Guru-Guru Duniaku


Membaca catatan Mas Rizal tentang Mengapa Mengajar membuatku merenung. Ingatanku mengembara mencari sosok-sosok yang mengilhamiku, membentuk karakterku, dan mewarnai perjalanan hidupku. Tulisan ini tidak bermaksud mengesampingkan peran guru-guru yang lain. Ini hanyalah bentuk apresiasi atau ucapan terima kasih pada jiwa-jiwa yang lebih dulu ada dan membimbingku sebagai jiwa yang lebih muda.

1. Ustad Mansyur Shodiq
Pertemuan pertama kami terjadi pada 1993 ketika aku memulai kehidupanku di Pondok Huffadz Kanak-Kanak Yanbu’ul Qur’an Kudus. Saat itu Ustad Mansyur juga merupakan ustad baru di situ. Beliau alumni Gontor. Penampilannya nyentrik. Sering mengenakan jaket kulit warna hitam. Pada awal pengabdiannya, beliau kemana-mana naik sepeda jengki, persis seperti yang digambarkan Ahmad Fuadi dalam novel Negeri 5 Menara. Kemudian Ustad Mansyur sempat memiliki motor Honda CB warna merah. Dengan kaca mata hitam dan jaket kulit sewarna, kami, para berandal cilik, menjulukinya TJ Hooker, karakter seorang polisi dalam serial televisi dengan judul yang sama di tahun 90an. Tentu saja kami tak berani terang-terangan menyebutnya begitu. Ustad TJ Hooker ini disukai sekaligus dibenci oleh sebagian santri.

Sebelum slogan Man Jadda Wa Jada menggejala seperti sekarang, aku sudah meneriakkannya 20 tahun silam. Ustad Mansyur-lah yang mengajari mulut kami. Dalam pelajaran bahasa Arab, ia mewajibkan kami menghafalkan mahfudzot (peribahasa dalam bahasa arab). Selain man jadda wa jada, kami hafal banyak lagi kata-kata mutiara seperti man shobaro dzofiro (barang siapa bersabar, akan beruntung). Tapi yang paling mengena di hatiku waktu itu adalah “Barang siapa menguasai bahasa Arab dan Bahasa Inggris, dia akan menguasai dunia.” Rupanya kalimat itu menjadi pondasiku ketika masa SMA aku memutuskan masuk program Bahasa, alih-alih IPA apalagi IPS. Itu pula yang melambari impianku untuk pergi ke luar negeri.

Pelajaran berikutnya yang kudapat dari ustad Mansyur adalah story telling. Setiap hari kamis sore, kami biasa merubungnya di depan koperasi pondok untuk mendengarkan dongeng. Dia bercerita sampai ujung bibirnya berbusa. Tapi kami asik saja. Tak penting apa ceritanya, biasanya sih tentang perjalanan seorang pendekar silat, tapi menurutku ceritanya begitu hidup. Waktu itu aku percaya bahwa jurus-jurus yang dia ceritakan, misalnya Ilmu Gin-Kang (meringankan tubuh), Ngrogo Sukmo (keluar dari tubuh) itu benar-benar nyata adanya. Bahkan kadang aku mengkhayal menciptakan jurusku sendiri. Di kemudian hari, aku menginisiasi program berbasis story-telling dengan beberapa teman.

Ustad Mansyur juga sering mengajak kami untuk berpetualang. Hari Jumat adalah waktu bebas bagi kami untuk keluar lingkungan pondok. Biasanya kami menggunakan hari itu untuk bermain bola di lapangan kampung atau nonton film India sebelum jumatan. Pada satu kesempatan kami, tak lebih dari 10 orang, melakukan tracking, njajah deso milang kori. Kami melintasi padang ilalang, kebun singkong, dan sungai kecil yang ada di Desa Singocandi. Kami juga melihat kegiatan sehari-hari, belajar mengenali mata pencaharian penduduk desa. Singocandi terkenal sebagai sentra sandal kulit imitasi dan produsen jagung marning. Kami melihat bagaimana warga menjemur jagung setelah direbus, menggoreng kacang tanah di dalam tong yang diletakkan horizontal.

Dalam kesempatan lain, ustad mansyur mengajari kami melakukan lompatan harimau. Dia memberi contoh lebih dulu. Beberapa teman kami, mulai 4, 5, bahkan 7 orang duduk berjajar dengan posisi doggy, lalu dia melompati semua dari samping. lalu berguling di sisi seberangnya. Tentu saja kami tak mampu menirunya. Dia memberi kami latihan dasar. Hanya satu orang yang berlutut dengan posisi punggung rata-rata air. lalu kami bergantian koprol dengan bertumpu punggungnya. Rasanya pede sekali kalau suatu saat aku akan jadi pesilat.

Suatu ketika dalam kegiatan tracking, kakiku tersandung pangkal pohon sehabis ditebang. Kulihat tulang kecil di sebelah tulang keringku. Berwarna putih sebelum akhirnya berubah merah bersimbah darah. Dengan cekatan ustad mansyur melihat lukaku dan meludahinya. Aku manut saja. Jarak kami dari pondok masih jauh. Kurang lebih 2-3 kilometer. sementara aku tak kuasa berjalan sendiri. kalau dipaksa, pasti pendarahannya akan semakin parah. Lalu Ustad Mansyur membuat tandu dari bahan seadanya. batang pohon seukuran tongkat dan tali pramuka. Dia membuatnya seorang diri. Lalu secara bergantian teman-teman menggotongku di atas tandu. Selembar bendera merah putih digelar di atas tubuhku karena terik matahari mulai mengganggu.

Di kemudian hari, aku aktif di Pramuka dan PMR di tingkat Penggalang. Berkali-kali mewakili MTs Al-Islam dalam lomba-lomba ketangkasan Pramuka dan PMR. Aku pernah hafal di luar kepala sandi morse dan semaphore. Membuat tandu, membebat tangan atau kaki yang cedera, memandikan pasien di tempat tidur atau mendirikan bivak (tenda darurat dari selembar jas hujan) dalam waktu singkat.

Bukan alumni Gontor kalau tidak bisa bahasa asing. Dari Ustad Mansyur-lah aku pertama kali belajar bahasa asing, yaitu Bahasa Arab, sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Aku masih ingat ketika naik kelas 3, ada program muhadloroh (pidato dalam bahasa arab). Biasanya diadakan hari rabu malam atau ahad malam. Seminggu sebelumnya para santri yang akan berpidato akan diberi suatu naskah untuk kami hafalkan. Selama seminggu itu kami akan menghafal dan melatih intonasi, menyapu pandang, dan gerak tubuh ketika menyampaikan pidato. Pada saat hari H, para ‘penceramah’ akan memakai kostum sebagaimana para dai cilik. minimal berbaju koko dan berselendang surban. Latihan-latihan itu yang membuatku dipercaya menjadi pembawa acara dalam bahasa arab di sunatan teman pondokku di hadapan ratusan bapak yang hadir. Tak kusangka keterampilan itu banyak membantu tugas-tugasku selanjutnya ketika menjadi ketua OSIS dan harus memberi sambutan dengan berbagai tema, misalnya di acara natal atau paskah. Sungguh itu tak mudah. Di sebuah SMA Negeri, seorang ketua OSIS yang sehari-hari berpeci harus memberi sambutan di acara umat Kristiani. Tapi dari situlah aku belajar toleransi.

2. Zakariya “Pak Yankz” Anshori
Guru kedua yang kuanggap berjasa dalam hidupku adalah Pak Yank. Dia adalah jebolan Geografi UGM yang mengajar mata pelajaran Fisika di MTs Al-Islam. Sebagai orang yang pernah tinggal di Jogja, nyentrik adalah nama tengahnya. Darinya aku belajar tentang kesetaraan, tentang kepenulisan, tentang perjuangan, tentang menjadi beda, tentang pemberontakan. Dia adalah guru yang selalu menolak memakai sepatu. Katanya itu warisan kolonial dan tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Baru kali itu aku memikirkan dampak kolonialisme dalam hal yang sangat sepele, budaya sepatu. Secara logis dia menjelaskan bahwa Indonesia itu beriklim tropis, mudah sumuk dan berkeringat. Dengan memakai sepatu, kaki jadi lembab dan bau. Budaya sepatu ada di eropa dan negara barat karena mereka perlu menghangatkan kaki mereka. Masuk akal. Sebagai kompromi, dia selalu memakai sepatu sandal dan berkaos kaki jari. Hal terakhir ini yang kutiru sampai sekarang, kaos kaki berjari lima.

Namun yang paling berkesan dari pak Yank adalah dia mengajariku tentang kesetaraan. Sejak awal dia tak pernah mau dianggap guru, melainkan teman belajar. Baginya, dia tahu lebih banyak dari murid-muridnya hanya karena dia lahir lebih dulu dan belajar lebih dulu. Dalam kelas-kelasnya dia menerapkan metode andragogi (bukan anda grogi) sebagai kebalikan dari pedagogi. Menurutnya, murid bukanlah botol kosong tanpa pengetahuan. Tiap orang memiliki pengetahuan, minimal pengalaman, yang harus dihargai. Pendidikan adalah upaya menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman masing-masing peserta didik. Dari pak Yank jualah aku mengawali ketertarikanku pada pengembangan sumber daya manusia, merancang pelatihan, mencoba permainan untuk pembelajaran, dan menjadi fasilitator bagi jiwa-jiwa yang sedang berkembang.

Pak Yank ini pula yang mengenalkanku pada UGM. Dia orang yang pertama kumintai pertimbangan ketika akan ikut UM UGM. Dia pula yang menanggung 150.000 rupiah biaya pendaftaran UM UGM. Sementara rencana itu kusembunyikan dari orang rumah. Sudah pasti keluarga, terutama bapak, tak akan mengijinkanku kuliah. Selain karena ada tanggungan Qur’an juga karena kondisi ekonomi keluarga sangat tidak memungkinkanku untuk kuliah. Aku tahu diri. Akan kubuang bayangan kuliah di Jogja. Tapi sebelum itu, aku mau memastikan, mengukur kemampuan seandainya aku ikut UM UGM, adakah kemungkinan aku diterima. Jika pun aku gagal kuliah karena tiada restu atau biaya, aku tidak akan menyesal karena aku tahu, secara otak, aku mampu. Lalu datanglah aku mengadu pada Pak Yank. Kuutarakan maksudku. Dia setuju dan menjamin biaya registrasi UM UGM. Dia pula yang mewanti-wantiku untuk tidak mengulangi sejarahnya, menjadi KADOGAMA.

3.  Pak Udik Agus Dwi Wahyudi.
Guru yang satu ini kutemui ketika aku duduk di bangku SMA. Itu pun baru intens di tahun terakhir masa studiku. Beliau adalah Wakasek Kesiswaan, sedangkan aku mantan ketua OSIS. Kebetulan juga aku masuk program Bahasa di mana Pak Udik mengampu Sastra Indonesia. Ceritanya, Pak Udik yang sekaligus pembina teater BIASSUKMA membutuhkan seorang pemain teater. Aku lupa judul lakon yang dimainkan, tetapi secara garis besar menceritakan tentang Hari Akhir dan Pembalasan. Pak Udik butuh seorang yang bisa membaca qur’an dengan baik. Pilihannya jatuh padaku mungkin hanya karena peci yang kukenakan sehari-hari. Jadilah aku main teater untuk pertama kalinya dalam hidup. Tak ada make up. Cukup baju koko, peci, dan menggenggam kitab. pakaianku sehari-hari.

Sejak saat itu aku resmi menjadi anggota teater BIASSUKMA. Aku berproses secara kreatif. Latihan vokal, menjiwai karakter. Kadang-kadang kami keluar dari kepribadian kita dan berubah menjadi burung, ayam, anjing, atau hewan lainnya. Bersuara sebagaimana burung bersuara, bergerak, terbang bebas. Kadang kami dibawa ke pantai Karang Kebagusan. Kami diminta fokus pada satu objek yang menarik perhatian. Bisa suara ombak, bisa warna pasir, bisa deru angin. Lalu mengekspresikan pengamatan kami ke dalam satu kalimat. Itulah puisi.

Namun yang kupelajari dari Pak Udik lebih dari itu. Bukan hanya kepekaan nurani dari teater dan pelajaran sastra di kelas, tapi juga cerita-cerita keseharian di rumah. Waktu itu aku sangat sering berkunjung ke rumah Pak Udik. Pak Udik ini tempatku curhat. Benar-benar curhat layaknya anak muda. Bagaimana harus bersikap pada adik kelas yang kusuka. Bahkan karena terlalu sering aku curhat, suatu hari Pak Udik menghadiahiku foto candid close up dari adik kelas yang kebetulan terdokumentasi di kantor SMA. Di lain kesempatan Pak Udik menceritakan kisah-kisah cintanya semasa muda. Bagaimana pergerakan nasib membawanya kepada Bu Alfiah, istrinya tercinta. “Kita tidak bisa memaksa orang untuk mencintai kita. Kalau sekarang kamu masih mencintainya, nikmati saja perasaanmu saat ini. Karena suatu saat, ketika misalnya pada akhirnya dia menyukaimu, belum tentu saat itu kamu mau,” nasehatnya waktu itu.

Dari Pak Udik aku benar-benar belajar menjadi seorang laki-laki, seorang suami yang bersahabat bagi istri dan ayah yang mengayomi bagi anak-anaknya. Darinya aku belajar bahwa seorang suami seyogyanya menemani istrinya ketika proses melahirkan. Karena bersamaan dengan lahirnya jabang bayi, lahir pula jiwa/naluri kebapakan dari suami. Melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana perjuangan istri bertaruh nyawa demi buah hati akan membuat suami berpikir seribu kali untuk menikah lagi. Juga kenyataan bahwa pada akhirnya, relasi suami istri cenderung bermetamorfosis jadi hubungan dua sahabat yang bersama-sama membesarkan anak-anaknya.

Terima kasih guruku.

Kota Sejuta Romansa, 27102013

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s