Ekspedisi Papua II: “Anak SD Tra Bole Pacaran to?!”


Kamis, 7 November
Tim besar mulai berpisah. Tim B berangkat sejak sebelum subuh menuju Tanah Merah karena ketinting harus menyesuaikan timing pasang surut air laut.
Tim C, di mana aku tergabung di dalamnya, rencana berangkat jam 9 pagi tapi akhirnya berangkat jam 12 siang.
Tujuan pertama ke Kampung Sidomakmur atau dikenal juga dengan RKI singkatan dari Rumah Kayu Indonesia.
Sekitar 1 jam perjalanan dari Babo, jetty RKI mulai tampak. Sesampainya di sana air laut sudah sangat surut. Terpaksa barang-barang logistik harus diangkat dari bawah ke atas melewati beberapa ketinting yang sudah lebih dulu sandar.

Di atas jetty ada seorang bapak bertubuh gempal. Ia bertanya dengan nada menyelidik.
“Dari mana?”
“Babo, Bapak,” jawab Mas Panjul, motorist ketinting kami.
“Rombongan dari UGM kah apa?”
“Itu sudah”
“Mana ketua timnya? Tanya bapak yang ternyata anggota Babinsa.

Kuteriakkan nama Taufik yang masih ada di atas ketinting. Ia segera naik ke jetty menemui bapak tadi. Entah ia ditanya apa saja. Kami tetap melanjutkan bongkar barang ala TKBM. Setelah semua barang selesai terangkat ke atas jetty, aku baru sadar seperti pernah melihat Bapak Babinsa itu.
“Bapak pernah bertugas di Amutu kah?” tanyaku basa basi sambil mengulurkan jabatan tangan.
“iya”
“Aah benar rupanya. Sa dulu pernah datang ke sana Bapak, tahun 2009.”
“Iya. Tahun itu saya ada tugas di sana.” Tukasnya.

(Asal tahu saja. Bapak Babinsa itu yang dulu kupergoki nonton video bokep lewat HP di Pondok Komunikasi di Pulau Amutu. Tapi jangan bilang-bilang Pak Babinsa ya.)

Berkat arahan dari Bapak Babinsa, tim kami menempati rumah dinas milik kampung yang kosong tidak ditinggali. Rumah dinas ini letaknya cukup strategis. Berada di dekat Balai kampung, di sebelah barat ada lapangan SD, Pustu, dan masjid.

Adzan isya berkumandang. Aku masih menikmati kepulan asap di depan basecamp. Kulihat ada gadis kecil berkerudung merah berjalan menjauhi arah masjid.
“Mau kemana ka? Tra sholat isya kah apa?” tanyaku ketika ia melintas di depanku.
Ia menghentikan langkah.
“Tidak”
“Kenapa mo? Ini su adzan. Sebentar ini su waktu sholat isya. Nanggung to?!
“Tidak. Teman-teman di masjid nakal. Mereka suka kasih pukul.”
Baru kusadari matanya memerah bekas air mata.
“Kalo begitu, tra usah main deng mereka saja.”

Gadis itu terdiam. Ragu untuk melangkah, pulangkah atau kembali ke masjid.
Tiba-tiba ia mengajukan pertanyaan yang tak terduga.
“Kaka’, anak SD itu tra boleh pacaran to?!”
Aku kaget. “Aih..!” jawabku spontan sambil memikirkan jawaban apa yang tepat untuk anak seusianya.

Bukannya aku mau jadi sok moralis. Aku sangat menghargai dan memahami fase manusia mengenal cinta. Anak seusianya memang masanya mengenal cinta yang bukan family love, dari luar dirinya, ya dari teman sebayanya. Aku juga sadar cinta anak-anak seusianya tak lebih dari cinta monyet. Hanya status saja. Cinta yang cukup dinyatakan dalam coretan seperti “Budi dan Siti” di tembok sekolah. Tapi aku tiba-tiba teringat berita-berita video mesum yang dilakukan anak bau kencur kelas SMP. Akhirnya kujawab begini.

Tra boleh itu. Anak SD belum boleh pacar-pacaran. Nanti kalau su besar, boleeh.”
“Itu teman-teman kelas 6 SD su main pacar-pacaran deng kakak kelas SMP,” ia menimpali dengan nada terdengar mengadu.
“Memang mereka pacaran bagaimana?” aku ingin tahu gaya pacaran anak SD di Papua.
“Sa tra tahu,” jawabnya singkat.
Kali ini dia lebih mantab dan kembali ke masjid untuk sholat isya berjamaah.

Jam 11 malam aku, Arif, dan Taufik pergi ke jetty. Kami menggelar sleeping bag sambil menikmati suasana dermaga malam itu. Ketinting berjajar dengan kerlap-kerlip lampu di atasnya. Angin menggoyang-goyang badan ketinting menimbulkan derit teratur. Agak ke tengah sungai tampak kapal nelayan dengan ukuran lebih besar dan lampu lebih terang. Karena ukurannya yang besar ia tak bisa merapat ke jetty.

Taufik sudah mendengkur di atas SB tak jauh dari bibir dermaga. Air sedang pasang. Aku membayangkan bagaimana jika Taufik ngelindur dan kecemplung. Tak lama Arif pun pamit kembali ke basecamp. Sementara aku sedari tadi buang-buang pulsa, gonta-ganti paket BB atau paket internet karena gagal ngetwit. Duh! Rasanya putus asa dan feel disconnected. Memang di sini sinyal timbul tenggelam seolah kabur dibawa angin malam.

Akhirnya aku membuka aplikasi pemutar musik di BB. Ternyata tak banyak kusimpan lagu di perangkatnya. Hanya beberapa file rekaman lagu-lagu Ara yang pernah dikirimnya via BBM. Suara merdunya dan genjrengan gitarnya membawaku pada momen-momen kreatifnya mencipta lagu di sela studinya di Belanda. Aku mendapatkan kehormatan untuk menjadi pendengar pertamanya.

Angin malam berhembus makin kencang. Jetty kecil ini mulai ikut bergoyang pelan terdesak ketinting. Aku ikuti saja iramanya sambil menikmati langit dan gemintang yang terhampar. Aku selalu suka langit malam di daerah pedalaman, meskipun RKI tidak bisa disebut pedalaman, karena lebih banyak bintang. Di langit timur tiba-tiba melesat seberkas cahaya hijau. Sedetik, kemudian hilang. Kukira itu kembang api atau lampu suar tapi rupanya itu bintang jatuh. Ah cantiknya!

Kampung RKI/Sidomakmur, Distrik Aroba, Kab. Teluk Bintuni

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s