Ekspedisi Papua II: Selamat Datang di Marafuar


Tahun 2013 kemarin sepertinya merupakan tahun paling banyak jalan-jalan ke luar pulau dalam hidupku. Mulai dari Jambi, Purwokerto, Palu, Bali, dan terakhir Papua. Kesemuanya baru pertama kali kudatangi kecuali Papua. Sebelumnya aku sudah pernah ke Papua di tahun 2009 sebagai tenaga riset lapangan selama sebulan. Kali ini masih dalam misi yang sama tetapi waktunya lebih lama, dua bulan. Terhitung dari tanggal 3 November – 28 Desember 2013. Berikut ini beberapa catatan yang berhasil kurekam selama perjalanan yang kutuliskan secara berseri, tergantung pada ketersediaan catatan dan simpanan ingatan. hehehe

Minggu – Selasa, 3-5 November: waktu ini kuhabiskan dalam perjalanan. Tanggal 3 malam berangkat dari Jogja. Sehari transit di Sorong. Baru Selasa pagi berangkat dari Sorong menuju Babo di Kabupaten Teluk Bintuni.

Rabu, 6 November

Pari ini aku berangkat ke Kampung, atau lebih tepatnya calon kampung Marafuar. Lokasi yang disiapkan sebagai calon kampong baru pemekaran dari Babo. Untuk sampai di sana kami harus naik ketinting kurang lebih 1 jam.

Penduduk calon kampung Marafuar masih termasuk suku Irarutu. Suku irarutu merupakan suku besar yang mendiami semenanjung Teluk Bintuni, sebagian Fakfak, hingga ke wilayah kabupaten Kaimana.

Di kampung ini aku pertama kali mendengar istilah Daun Gatal atau Daun Bungkus (kalau di pasar Remu di Sorong dikenal dengan minyak Daun Tiga Jari). Daun yang dipercaya bisa digunakan untuk memperbesar organ tubuh (yang dianggap) vital.

Disebut Daun Gatal karena anggota tubuh yang terkena daun tersebut akan sangat gatal sekali (untuk memberi penekanan betapa gatalnya).  Efek selanjutnya adalah kulit yang terkena daun tersebut akan membengkak dan melepuh selama kurang lebih 3 minggu.  Masa 3 minggu itulah saat untuk membentuk anggota tubuh which is you know what I mean. Pantangannya adalah selama masa transisi, anggota tubuh yang dipermak tidak boleh terkena air, termasuk keringat, apalagi digaruk.

Apakah perubahan bentuk itu permanen?!

Pasti penasaran kan?!

Hayoo ngaku?!😀

Menurut beberapa sumber, hasil permak itu bisa bertahan kurang lebih 6 bulan sebelum akhirnya agak mengempes.

Di sini masih banyak Kanguru liar. Dalam bahasa lokal disebut Walef. Ada burung Cendrawasih, ayam hutan yang berwarna biru cantik. Sementara jenis hewan buruan yang menarik lain adalah Wakera, sejenis kanguru, yang memiliki kemampuan menangkap jubi (tombak) yang dilempar pemburu. Aku tahu itu setelah penasaran melihat gapura kayu bertuliskan “Welcome to Marafuar” dengan hiasan lukisan kanguru, orang lelaki dan perempuan menari dengan baju khas papua, dan sejenis burung. Iseng aku bertanya ke bapak yang memandu kami.

“Bapak, di sini masih ada kanguru kah?

“Ada,” jawab bapak itu mantap.

“Di mana?!” tanyaku bersemangat.

Beberapa teman kulihat juga bersemangat mendengar jawaban bapak itu. Berharap bisa melihat wujud kanguru.

“Ada. Ada di hutan,” kembali bapak itu menjawab dengan nada datar.

“Ooo..” kami hanya melongo, kecele’.

Di sungai Marafuar masih banyak buaya. Salah satu jenis buaya disebut Buaya Ronda, yaitu buaya yang sudah tumbuh besar. Saking besarnya ia tidak bisa leluasa menggerakkan badan. Disebut Buaya Ronda karena dia hanya bisa mondar-mandir dari hulu ke hilir, dari hilir ke hulu mengikuti arus pasang surut air laut. Mungkin buaya itu perlu ikut program OCD untuk mengatasi obesitasnya. Menurut cerita penduduk, sungai-sungai di kawasan teluk ini masih banyak buaya. beberapa tanda untuk mengetahui keberadaannya antara lain jika ada gelembung-gelembung kecil bermunculan dari bawah permukaan air. Oleh karenanya, pantangan bagi penumpang longboat atau ketinting bermain-main dengan memasukkan tangan ke permukaan air. Salah-salah tangannya bisa digandeng tangan buaya. Jika malam tiba dan harus melakukan perjalanan di atas air, cara mendeteksi keberadaan buaya adalah dengan menyorotkan lampu senter. Jika ada sepasang titik cahaya berwarna merah, itulah pantulan mata buaya.

Di kampung Marafuar ketika kami sampai di sana, yang ada hanya rumah saja. Seluruh penduduknya masih tinggal di Babo. Jadinya kami hanya foto-foto, memindai lokasi rumah dengan alat GPS, lalu pulang ke basecamp di Babo.

Aku menghabiskan sore itu di jetty (dermaga) kecil. Banyak warung dan toko di sini. Aku singgah di warung bakso rusa milik orang Jawa. Pak Nur namanya. Bersamaku ada Pak Nur yang lain, dari Jawa juga. Pak Nur yang satu ini penjual alat-alat pertukangan, alat listrik dan lain sebagainya. Nama aslinya Nur Yatno. Ia berasal dari Trengguli, Demak. Jika dari arah Jepara menuju Semarang, ada jembatan pertigaan Trengguli, dari situ lurus saja menyeberang jalan daendels sudah sampai rumahnya.

Pak Nur ‘kuadrat’ ini sudah 17-18 tahun merantau di Papua. Ia mengawali perantauannya di Manokwari lalu pindah ke Sorong. Pada tahun 1997 ia mulai menginjakkan kaki di Babo. Waktu itu ia ikut Pak Lik (paman) jualan mainan, pakaian, lalu sekarang jualan alat pertukangan. Sebelum ada kios-kios di atas jetty, ia berjualan keliling menjajakan mainan anak-anak.

Suatu ketika ia diajak salah seorang pedagang dari Jawa yang telah lebih dulu merantau di Babo untuk patungan membangun kios di atas air. Mereka bertiga patungan membangun 1 kios yang digunakan bersama. Sejak awal perjanjiannya kios itu adalah dimiliki bersama. Tapi setelah 9 tahun berjalan, Pak Nur mulai ditarik uang sewa. Ia tak terima dan mempermasalahkannya. Permasalahan itu meruncing hingga akhirnya dibawa ke Polsek Babo. Berhubung surat-surat bukti kios diatasnamakan bapak yang dulu mengajaknya, Pak Nur dan temannya kalah dalam perkara. Entah karena kesal atau frustasi, Pak Nur menghibahkan dagangan mainan anak-anak tersebut ke Pak Nur yang jualan bakso. Ia mulai lagi dari awal sebagai penjual alat-alat pertukangan.

Memasuki senja, langit di Babo muram. Aku pun berjalan pulang ke basecamp di sebelah kantor distrik. Beberapa kawan pulang membawa sekardus karaka (kepiting rawa khas Babo), sekeranjang pisang, dan sebuah gitar. Malam semakin malam. Karaka asam manis sudah tuntas dihabiskan. Genjrengan gitar dari Mas Gogon mengiringi lagu Kla Project menambah syahdu suasana…

…Aku tak bisa pindah

Pindah ke lain hati

Selamat Datang di Kampung Marafuar
Selamat Datang di Kampung Marafuar

(Meski tubuhku jauh di Bintuni… #eaa)

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s