Sengkuni 2: Master of Negativisme | @31HariMenulis


watch your thoughtsBentuk muka Sengkuni yang kedua adalah negativisme. Kerjaannya melihat sisi negatif dari segala sesuatu. Memang agak mirip dengan wajah Sengkuni pertama yaitu nyinyirisme, tetapi sebenarnya beda. Kalau Nyinyir-isme itu melihat cacat untuk menyacat, melihat cela untuk mencela, sedangkan negativisme  adalah cara pandang terhadap segala sesuatu dari sudut negatifnya untuk pertimbangan diri sendiri. Ibarat memakai kacamata 3D, kalau ‘lensa’nya berwarna merah maka segala sesuatu yang kita lihat akan kelihatan merah. Begitu juga negativism, ia ibarat kacamata yang kita pakai. Ketika menggunakannya, semua hal akan kelihatan negatifnya. Contoh dari penggunaan negativism ini adalah seperti melihat rembulan di malam hari. Orang dengan kacamata negativism akan fokus pada sisi gelap dari rembulan, sementara ada bagian permukaan bulan yang terang benderang.

Salah satu jurus andalan dari Sengkuni adalah dengan menyodorkan sisi-sisi negatif baik dari pengalaman maupun baru sekadar bayangan. Perhatikan saja, tiap kali kita semangat untuk menyusun rencana dan impian hidup yang baik, Sengkuni akan langsung mengingatkan kita segala sesuatu yang tidak mengenakkan dari orang, tempat, atau proses yang harus kita hadapi untuk menjadi lebih baik. Jika sudah begitu maka pikiran kita akan mengembara membayangkan betapa susahnya menjalani kehidupan sebagai orang dewasa, betapa sulitnya membuat keputusan untuk diri kita sendiri, kenapa tidak orang lain saja yang memilihkan untuk kita, atau bisa nggak sih kita jadi anak-anak terus yang tidak harus mikir besok pakai baju apa, besok pergi ke mana. Ujung-ujungnya, sadar atau tidak, kita akan mengucapkan “mengapa semua ini terjadi padaku?” atau “why is everything so complicated?!”

Ya pada kenyataannya memang hidup itu amat sangat rumit sekali. mengapa orang seperti SBY bisa jadi presiden? Mengapa Fathanah dan LHI yang tidak ganteng itu bisa menjadi PK tapi beberapa kadernya tetap saja ngotot membelanya? Sementara banyak jomblo bertebaran makin putus asa sehingga memilih jadi Si Won KW 27. Mengapa orang brengsek bisa tobat kapan saja dan dipuja-puja, sementara si Tasib mati-matian belajar agama dari kecil tetap saja tiap ngomong agama diketawain pendengarnya. Mengapa harus ada global warming, mengapa harus ada perang, mengapa harus ada Konspirasi Wahyudi, Protokol Zion, atau Remason. dan seterusnya. kalo kata Sheila on 7, “mengapa ada sang hitam, bila putih menyenangkan?!”

Selalu saja ada cara untuk mencela. Jika kita memilih untuk memikirkan sisi negatif, itu artinya separuh pekerjaan Sengkuni selesai. Dia bisa leha-leha sambil ketawa melihat kebingungan kita. Karena begitu satu pikiran sudah ada di kepala, otak kita akan mencari dan mengundang pikiran-pikiran sejenis. Ingat law of attraction (hukum tarik menarik)? begitulah otak kita bekerja. makanya hati-hati dengan apa yang kita pikirkan karena ia bisa mengundang temen-temennya untuk datang. Otak tidak membedakan apakah itu pikiran negatif atau positif. ia hanya patuh pada perintahmu. Apapun yang kamu pikirkan, otakmu akan langsung menyusun argumen dan mencarikan bukti yang menguatkan argumenmu, sampai akhirnya pikiran alam bawah sadarmu akan mempercayainya. kalau dalam istilah psikologi ada yang namanya self-fulfilling prophecy, bahwa manusia cenderung lebih menyukai fakta atau alasan yang akan membuktikan persepsi awal yang diyakininya. Makanya orang yang lebih berpengalaman mengatakan “you are what you think you are.”

Memang kadangkala hidup kita terasa begitu mengenaskan. Kadang kita merasa serajin apapun kita berusaha, hasilnya ya gitu-gitu aja. Kadang kita sibuk ikut les bahasa Inggris di lembaga A, B, C, sampai Z tetapi skor TOEFL kita segitu-gitu aja. Kadang kita berusaha lahir batin menjadi orang yang pantas dijadikan pasangan, rajin olah raga biar badan kelihatan seksi, rajin baca buku motibasi motivasi biar kelihatan bijaksana, tapi tetap saja dari 10 kali nembak 10 kali pula ditolak. Itu semua menjadi pengalaman negatif yang seringkali menghantui kita tiap kali mau mencoba lagi.

Jika kamu belum menemukan solusi atas masalahmu bukan berarti tidak ada solusinya. banyaknya kesulitan dalam hidupmu bukan berarti tidak ada kemudahan sama sekali. Jika kekecewaan yang selama ini kamu temui dan alami bukan berarti tidak ada kebahagiaan sama sekali. Jika ada orang buta hanya dapat mengenali gajah dari ekornya, bukan berarti gajah adalah ekor saja. Seringkali orang membatasi kenyataan hanya berdasarkan apa yang ia ketahui dan alami saja.

Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi pada kita. tapi kita bisa mengubah cara kita memandangnya. Dan aku memilih jalan bahagia. Dengan cara mencari yang terbaik dari seburuk-buruknya keadaan dan tidak usah mencari-cari keburukan dari sesuatu yang baik lagi menyenangkan.

Terakhir ada sebuah ungkapan dari Lao Tse yang kira-kira begini terjemahannya.

Perhatikan apa yang kamu pikirkan, karena itu memengaruhi ucapanmu

Perhatikan ucapanmu, karena itu memengaruhi tindakanmu

perhatikan tindakanmu, karena itu akan menjadi kebiasaanmu

perhatikan kebiasaanmu, karena itu akan menjadi watakmu

perhatikan karaktermu, karena itu akan menentukan nasibmu

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

2 thoughts on “Sengkuni 2: Master of Negativisme | @31HariMenulis”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s