Tentang Mati Rasa


“Kamu agak gemuk sekarang”

“Kamu kelihatan capek ya?!”

“Eh rambutmu kenapa? Kok makin botak aja”

Tak peduli seberapa menyenangkan hari yg baru saja kau jalani, cukup satu kalimat pendek untuk merusaknya. Pernah mengalami kan?!

Itu karena otak lebih cepat terangsang untuk mengingat interaksi negatif daripada yang positif. Penelitian di bidang neuroscience menemukan fakta bahwa bagian otak yg lebih tinggi dapat memodifikasi bagaimana bagian otak yg lebih rendah berfungsi. Bahwa jika kita bisa menggunakan intensi (niat) dan atensi (perhatian) kita secara mendalam/fokus, kita mampu mengatasi bias negatif (negative thinking, prasangka buruk, sikap puskaptis eh skeptis) dari otak kita.

Jadi sangat mungkin bagi kita untuk mengendalikan seburuk apa sebuah pengalaman buruk memengaruhi kita. Dengan kata lain, kecuali bahwa kita mengidap depresi secara klinis, menjadi tidak bahagia/kecewa faktanya adalah pilihan semata.

“Sticks and stones may break my bones. But words will never hurt me.” Demikian kalimat sok bijak mengajarkan.

Kata-kata memang tidak bisa melukai fisik. Tapi luka yg disebabkan oleh kata-kata dalam banyak kasus lebih susah disembuhkan. Satu saja kalimat negatif yg kita terima di masa kecil bisa mengubah dan memengaruhi cara hidup bahkan nasib kita hingga tua.

Ketika kita memegang secangkir kopi panas atau kaki terantuk batu, ada bagian otak tertentu yang terstimulasi aktif sehingga kita merasakan sakit atau mengidentifikasi pengalaman itu sebagai sebuah pengalaman menyakitkan. Bagian otak yang sama pula yang terstimulasi aktif ketika kita mengalami penolakan secara sosial, pengkhianatan dari teman, diselingkuhi pasangan.

Itu artinya luka di jiwa sama menyakitkannya dengan luka fisik.

Ilmu pengobatan telah mampu mengembangkan ramuan kimia pengurang rasa sakit fisik. Beberapa di antaranya bahkan terbukti mampu mengurangi rasa sakit secara emosi. Jadi mungkin suatu saat obat yg tepat untuk patah hati cukup dengan menelan 2 butir Tylenol sebelum tidur. Manusia beradaptasi dengan segala sesuatu yg mengancam, tak terkecuali pada penderitaan. Ada sebagian manusia yg memilih menghindar, membuang kata sakit, luka, derita dari kamus hidupnya. Ada yg memilih untuk pelan-pelan menikmati penderitaan sebagai satu-satunya realitas yang pantas diterimanya. Ada juga yang memilih mematikan syaraf pengenal rasa sakit atau radar emosinya.

Tapi apakah me-matirasa-kan diri, sebagai self defense mechanism, selalu baik untuk kesehatan kita?!

Semakin kita mengenal penderitaan, dengan segala varian rasa, semakin kita mampu mengenali, menghargai sensasi dan pengalaman yang kita sukai. That’s the art of contrast.

Jika kita tidak pernah merasakan kepahitan, penderitaan, kemarahan, mungkin kita tak akan mampu menyelami samudra kebahagiaan hingga ke dasarnya. Jika kita tidak pernah tahu apa yang kita takuti, kita tidak akan pernah tahu apa arti berani. Jika kita tidak pernah mengalami kegelapan, kita akan geragapan melayani cahaya.

Sayangnya kita sekarang ini terlalu lama hidup dalam kegelapan dan gebyar kepalsuan hingga kita tak lagi mampu membedakan mana pancaran cahaya Tuhan mana kobaran api setan yang menyilaukan.

Jogja.20072014

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s