Sengkuni Ketiga: Pesimis | @31HariMenulis


Semburat jingga membuat senja terlihat begitu cantiknya. Dua orang masih berada di ruang kerja di lantai lima sebuah perguruan tinggi. Satunya sekretaris jurusan, satunya hanya tenaga magang. Mungkin karena waktu itu jam kantor sudah usai, mereka bisa ngobrol dengan cair.

“Betah kerja di sini?”

“Ya lumayan. Dibetah-betahin Mas”

“Kok gitu?”

“Ya gimana ya? kalau dari sisi kerjaan, saya merasa cocok. tapi kalau dari orangnya, dari sistemnya agak kurang sreg. Tapi bisa maklum kok, di mana-mana pasti ada intrik.”

“Maksudmu?”

“Maksud saya, selama saya magang di sini saya melihat sebenarnya individu-individu di jurusan ini adalah orang hebat. Namun sayangnya mereka hebat untuk diri mereka sendiri. Selain itu tak ada budaya mengapresiasi. Itu yang membuat banyak orang merasa harus berjuang sendiri, menjadi hebat sendiri, dan tidak memiliki keinginan untuk berkontribusi pada institusi ini.

Saya membayangkan seandainya mereka mau bersinergi pasti perusahaan ini akan makin maju. Saya jadi berandai-andai jika saya nanti bisa bekerja di sini, saya ingin mengubah itu. mengajak semua pihak yang terlibat untuk bersama-sama membangun jurusan sebagai sebuah lembaga yang terhormat dan pantas dibanggakan. Saya ingin membuat jurusan kita ini bukan sekadar tempat mereka bekerja dan mendapatkan uang, tetapi juga tempat mereka berkreasi dan beraktualisasi. Memang tak akan mudah, tapi bukan tak mungkin diwujudkan.”

“Begitu ya?! Saya bisa memahami impianmu itu. Dulu waktu saya pertama kali masuk sini juga punya banyak impian seperti kamu. Segala usaha dan inisiatif untuk perbaikan sudah pernah aku jalankan. Tetapi waktu terus berjalan dan aku baru sadar, aku tak kuasa melawan sistem dan dosa warisan yang sudah terlanjur berurat mengakar.”

Sorot mata tenaga magang itu pun perlahan surut. Semangat mudanya untuk berkontribusi dan membuat calon tempat kerjanya menjadi perusahaan yang nyaman bagi pekerjanya sedikit meredup. Ia tak lagi antuasias. Satu persatu Ia mulai melihat realitas dan menerima kemungkinan bahwa perusahaan ini bukanlah tempat yang benar-benar ia impikan. Ia menghadapi Sengkuni dalam bentuk yang ketiga, PESIMIS.

Pesimis atau defeatist adalah suatu keyakinan, sikap, dan perilaku yang selalu menerima kekalahan, bahkan sangat yakin pasti kalah, pasti salah. Terkadang orang beralasan, “aku bukannya pesimis, tapi aku harus realistis.” Kalimat itu seringkali menjadi apologi seorang untuk tidak berusaha lebih giat. memang lebih mudah untuk tidak mencoba sesuatu yang baru. Kita tidak perlu bersusah payah belajar lebih rajin, menghafal lebih banyak, bekerja lebih giat.

Seringkali pesimis tidak muncul begitu saja. perasaan insecure (merasa tidak aman) dan low self-esteem (rendah diri) seringkali menjadi katalisator bagi tumbuhnya virus-virus pecundang dalam jiwa. Sengkuni seringkali membisikkan kalimat-kalimat seperti, “ini terlalu susah untukmu,” atau “emang kamu bisa? jangan coba-coba deh!” Pada kesempatan lain pesimis juga datang dengan menyusupkan rasa sombong di hati kita. Misalnya ketika kita diajari oleh orang yang lebih muda. Intinya, Sengkuni melalui rasa pesimis ini akan meyakinkan kita bahwa masalahnya terletak pada diri kita. Bahwa semua saran-saran motibasi motivasi mungkin berlaku untuk banyak orang, tetapi tidak mempan untuk kita karena kita anomali.

Penawar dari racun pesimisme ini adalah dengan menumbuhkan kepercayaan pada diri sendiri. Pasti ada yang bertanya bagaimana cara meningkatkan rasa percaya diri, sementara tak ada yang bisa dibanggakan dari diri ini? Jawabnya, banyak-banyaklah bersyukur. Syukuri segala yang sudah kita alami.

Kita adalah bibit unggul. kita terlahir untuk sukses. Kita adalah satu sel dari ribuan hingga jutaan sel sperma yang berhasil membuahi sel telur. Selama 9 bulan 10 hari kita kuat bertahan dalam kegelapan perut ibu. Kita masih tetap bertahan hidup hingga sekarang, sementara tidak sedikit bayi-bayi, anak-anak lain yang meninggal karena penyakit, karena kurang gizi, atau apapun saja. Belum lagi bonus-bonus keberhasilan seperti menjadi juara kelas. Setiap kita adalah juara dari tantangan hidup yang berbeda-beda. Maka nikmat dari Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?!

Kita adalah juara kehidupan dan kita harus percaya bahwa kita juara. Setelah kita mencoba mengajak hati kita bicara, cobalah untuk mulai percaya pada apa yang dikatakannya. Hati adalah simbol rumah Tuhan dalam dirimu. Dari sanalah Tuhan membisikkan suara, petunjuk, ide, atau ilham-Nya padamu. Jika pada hatimu sendiri kamu tak mau percaya, kepada siapa lagi kau akan percaya?!

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

2 thoughts on “Sengkuni Ketiga: Pesimis | @31HariMenulis”

  1. ia gus, dlu wakto q kul filsafat pancasila jga d ajari ito, suara hati adlh suara Tuhan, makay kalo qt brbuat slah pzti ad rsa menyesal d hati, hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s