Ekspedisi Papua II: Dinamika Sosial dan Ekonomi Kampung Sidomakmur


Sejarah kampung Sidomakmur bermula dari dibukanya perusahaan pengolahan udang terbesar di Indonesia milik keluarga Cendana, PT Jayanti di Wimro. Karena membutuhkan banyak pasokan udang untuk jalannya perusahaan, pemerintah membuka program transmigrasi terutama bagi nelayan-nelayan. Untuk itu di seberang Wimro dibuka permukiman untuk para transmigran cum karyawan PT Jayanti dengan nama resmi TransWimro. Tak heran jika sebagian besar nelayan di Wimro berasal dari Jawa, khususnya Jawa Timur meliputi Gresik, Probolinggo, dan Banyuwangi). Kampung TransWimro dikenal juga dengan sebutan RKI, singkatan dari Rumah Kayu Indonesia, karena semua rumah di sana dari dulu hingga sekarang sebagian besar berbahan utama kayu.

Sekitar tahun 2003, para sesepuh transmigran yang sebagian besar dari Jawa, memberi nama RKI dengan nama Kampung Sidomakmur. Sebagaimana tradisi Jawa, pengubahan nama kampung tersebut dilakukan dengan upacara adat ala Jawa, lengkap dengan tumpeng dan ubarampenya.

Di awal kehadiran perusahaan BP (British Petroleum) di Teluk Bintuni, BP mengumpulkan para wakil kampung yang masuk dalam DAV (direct-affected villages) atau kampung-kampung yang terdampak secara langsung. Namun nama kampung Sidomakmur tidak masuk dalam daftar sehingga luput dari peta kampung terdampak yang ujung-ujungnya tidak mendapatkan kompensasi pembangunan dari perusahaan. Yang ada dalam daftar adalah kampung Wimro. Ini yang kemudian menjadi masalah di kemudian hari. Kampung Sidomakmur dianggap tidak ada secara administrasi di Pemda Teluk Bintuni, yang tercatat adalah kampung Wimro. “Baru, kalau tong tanya SK kampung Sidomakmur, tong tanya Tuhan deng Moyang Laut sudah!” demikian cerita Pak Darno ketika keabsahan Sidomakmur sebagai kampung dipertanyakan. Sementara kampung TransWimro sendiri pernah sengaja “dimatikan.”

Usut punya usut, kampung Wimro pernah mendapatkan bantuan berupa pinjaman untuk koperasi dengan nilai ratusan juta rupiah. Pinjaman tersebut macet karena mismanajemen dan penyalahgunaan oleh pengurus koperasi yang ternyata juga melibatkan pengurus/sesepuh kampung RKI. Sebagai exit strategy, nama kampung Wimro tidak lagi digunakan, diganti dengan Sidomakmur, sehingga seolah-olah tidak ada lagi. Jika diperkarakan, nama kampung Wimro hanya tinggal nama saja tanpa ada aparatnya.

Mayoritas penduduk Sidomakmur memiliki mata pencaharian sebagai nelayan udang dan berdagang. Perputaran uang di Sidomakmur bisa dikatakan sangat besar. Mak Suratmi, transmigran asal Banyuwangi, menceritakan ia memiliki perahu yang dioperasikan oleh nelayan pendatang. Dalam sebulan perahunya beroperasi dalam 2 konda. Satu konda kurang lebih selama 12 hari. Sekali melaut, 1-2 hari, hasil udang yang diperoleh rata-rata 3-5 kg udang. Jika laut sedang teduh, dalam sehari bisa memeroleh 10-15 kg udang. Sehingga dalam sebulan bisa Mak Suratmi bisa mendapatkan kurang lebih 10 juta dari hasil udang.

Begitu juga perputaran uang dari perdagangan, terutama warung makan dan kebutuhan sehari-hari. Untuk kios kecil saja, omset per hari rata-rata 200-300 ribu. Sedangkan  untuk kios yang agak besar omsetnya bisa mencapai 600 ribu hingga 1 juta dalam sehari semalam. Bisa dibayangkan berapa perputaran uang masing-masing kios dalam sebulan.

Saat ini para nelayan di Sidomakmur mulai resah dengan rencana ekspansi, pembangunan sumur pengeboran minyak,  oleh BP. Beberapa keluhan yang mulai dirasakan nelayan antara lain:

  • Keberadaan rig di sekitar lokasi calon sumur BP di muara membuat wilayah tangkap nelayan menjadi semakin terbatas.
  • Keberadaan udang di muara mulai jauh berkurang. Bisa jadi karena habitat udang tercemari polusi dari keberadaan BP.
  • Perusahaan menggunakan penerangan yang sangat terang di sekitar rig membuat ikan-ikan/udang mendekat ke arah cahaya. Sementara nelayan kalau mau cari udang dihalangi oleh batasan zona rig yang dibuat perusahaan.
  • Dulu untuk bisa ikut mencari udang di muara, nelayan baik secara kelompok atau perorangan harus memeroleh ijin dari pemangku hak ulayat. Untuk memeroleh ijin tersebut mereka membayar sejumlah uang ulayat tiap tahun. Mengapa harus membayar? Setiap orang dengan mudah mendapatkan uang semudah nyiduk udang saking banyaknya. Tapi sekarang ijin tersebut tidak berlaku lagi, (mungkin) karena memang volume udang di muara sudah sangat berkurang.
  • Sekarang ini nelayan harus mencari udang ke tempat-tempat yang lebih jauh di luar kawasan RKI. Ini berdampak pada meningkatnya biaya operasional nelayan, yang jelas bahan bakar dan perbekalan. Belum lagi jika di lokasi lain, mereka harus membayar hak ulayat kepada suku/adat setempat.

Dari beberapa warga yang sempat saya wawancarai mengaku sekarang kesejahteraan hidup mereka makin menurun. Ibaratnya dulu keluarga biasa membeli beras 1 karung tiap bulan, sekarang terpaksa ngecer kiloan.

Mayoritas penduduk Sidomakmur adalah muslim. Secara umum, warga RKI menganut islam tradisional ala NU, meskipun secara organisasi tidak ada papan nama pengurus NU ranting Sidomakmur. Ada beberapa warga menganut Muhammadiyah tapi jumlahnya lebih sedikit. Selama bertahun-tahun kehidupan beragama di Sidomakmur bisa dikatakan damai-damai saja.

Namun belakangan ini kehadiran beberapa orang islam dengan aliran puritan mulai meresahkan masyarakat. Dari keterangan yang kucuri dengar dari Pak Abu (aparat kampung) dan Pak Sudarno (transmigran angkatan pertama yang sekaligus ketua RT 3) keresahan tersebut bermula budaya tahlilan yang biasanya dilakukan untuk mengawali kumpulan RT/kampung mulai dipermasalahkan. Akibatnya, dengan tidak ada tahlilan, rapat RT jadi terasa kaku. Warga jadi lebih sering diem-dieman selama kumpulan. Rupanya virus wahabi atau ke-pekok-an dalam beragama sudah menyusup ke kampung-kampung Papua.

Sidomakmur, 9 November 2013

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s