Dewa Amral Ngoyak Kayangan


Sabtu malam 5 Juli lalu saya diperjalankan Allah untuk menyaksikan pentas Wayang Orang Ngesti Pandowo di Taman Budaya Raden Saleh Semarang. Grup Ngesti Pandawa pernah menjadi ikon budaya kota Semarang. Grup yang dirintis oleh beberapa seniman legendaris, salah satunya ki Narto Sabdho, ini didirikan di Madiun pada 1937 dan berkembang di Semarang hingga sekarang.

Malam itu lakon yang dipentaskan bertajuk Dewa Amral.

Kisah bermula ketika dalam sebuah sidang para Dewa, Batara Guru sebagai pimpinan tiba-tiba membuat putusan. “Puntadewa telah melanggar paugeran. Ia harus menerima hukuman!”

Semua anggota DPD (Dewan Para Dewata) terkejut tapi tak berani membantah.

“Puntadewa harus dihukum mati!” demikian titah Batara Guru.

Para dewa clingak-clinguk saling menatap satu sama lain. Berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran tapi tak ada satupun yang berani bersuara.

“Segera kirim utusan ke Negara Amarta!” Seru Batara guru.

Para dewa tak bisa berkata lain selain “sendhiko dhawuh” lalu diam tanpa kata.

Cukup lama ruang sidang diliputi kesenyapan hingga akhirnya tawa kekeh Batara Narada, orang kedua di Swargaloka, memecah keheningan.

“Heuheuheu… Saya mengerti apa yang Paduka baru saja sampaikan. Instruksi Paduka Hyang Batara Guru sangat jelas. Tetapi yang hamba tidak pahami adalah atas dasar apa, pasal paugeran mana yang Puntadewa langgar hingga ia pantas dihukum mati?”

Hyang Batara Guru agak malas mengingat pasal-pasal, lalu menjawab asal, “Karena namanya Puntadewa”

“Lho… lho… lho… Apa salahnya dia bernama Puntadewa?”

“Dia melanggar paugeran antara kadewatan dengan kamanungsan. Seorang manusia tidak boleh menggunakan nama dewa. Itu tidak etis dan berpotensi membingungkan birokrasi jagad raya”

“Heuheuheu…” kembali Narada terkekeh. “Apalah arti sebuah nama, Paduka Guru?! Bukankah secara biologis dalam diri Puntadewa mengalir darah  Batara Dharma?! Jadi secara administratif dia berhak menyandang nama dewa, meskipun wujudnya manusia. Lagipula nama itu diberikan atas petunjuk Hyang Tunggal sebagai lambang kejujuran dan keadilan. Heuheuheu…”

Mbuh ora weruh! Pokoknya manusia tidak boleh menggunakan nama dewa.” Batara Guru mulai emosi.

Batara Narada merendah, “Baiklah. Tapi apa ya harus dihukum mati? Bukankah sejak jadi raja, Puntadewa tak lagi menggunakan nama itu dan berganti nama Yudhistira?”

“Pokoknya aku, Batara Guru, sudah bersabda. Dan sabdaku harus terlaksana.”

“Wee… lhadalah! Cilaka! Cilaka!

Utusan para dewa segera menemui Pandawa untuk melaksanakan titah Dewata. Para Pandawa, yang telah bersumpah Tiji Tibeh (Mukti Siji Mukti Kabeh, Mati Siji Mati Kabeh), tak sampai hati menyaksikan kakak sulungnya dihukum sendirian. Para Pandawa lalu menawar hukuman. Jika memang Puntadewa harus dihukum mati, keempat saudaranya juga harus ikut mati. Mendengar pernyataan itu, Batara Guru memberikan keringanan hukuman. Puntadewa tidak jadi dihukum mati. Sebagai gantinya keempat saudaranya diasingkan ke kawah candradimuka.

Puntadewa merasakan kesedihan yang mendalam. Ia tak pernah membayangkan hidup sendirian. Sebagai raja, ia membutuhkan keempat saudaranya untuk memimpin rakyatnya. Ia mengadu pada Dewi Kunti, ibunya kandungnya, tentang putusan dewa yang dirasa tak adil. Dewi Kunti tak bisa menyarankan apa-apa selain mematuhi putusan para dewa, meskipun dalam hati Kunti tahu persis sejarah kecerobohan para dewa. Ia pun menemui Ponokawan untuk rerasan. Siapa tahu mereka punya penjelasan yang lebih masuk akal. Namun semua penjelasan tak ada yang melegakan. Puntadewa kalut. Ia bertekad menggugat, kalau perlu ia akan naik ke kayangan untuk menuntut keadilan.

Gunungan semesta tergelar

Fakta dan fitnah terjalin berkelindan

Macan di kiri, Banteng di kanan.

Keduanya siap bertarung habis-habisan.

Sementara di kiri kanan

ular-ular naga tertawa lebar.

Kesedihan yang teramat dalam rupanya membangkitkan energi mahadahsyat. Duka kehilangan orang-orang terkasih membuat seseorang kehilangan ketakutan atas apapun saja untuk dipertaruhkan. Ketika akal sehat tergulung emosi nan hebat, yang tersisa adalah nekat. Puntadewa pun ber-triwikrama. Tubuhnya menjelma raksasa tanpa tanding dan mendeklarasikan dirinya sebagai Prabu Batara Dewa Amral. Ia segera naik ke kayangan, melabrak birokrasi kadewatan. Siapapun yang menghalangi langkahnya diterjang tanpa ampun. Swargaloka porakporanda.

Singkat cerita, karena tak satupun aparat dewa yang mampu mengalahkan Dewa Amral, Batara Guru  meminta bantuan Pandawa yang disekap di kawah Candradimuka untuk menghadapi Dewa Amral. Seberapapun marah dan bencinya Puntadewa pada kesewenang-wenangan para dewa, ia tak sampai hati beradu tanding dengan saudaranya sendiri, apalagi sampai melukai. Akhirnya Dewa Amral kembali ke wujud semula.

Selama menyaksikan pementasan tersebut, saya tak kuasa mengalihkan pikiran dari bayangan kondisi Indonesia hari ini dan hari-hari setelah ini. Suasana pemerintahan yang dipenuhi oleh kecurigaan, kecurangan, kebijakan yang sama sekali tak bijak, aparatur Negara yang menggunakan kuasanya untuk memuaskan nafsu dan dendam pribadinya. Dalam konteks penyelenggaraan Negara sempalan swargaloka bernama Indonesia seperti inilah yang menyebabkan lahirnya Dewa Amral-Dewa Amral masa kini. Dewa Amral adalah representasi negarawan (dalam arti orang-orang yang terlibat urusan Negara bukan sosok yang memiliki kapabilitas/kualitas kenegarawan) yang kecewa melihat kecurangan di sekitarnya lalu memutuskan untuk turun tangan mengobarkan perlawanan. Seperti kita saksikan di media, bagaimana seorang mantan ketua Mahkamah Konstitusi yang harusnya memiliki kejernihan pikir dan keluasan cakrawala atas kondisi bangsa memutuskan untuk berpihak pada Capres A, bahkan menjadi ketua tim pemenangan, hanya karena ia merasa dicurangi oleh pihak yang mendukung capres lainnya. Di pihak lain, tak sedikit para Begawan di bidang pendidikan, budaya, dan agama berbondong-bondong mendukung capres B karena Capres A dibayangkan sebagai mantan pelaku kejahatan dan pasti akan mengulangi kejahatan yang dibayangkannya itu.

Selama penyelenggaraan Pemilu 2014 kita bisa membaca, menyaksikan, atau mengalami sendiri betapa satu-persatu negarawan kita bertriwikrama menjadi raksasa penyulut kekacauan. Dimulai dari kekacauan informasi, kekacauan hukum, kekacauan tata nilai, hingga kekacauan akal budi. Pendukung kedua capres saling hujat, saling fitnah, saling serang, saling klaim kebenaran, dan seolah hanya menunggu waktu untuk saling menumpahkan darah.

Sebelum kekacauan yang lebih parah terjadi, semoga Sang Hyang Widhi menyisipkan wahyu dalam kelenjar pineal kita sebagaimana yang diturunkan pada Dewa Amral di detik-detik terakhirnya ber-triwikrama. Bahwa yang sedang kita hadapi adalah saudara kita sendiri. Bahwa hidangan pesta demokrasi yang siap kita lahap adalah bangkai saudara kita sendiri. Percayalah tak ada yang diuntungkan dari perang ini selain ular-ular licik yang membisik dari luar.

Gunungan semesta tergelar

Fakta dan fitnah terjalin berkelindan

Macan di kiri, Banteng di kanan.

Keduanya siap bertarung habis-habisan.

Sementara di kiri kanan

ular-ular naga tertawa lebar.

 

Jogjakarta, 14 Juli 2014

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s