[anggap saja sebuah apresiasi lagu] Di Kota Ini Tak Ada Kamu Lagi


Malam ini aku mencicipdengar lagu baru dari Jalan Pulang, kelompok musik keren di Jogja (saya kenal mas vokalisnya, sekali lagi saya kenal vokalisnya. buat para

Art Work by: Timoteus "Dalijo" Kusno
Art Work by: Timoteus “Dalijo” Kusno

cewek, mas vokalis gantengnya absolut dan masih jomblo. ini bagian paling penting dari tulisan ini. haha). Judul lagunya Di Kota Ini Tak Ada Kamu Lagi. Dari judulnya seolah lagu ini menuturkan tentang relasi dua manusia, patah hati, atau semacamnya. Tapi jangan terkecoh dulu. Penulis lirik, yang juga merangkap sebagai kapten eh vokalis Jalan Pulang, ini memang lihai meracik kata yang puitis nan bersahaja. Kekuatan Jalan Pulang memang terutama terletak pada lirik-liriknya yang mudah, indah, dan penuh makna, serta lagunya yang sederhana. Lagu tersebut merupakan bagian dari gerakan masyarakat Kota Untuk Manusia. Tema tersebut dipilih sebagai respon terhadap persoalan perkotaan yang makin terasa dampaknya di Yogyakarta. 

 

Bagiku, lagu ini terdengar seperti antitesis dari lagunya Kla Project berjudul Yogyakarta yang sering jadi pengingat tentang romansa kota Jogja. Bagaimana tiap sudut kota jogja menyapa bersahabat. Aksi para musisi jalanan mengiringi kenangan yang berputar bersama mantan kekasih. Lagu Yogyakarta kira-kira ingin bercerita bahwa meskipun sebuah hubungan tak lagi bisa dijalani, tapi mengunjungi Jogja akan membawa kembali memori indah masa lalu dan selalu membuat kita ingin pulang. 

 

Tapi di lagu Di Kota Ini Tak Ada Kamu Lagi, seolah tak ada lagi yang layak dirindukan. Tak bisa lagi kutemukan ‘kamu’ meski hanya dalam sekeping kenangan. Jogja sebagai ‘rumah impian kita’ musykil terwujud karena kota ini kehilangan waktu tidurnya. Bukankah untuk bermimpi kita perlu tidur?! Yogyakarta sekarang terjaga 24 jam sehari. Tak ada waktu untuk mengendapkan memori, apalagi membangun mimpi.

 

Penghuni kota ini mengalami amnesia dahsyat, bahkan pohon-pohon lupa di mana ia dilahirkan. Buahnya tak peduli siapa yang mengantarkan manis dalam dagingnya. Dahan dan ranting lupa di mana akar kehidupannya. Seperti manusia-manusia yang kehilangan orientasi, tak tahu sangkan paran kehidupan, dari mana, mau ke mana. Langkahnya tersesat mengikuti keramaian, terseok-seok, tak sempat berpikir, terdesak arus budaya banal bagai buih peradaban.

 

Tata kota Jogja dulu sarat kedalaman nilai. Bagaimana pintu-pintu rumah dibuat agak rendah agar orang belajar, menundukkan kepala, rendah hati. Keraton dibangun membelakangi Gunung Merapi sebagai simbol ketinggian hati, dan memilih menghadap samudra sebagai lambang keluasan hati dan wawasan. Bagaimana garis imajiner Tugu Jogja – Malioboro – Kraton jadi monumen yang selalu mengingatkan manusia tentang bagaimana hidup harus dijalani. Bahwa tahapan hidup dimulai dengan menapaki Margo utomo (jalan utama, jalan kebajikan) dari Tugu Jogja hingga rel kereta, lalu dilanjutkan Malioboro (jadilah wali yang mengembara) untuk berbagi kebajikan dan belajar menemukan bentuk kebajikan dari orang lain. Hanya dengan menyebarkan kebajikan dan kerendahan hati mengenali kebajikan yang beragam kita bisa melangkah ke Margo Mulyo (jalan kemuliaan). Kita selalu mencari kebaikan dari seburuk-buruk keadaan dan tidak mencari-cari keburukan dari suatu kebaikan. Itulah kemuliaan. Hingga pada puncaknya kita menjadi manusia Pangurakan. dari kata urakan. Urakan adalah simbol jiwa yang merdeka. Tak ada lagi perdebatan baik buruk, benar salah, karena kita sudah mengatasi itu semua. Di atas benar-salah, baik-buruk, yang ada hanyalah harmoni keindahan.

 

Tapi kini, wajah Kota ini tak bisa lagi dianggap ayu. Justru diganti bangunan-bangunan kubikal nan wagu. Budaya dan pariwisata hanyalah kedok bagi praktik dagang semata. Demi memberi lapak bagi investor, pajak bumi dan bangunan di kawasan strategis bisnis dinaikkan sehingga para warga tercekik. Sungguh tak masuk akal memiliki aset di wilayah strategis tapi justru ibarat mendiami bara yang membakar keluarganya. Lalu terpaksa menjualnya kepada broker atau investor mall, hotel, restoran waralaba. Akibatnya jalanan semakin makin semrawut di sekitarnya. Bagaimana bisa sebuah tempat makan dengan sasaran kelas menengah ke atas diberi ijin membuka lapak beberapa meter dari perempatan yang selalu macet tanpa ada kewajiban menyediakan tempat parkir yang memadai. Belum lagi sampah-sampah visual. Wajah-wajah pengemis berdasi yang dipampang di tiap perempatan dan sudut jalan meminta belas kasihan untuk sekadar dikenali. 

 

Mungkin aku juga mengalami amnesia seperti mereka. Aku tak ingat lagi di mana atau kapan terakhir kali kurasakan hangat pelukmu. Tapi rinduku padamu (yang dulu bisa kuobati hanya dengan pulang ke kotamu) dan rinduku pada Jogja yang Berhati nyamnyam ini terlanjur jadi candu. Jika sudah begitu, bisakah kau tunjukkan padaku kemana rindu ini harus bermuara?!

 

kotayangmulaikehilanganromansanya 12102013

 

 

Judul Lagu: Di Kota Ini Tak Ada Kamu Lagi

Lirik oleh Irfan R. Darajat

Aransemen oleh Jalan Pulang

Lagu direkam terpisah di studio pribadi Hengga Tiyasa dan Damar N. Sosodoro

Artwork oleh Timoteus A. Kusno (Studio Mahati)

 

Lirik:

Tiada lagi yang tersisa dari rindu kita

Mimpi tentang rumah kita kehilangan tidurnya

Kosakata kota ragu terbata-bata

Tiada lagi yang tersisa dari mimpi kita

 

Pagi datang terburu-buru khianati waktu

Ingatan tentang wajahmu kabur oleh debu

Gelak tawa dan nyanyianmu tertindih mesin berderu

Tiada lagi yang tersisa dari rindu kita

 

Katakanlah padaku

Di manakah hangat pelukmu?

 

Pohon-pohon lupa di mana ia dilahirkan

Langkah-langkah kaki tersesat dalam keramaian

Kenangan-kenangan terhempas asap kendaraan 

Tiada lagi yang tersisa dari rindu kita

 

Katakanlah padaku

Di manakah hangat pelukmu?

Tunjukkanlah padaku

Kemana rindu harus bermuara?

 

Pohon-pohon lupa di mana ia dilahirkan

Langkah-langkah kaki tersesat dalam keramaian

Kenangan-kenangan terhempas asap kendaraan 

Tiada lagi yang tersisa dari rindu kita

 

(Sirna…)

Pohon-pohon lupa di mana ia dilahirkan

(Lupa…)

Langkah-langkah kaki tersesat dalam keramaian

(Sirna…)

Kenangan-kenangan terhempas asap kendaraan 

(Lupa…)

Tiada lagi yang tersisa dari rindu kita

Tiada lagi yang tersisa dari rindu kita…

 

https://soundcloud.com/jalan-pulang/di-kota-ini-tak-ada-kamu-lagi

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s