasiswa ngajinya lancar.

Saya kebagian materi pertama yaitu public speaking. Bu Zulfa beberapa hari sebelumnya berpesan khusus agar materinya dirancang sedemikian rupa sehingga peserta jadi semangat dan betah. Sebenarnya juga karena di antara para pemateri lainnya, saya mungkin yang paling muda makanya diplekotho.*seniorselalubenar

Di sini saya tidak akan menceritakan materi presentasi saya. Bila rekan-rekan menginginkan sila pelajari atau unduh di sini. Saya hanya akan membahas sedikit dari sesi tanya jawab. Ada beberapa pertanyaan yang menurut saya menarik untuk dibahas.

  1. Kadang yang namanya penceramah bisa juga salah yang kemudian membuat masyarakat kurang respek pada pembicara. Bagaimana memperbaiki kesalahan tersebut?
  2. Sebagai Da’i, kita dituntut atau setidaknya diharapkan bisa memberikan pengetahuan tentang agama.
  3. Bagaimana jika kita blank (mendadak lupa materi) di tengah-tengah kita ceramah? Padahal kita tidak bisa sembarangan dalam menyampaikan masalah keagamaan.
  4. Bolehkah kita mendoktrin masyarakat tentang suatu ajaran?

Jawaban dari pertanyaan pertama. Langkah pertama memperbaiki kesalahan adalah mengakui adanya kesalahan. Jika kita sebagai pembicara tidak mau mengakui bahwa ada yang salah dalam penyampaian kita, jamaah pun akan kehilangan respeknya pada kita. Kalaupun misalnya kita tahu bahwa pandangan kita lebih benar dari pandangan orang awam, tetaplah minta maaf dengan mengatakan mungkin CARA kita menyampaikan sesuatu itu yang salah. Tidak ada salahnya kita bersikap merendah kepada jamaah. Lagipula orang yang meminta maaf belum tentu dialah pihak yang bersalah.

Untuk jawaban pertanyaan kedua, kita harus cermat dan adil dalam melihat segala sesuatu sesuai porsinya. Agama tidak hanya berupa dalil, ayat, atau hadist saja. Agama juga bukan melulu soal ibadah formal berupa sholat, zakat, wirid, dan lain sebagainya. Apakah menurutmu bicara tentang mesin produksi tidak berhubungan dengan agama? Apakah bicara tentang kebersihan, gotong royong, menjaga kebersihan, merawat kerukunan dan toleransi antarwarga bukan merupakan bagian dari agama?

Agama adalah jalan hidup dan cara kita menyikapi segala sesuatu. Kita menyingkirkan batu dari tengah jalan yang berpotensi membahayakan pengguna jalan yang lain itu bisa bermakna spiritual. Kita kampanye go green, merawat lingkungan itu juga bagian dari misi kekhalifahan manusia untuk merawat/mengolah alam semesta. Bahkan kita menggalang dukungan untuk merawat kucing liar, anjing kurap di jalanan itu juga bisa dimaknai secara agama. Bukankah pernah ada seorang pelacur yang masuk surga gara-gara mendahulukan jatah minumnya untuk anjing yang ia temui di pinggir sumur. Ia ambil air dengan selop sepatunya lalu diminumkan ke anjing tersebut. Setelah itu ia meninggal dunia tanpa sempat minum untuk dirinya sendiri..

Jadi, jika kita tidak hafal ayat quran atau hadist, tidak perlu minder. Kalau memang tidak PD dengan bacaan arab kita ya ga usah pakai bahasa arab. Kita bukan penutur bahasa Arab kok. Dalil itu tidak hanya yang tersurat tetapi juga yang tersirat. Begitu banyak ayat yang tersirat dalam hamparan semesta, gunakan saja. Jika tiba-tiba blank, tidak ingat ayat singkat yang sudah kita hafal, ya sudah ga usah dipaksa. Bicara saja dengan bahasa sehari-hari.  Bicaralah tentang topik atau fenomena masyarakat sehari-hari tetapi dengan kesadaran bahwa itu kita kerangkai dalam konteks ajaran agama.

Kemudian soal doktrin, lho kita ini siapa? Buat apa mereka didoktrin?

Kita bisa berangkat dari nama acara ini yaitu pembinaan Dai Muda. Anda semua ini dianggap sebagai calon Da’i. Dai itu dari bahasa apa? Artinya apa? Dai itu dari bahasa arab. Akar katanya adalah Da’ayad’u artinya menyeru, memanggil, atau mengajak. Pelakunya disebut Da’i. Dari istilah bahasanya saja Da’i tidaklah tepat jika melakukan doktrinasi. Cobalah kita setia pada makna dari kata-kata yang kita gunakan. Kalau mengaku da’i tugas kita, tanggung jawab kita ya sebatas MENGAJAK bukan menyuruh, memerintah, apalagi memaksa orang lain untuk mengikuti kebenaran yang kita yakini. Seorang da’i memang harus yakin dalam menyampaikan kebenaran, tetapi juga perlu dilengkapi dengan sikap rendah hati.

Allahu a’lam bisshawab

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

2 thoughts on “Catatan untuk (Calon) Da’i Muda Kampus | @31HariMenulis”

    1. saya sudah pernah nulis tentang pengalaman survival di papua kok. insyaallah masih ada catatan perjalanan 2 minggu di Nusa Tenggara Timur. Saya akan tulis lain waktu, insyaallah.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s