#SurvivalSkill 1: WC Sejuta Umat | @31HariMenulis


Ceritanya seharian ini saya nyaris 24 jam ga mandi. Sejak kemarin pompa air di kontrakan tidak berfungsi. Mesinnya nyala tapi tak ada air yang dibawa. Terpaksa deh menggunakan bakat survival yang terpendam.

Mungkin kalau sekadar tidak mandi berhari-hari itu biasa. Masih ada yang seminggu mandi sekali. Yang bikin tidak betah adalah menahan pipis dan BAB. Mungkin juga kalau kondisinya di suatu desa yang masih alami dan memiliki sungai yang jernih, kita bisa menuntaskan hajat di sungai. Kalau kondisinya di perkotaan ramai, dijamin susah mencari fasilitas alami untuk menyembuhkan HIV (Hasrat Ingin Vivis). Berikut ini beberapa tips survival menghadapi kondisi sulit air.

1. Perbanyak persediaan tissue
Selalu sedia tissue, baik tisu kering atau basah. Tissue kering bisa kita gunakan untuk bersuci setelah pipis. Meskipun tidak bisa untuk menghilangkan bau pesing yang ditinggalkan. Sedangkan tissue basah njagani buat yang tidak bisa menggunakan WC kering. Namanya cebok ya harus basah, tissue basah setidaknya bisa ngayemke ati. Tissue basah juga bisa kita gunakan untuk mandi darurat. Ketika masa aktif mandi kita sudah habis. Bau badan sudah tak bisa ditahan lagi. ‘Mandilah’ pakai tisu basah dengan cara sibin, mengusap seluruh anggota badan dengan tisu/sapu tangan basah.

2. Baik-baiklah dengan tetangga dekat
Di dalam ajaran agama bab bertetangga, kita dianjurkan untuk mendahulukan jaar dzil qurba (tetangga dekat) dari pada shohibi bil janbi (saudara jauh. Artinya jika kita ingin berbagi rejeki tetapi jumlahnya terbatas, dahulukan tetangga terdekat dulu baru yang masih ada hubungan saudara tetapi jauh secara fisik. Ternyata ada benarnya anjuran itu. Alasannya tetangga terdekatmu itu yang berpotensi untuk menolongmu pertama kali ketika kamu butuh bantuan. Ketika air di kontrakanmu habis, sementara kamu sudah sangat kebelet pipis, ya numpang di WC tetangga adalah solusinya.

3. Lakukan pemetaan mushola/masjid, pom bensin, atau terminal terdekat
Bukan pengembara atau backpacker namanya kalau tidak peka terhadap keberadaan WC milik sejuta umat. Yang termasuk kategori WC sejuta umat antara lain mushola/masjid, pom bensin, dan terminal. Di sana kita bisa numpang pipis atau BAB kapan saja. Biasanya tiap kali buang hajat, kita ditarik uang kebersihan barang seribu dua ribu. Sebenarnya itu fasilitas umum dan gratis, tapi seringkali ada oknum petugas kebersihan yang ngetem di pintu keluar WC. Jadi pengguna akan otomatis merasa tidak enak kalau tidak ngasih uang. Kalau mau gratis ya di masjid. meskipun sebaiknya kita tetap nyemplungi kotak infak. Masjid bagi kalangan pejalan malah lebih identik dengan tempat mampir pipis dari pada tempat sholat.

Seperti yang saya lakukan semalam, saya menunggu 30 menit setelah jamaah isya’ bubar, saya pergi ke masjid Uswatun Hasanah di jalan Kaliurang km 6. Sebenarnya di sekitar masjid merupakan asrama mahasiswa, tetapi malam tadi lumayan sepi. Jadi saya bisa leluasa mandi dan cuci CD dua biji. hehe

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

6 thoughts on “#SurvivalSkill 1: WC Sejuta Umat | @31HariMenulis”

  1. Kalo pom bensin dari dulu sudah jadi andalan.. Tapi lagi iki ngerti nek mushola/masjid itu wc sejuta umat juga to pakde? Aku rada sungkan tiap meh mampir masjid/mushola nek kebelet. Tapi nek Masjid Agung iseh wani…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s