Ekspedisi Papua II: Tenggelamnya Kapal Munaji


Sore ini aku bertukar cerita dengan ibu Sugianti. Dia mengaku keluarganya sedang dalam krisis ekonomi. Suaminya sudah tidak bekerja beberapa bulan lamanya, terutama setelah 1 perahunya karam di Bintuni. Untuk hidup sehari-hari, Sugianti mengandalkan warungnya dengan berjualan sayur mayur dan kue donat plus pisang goreng. Keluarganya menanggung hutang 50 juta dari bank. Ia tinggal di RKI bersama Pak Munaji, suaminya, dan Bagas, anaknya yang berusia 8 tahun.

Sugianti sekeluarga memulai kehidupan di RKI ini sejak 1991 ketika PT Jayanti, perusahaan pengolahan udang milik keluarga Cendana, beroperasi di Wimro yang terletak di seberang pulau. Pada tahun 1993 ia diberhentikan dan diberi pesangon Rp 115.000,- 

Uang pesangon itu dipakai untuk modal memulai usaha jualan sayur. Tiap pagi selepas subuh ia mendayung sampan ke Wimro untuk menjajakan sayur. Beruntung pengelola kantin perusahaan berbaik hati menampung dan membeli sayuran miliknya. Sampai akhirnya usaha dagang sayurnya makin berkembang. Munaji, suaminya, bekerja sebagai nelayan udang. Usaha mereka berkembang hingga memiliki 4 ketinting yang dioperasikan orang lain.

Pada pertengahan tahun 2013, kondisi ekonomi keluarganya mengalami titik nadir. Karena keteledoran operatornya, 1 ketinting rusak. Saking jengkelnya, Munaji membiarkan perahu tersebut di tinggal di mangi-mangi (rawa bakau) hingga membusuk. Satu ketinting lainnya dijual. Tinggal 2 ketinting yang dioperasikan orang lain di Bintuni. Satu ketinting besar, yang dibeli seharga 70 juta dengan 50 jutanya berasal dari pinjaman bank, karam di dekat Bintuni karena kelebihan muatan. Sementara operator ketinting yang satunya tidak pernah melapor apalagi menyetor hasil ke Munaji.

Tenggelamnya ketinting terbaru tersebut membuat Munaji shock berat. Menurut Sugiyanti, “Bapak seperti orang linglung.” Bahkan untuk pergi ke Bintuni mengurus ketintingnya, dia tak punya cukup uang. Sebagai laki-laki sekaligus kepala keluarga, Munaji belum pernah terpuruk serendah ini. Ketika itu uang yang tersisa tinggal seratus rupiah.

Pada bulan Agustus setelah lebaran 2013 kemarin, Sugiyanti mendapat uang arisan 5 juta. Setengah dari jumlah tersebut harus ia setorkan ke Manokwari untuk membayar hutang. Selebihnya habis untuk biaya perjalanan lebaran ke Manokwari.

Dengan uang lima ratus ribu yang tersisa, Sugiyanti memulai lagi usaha jual sayur mayur, menjajakan donat dan pisang goreng untuk menghidupi keluarganya. Sementara suaminya masih terpuruk dan entah kapan mau bangkit lagi. Sehari-hari Munaji hanya duduk bersarung di bangku warung sambil sesekali membantu istrinya melayani pembeli. Sugianti tidak bisa, dan merasa tidak ada gunanya, memarahi suaminya. Sugianti memaklumi kondisi suaminya, “Bapak tidak pernah serendah ini mas kondisinya. Sekarang seperti tidak berani ngapa-ngapain. Mau tidak mau saya yang harus jadi jangkar keluarga.” Seorang laki-laki yang pernah berjaya dan tiba-tiba tidak punya kuasa, pasti minder yang ada. “Satu hal yang saya syukuri, meskipun kondisi Bapak begitu, Bapak tidak berbuat yang aneh-aneh atau macem-macem. Di rumah saja,” ungkapnya. Sugiyanti tidak bosan-bosan meyakinkan suaminya bahwa rejeki pasti ada, kerja apa saja boleh, asal tidak mencuri.

Bagaimanapun sabar dan tegar seseorang, ketakutan atas ketidakpastian hari esok tetap tak bisa disembunyikan. Sugiyanti merasa cunthel, tak tahu harus bagaimana lagi atau dengan cara apa lagi ia bisa menggelindingkan roda nasib keluarganya ke arah yang lebih baik, keluar dari kesempitan rejeki.

Sedari awal membina rumah tangga, Sugiyanti, juga Munaji, tak percaya dan tak mau percaya dengan klenik atau perdukunan. Tetapi musibah dan kesulitan ekonomi yang bertubi-tubi yang terjadi secara drastis membuat mereka berubah pikiran, mulai mengenal praktik perdukunan. Suatu ketika suaminya tidur dan bermimpi didatangi almarhumah ibunya, “Le, ojo turu sore-sore. Iku lho deloken ning njobo ono sopo. (Le, jangan tidur sore-sore. Itu lho lihatlah keluar ada siapa.)” Munaji terbangun tapi tak bisa menggerakkan badannya. Ia bisa melihat di teras rumahnya ada seorang tetangganya sedang berdiri dan tampak merapal doa-doa. Ketika akhirnya Munaji bisa bergerak dan keluar rumah, tetangganya lari terbirit-birit.

Setelah peristiwa tersebut Munaji mulai bertanya ke sana ke mari, ke saudara, ke orang tua, ke orang pintar apa yang harus ia lakukan. Beberapa orang memberi saran yang berbeda tapi toh tetap mereka coba. Beberapa laku ritual yang pernah dilakukan antara lain menyebarkan garam di sekeliling rumah untuk menetralkan energi negatif. Salah satu orang tua memberikan saran ‘ramuan wong omah-omah’ yang berguna untuk menangkal segala gangguan rumah tangga. Caranya adalah ketika mencampurkan air kencing istri dan suami pada pagi hari lalu menyiramkannya di sekeliling rumah.

Di lain waktu Sugiyanti disarankan untuk mengamalkan sholawat nariyah. Mendengar kata Sholawat Nariyah spontan aku nyeletuk, “Nariyah itu energinya panas.” Sugiyanti sejenak tertegun. “Oh pantas, sewaktu saya masih mengamalkan, suasana rumah jadi berhawa panas. Gampang emosi. Saya takut lalu saya berhenti mengamalkan,” lanjutnya. Sebenarnya sholawat nariyah cocok diamalkan oleh orang yang cenderung pemalas. Itu bikin orang yang mengamalkan selalu merasa diburu-buru atau tidak tenang jika ada tugas yang belum dikerjakan. Terakhir, Sugiyanti disarankan untuk sering-sering membaca “Ya Rohman Ya Rohim.

“Kalau itu bisa nggak mas?” tiba-tiba ia bertanya memastikan.

“Ya bisa saja bu. Itu juga baik.” Jawabku singkat.

“Maksud saya bisa untuk memperlancar rejeki nggak?”

“Kalau dari lafalnya ya kurang tepat untuk rejeki bu. Rohman Rohiim itu artinya kasih sayang. Bisa jadi itu sebabnya meskipun kondisi ekonomi ibu sedang kacau, hubungan keluarga ibu tetap baik-baik saja. Tetap saling menyayangi, tidak sering cekcok seperti kebanyakan orang.”

“iya sih mas,” jawabnya membenarkan.

Aku lalu menceritakan tentang pengalaman seorang petani garam yang mengamalkan surat waqiah sebagaimana kakak perempuanku pernah cerita padaku. Ibu Sugiyanti menunjukkan antusias lebih, Ia bertanya lebih lanjut tentang amalan Waqiah. Ia minta ditunjukkan letak surat Waqiah di dalam Al-qur’an. Kuberi ancer-ancer juz berapa, bagaimana bunyi ayat pertamanya. Ia terlihat ingin mengambil Al-quran untuk meyakinkan letaknya dan tulisan ayat-ayatnya. Karena tak tega, kutunjukkan surat Waqiah di android yang kubawa.

Aku bergeming. Wajahku serasa diterpa energi harapan yang sepertinya telah lama tertahan. Aku buru-buru meralat bahwa bukan surat Waqiah-nya yang manjur dan pasti berhasil, tetapi Pemilik Surat Waqi’ah-lah yang menentukan. Ada sebersit rasa sesal dalam hatiku setelah Sugiyanti mengaku sejak kecil ia tidak punya banyak kesempatan belajar mengaji. Aku khawatir surat Waqiah ini akan memberatkan dia untuk diamalkan tapi energi harapan besar terpancar dari matanya.

“Ya namanya juga istiar mas (maksudnya ikhtiar),” ia mencoba meyakinkanku untuk menjelaskan lebih lanjut. Aku mengangguk tanda setuju pada kalimatnya.

“Trus ada lagi nggak mas, kira-kira doa yang lebih gitu?” Ini yang kutakutkan. Berburu amalan dan (mungkin) bergantung pada amalam tertentu untuk mengubah nasib.

“Ya namanya doa, ikhtiar itu buanyak sekali bu. Ada yang panjang. Ada yang pendek. Kalo kebanyakan amalan malah nanti gak kober kerja.”

“Jangan sampai gitu mas.”

Kami sama-sama terdiam

“Yang penting bu,” kataku melanjutkan.

“Iya mas. Apa yang penting mas biar masalah ini cepat selesai?” rupanya ia masih berharap ada doa lain yang lebih mujarab.

“Kalau berdoa itu jangan lupa sholawat. Itu kunci terkabulnya doa. Sholawat yang ringan dan pendek-pendek aja, tapi sering dibaca dengan ikhlas. Sambil nggoreng donat, sambil nunggu pembeli, rengeng-rengeng baca sholawat bu.”

Adzan magrib menyelamatkanku dari keharusan mengobral kata-kata yang mungkin akan kusesali sesudahnya. Aku segera pamit dan menuju masjid. Sholat maghrib berjamaah dan 2 rekaat sunnah sesudahnya. Dalam sujud terlintas kejadian-kejadian yang baru saja kualami. Kuingat-ingat lagi adakah kalimat yang mrucut dari mulutku yang sebenarnya tak perlu. Mau tak mau ingatanku tertuju pada peristiwa yang kualami pada bulan-bulan sebelum aku berangkat ke Papua.

Aku selalu senang melihat orang punya harapan. Bagiku harapan adalah cahaya dari Tuhan. Dari dulu kebahagiaan terbesarku adalah menjadi kurir atau pengantar talam-talam harapan. Mengajak orang lain berharap, bukan padaku tapi padaNya yang tak pernah memberikan harapan palsu.

Aku tidak ingin mengulangi kesalahanku pada dua perempuan sebelum keberangkatanku ke Papua. Ketika aku merasa mengantarkan cahaya pada mereka, justru yang terjadi sebaliknya. Kalimat-kalimat sok bijak, menyitir ayat-ayat, cerita-cerita tentang perjalanan jiwa, justru membuat mereka merasa terpojok, menganggap aku berlagak dan sok.

Aku tidak ingin menjadi penghalang antara mereka dan Sumber Cahaya. Aku tidak ingin menjadi gerhana bagi mereka. Baju agama justru menutupi cahaya Tuhan untuk sampai ke hati mereka. Ingin rasanya kutanggalkan saja segala atribut agamis, relijius, cah pesantren, atau apapun saja yang menempel di badan dan namaku. Aku ingin menjadi manusia saja. Asalkan Cahaya itu sampai juga ke mereka. Mereka berhak atas Cahaya-Nya. Yaitu energi harapan yang menggerakkan tiap sel dalam tubuh mereka menuju kesejatian diri. Kalau keberadaanku justru menjadi penghalangNya, biarlah aku hilang dalam moksha.

Di antara gremengan suara jamaah wiridan aku mendengar suara menggema di kepala, “Kanjeng Nabi Muhammad masih sibuk, ia titip salam lewat bu Sugiyanti.” Tiba-tiba mataku kelilipan hujan.

Demi kerinduanku padamu oh Kekasihku. Kusambut siapa saja yang kau utus menemuiku. Asal aku bisa merasakan hadirmu.

-Malam terakhir di Sidomakmur, Sabtu 9 Nov 2013 pukul 23:44 WIT

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s