[Obituari] Sugeng Kondur, Ki Slamet Gundono


Seringkali kita, manusia, baru menemukan makna tepat ketika pembawanya sudah tiada. Mungkin aku salah satunya. Sudah sangat lama aku mendengar tentang Ki Slamet Gundono dengan Wayang Suket-nya. Waktu itu pikirku, apa istimewanya Wayang Suket. Mungkin ia tak lebih dari sekadar diferensiasi wayang saja selain kulit, golek, beber, atau media wayang lainnya. Sedangkan cerita wayang, paling ya itu-itu saja. Aku pun melewatkan beberapa kesempatan menyaksikan langsung pentas Wayang Suket yang pernah ada.

 

Kini aku tahu, bukan suket, kulit, atau wayangnya yang penting tapi kepala siapa yang memainkan wayang. Kepala ki Slamet jelas beda dengan kepala Ki Enthus misalnya. Bagi Ki Slamet, Suket hanya salah satu media saja. Menurutnya, keluhuran nilai wayang kulit tidak hanya dari wayang atau ceritanya saja tetapi juga ‘kulit’ itu sendiri. Penggunaan kulit dalam wayang menyimpan pesan bahwa inilah kulit permukaan yang menyerupai manusia dengan segala intriknya. Bahwa segala kejadian jangan dilihat hanya dari kulitnya saja. Lakon-lakon dalam pertunjukan wayang Ki Slamet tidak bermaksud menyindir, menyinggung langsung manusia yang menontonnya. Menurut Ki Slamet, misi pertama dari setiap pementasan wayangnya adalah untuk tidak menyakiti siapa pun. Walaupun narasi atau kalimat yang digunakan jelas-jelas kritis sosial yang tajam, cerdas dan lugas, blak-blakan khas budaya pesisiran.

 

Dalam pementasan Wayang Suro yang mengisahkan perjuangan dan kegetiran Sayyidina Hussein, cucu Rasulullah, dalam tragedi Karbala Ki Slamet menamai beberapa fragmennya dengan kata kunci ‘kepala’ (Bisma Meminta Kepala, Mencari Kepala, Apa Isi Kepala Kalian?, Kepala Siapa di Ujung Tombak). Merujuk pada kisah Sayyidina Husein yang dipenggal kepalanya dan dipamerkan ke seantero kota. Dalam fragmen “Apa Isi Kepala Kalian?” Ki Slamet menyentil para kameramen tentang pekerjaan mereka. Apakah mereka masih menggunakan kepala mereka sendiri, pikiran mereka sendiri dalam mengambil gambar atau sudah ditentukan oleh bos mereka. 

 

Suket hanyalah satu dari sekian benda yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan, juga yang digunakan oleh Ki Slamet Gundono dalam tiap pementasan. Ia sering menggunakan benda-benda lain yang tak lazim digunakan dalam pakem pewayangan. Baginya tiap benda memiliki sejarahnya, memiliki perjalanannya sebagai benda. Ketika kita berjalan di pinggir pantai lalu menemukan sebongkah batu karang, bisa jadi ia telah melalui perjalanan panjang untuk sampai ke depan kaki kita. Untuk itu kita perlu menghargai dan mempelajari perjalanan benda-benda tersebut agar perjumpaan kita tidak sia-sia, agar kita bisa saling memberi makna. Makna itulah yang kita ingat, kita simpan sebagai bekal melanjutkan perjalanan berikutnya. Sebagai contoh misalnya Ki Slamet Gundono terbiasa hidup di daerah yang minim air bersih, di Desa Jomboran. Ketika bertemu dengan air yang penuh polusi dari limbah pabrik sekitar ia bertanya-tanya apakah air ini sejak dari mulanya sudah kotor? Dari mana air ini mengalir? Apakah tidak pernah ada air bersih di desa ini? dan seterusnya. Dari situ Ki Slamet menyelami seluk beluk air dan mementaskannya dalam bentuk Wayang Air dengan lakon Banyu, Ingsun Takon Apa Sira Punya Ibu? (Air, Aku Bertanya Apakah Kau Punya Ibu?).

 

Di lain kesempatan ia juga menyusun lakon Wayang Kondom bersama seniman Prancis Elizabeth Inandiak. Ceritanya bermula dari Elizabeth yang tertarik dengan Serat Centhini. Ia menafsir ulang Serat Centhini ke dalam bahasa Prancis. Bagi pembaca awam mungkin memahami Centhini sebagai sastra porno ala Jawa karena mengumbar sisik melik kehidupan ranjang. Diceritakan bahwa tokoh dalam Centhini adalah petualang seks. Ia melakukan eksplorasi seksual dengan banyak perempuan, berbagai bentuk dan rasa. Sampai pada akhirnya ia menemukan Rasa Sejati, Penyatuan dengan Zat Ilahi, manunggaling kawulo lan gusti melalui seks. Ki Slamet diajak Elizabeth untuk membuat pementasan berdasarkan cerita itu dan lahirlah Wayang Kondom.

 

Masih banyak lagi eksplorasi dan apresiasi Ki Slamet terhadap benda-benda atau peristiwa yang ditemuinya seperti Suluk Salju, Wayang Multimedia, Wayang Nggremeng, Wayang Lindur dll.

 

Hari ini Ki Slamet Gundono berpulang. Banyak orang tiba-tiba merasa kehilangan. Teriring doa dari kami, para suket, para wayang, yang pasrah menunggu giliran.

Sugeng Kondur, Salam kagem Gus Dur.

limajanuariduaribuempatbelas

 

Beberapa dokumentasi pementasan Ki Slamet bisa dilihat di sini. 

Apa Isi Kepala Kalian? http://www.youtube.com/watch?v=eEKBufIA5Pk

Profil Ki Slamet http://www.youtube.com/watch?v=17P4v6i52vE

Suluk Ozon http://www.youtube.com/watch?v=DxJ6XHCMBME

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s