Neng Ning Nung

Reribeting rwabeda
Sakjroning sirah lan dada
Iku tanda mulur mungkrete kramadangsa
Swara pangaku-aku lan pangarep-arep donya

Yen ta karep sapa sira
Anutup hawa lan swara teka njaba
Anteng meneng kekancan peteng
Anyegur nyegara tanpa rupa
Amrih sesuci ing weninge tlaga

Kaeksi kahanan jatining diri
Dadya panyeksi ning rat lir ginanti
Mugi dumununga sira ing rasa sejati
Yen urip iku pasinaon rasa ngrumangsani

 

Yogyakarta, 01112017

Iklan

Hidup Adalah Menanam

الدني مزراءة الاخرة

(Kehidupan) Dunia adalah ladang (kehidupan) akhirat. Begitu kata para ustadz.
Kita semua adalah petani/penanam. Tugas kita menanam, menanam, dan menanam. Tiap kata dan tindakan kita adalah tanaman masa depan.
Ada yang menanam sebagai bentuk perlawanan. Ada yang menanam karena kesenangan. Semuanya sah. Karena salah satu misi kehidupan di dunia adalah MENANAM.
Selain itu, menanam juga akan mengajari kita tentang cinta kasih dan kelembutan jiwa. Menanam mengajak kita merasakan kehidupan.
Bagaimana hati kita menjadi berharap dan bersemangat ketika melihat daun pertama bersemi.
Bagaimana kita belajar tanggung jawab dan selalu ingin pulang karena ada tanaman yg hidupnya tergantung pada siraman cinta kita.
Juga bagaimana kita belajar mendengar yg tak terucap, memahami kebutuhan tanaman yg tak bisa bicara. Kita berkomunikasi dg rasa, bahasa jiwa.
Leluhur kita adalah petani sejati yg sangat paham filosofi menanam. Mereka terus menanam meski tak pasti kapan akan panen.
Ratusan tahun pendahulu kita rela menanam darah dan tubuhnya untuk kemerdekaan Indonesia. Meski bukan mereka yg menikmatinya.
Bisa jadi kemudahan-kemudahan hidup yang kita alami sekarang adalah buah dari tanaman kebaikan orang tua, simbah, dan pendahulu kita.
Lalu tanaman apa yg akan kita wariskan pada anak turun kita?!

Karma Simalakama

Mencari Buah Simalakama adalah sebuah naskah drama yang sedang diproses oleh Teater Perdikan. Pada Mocopat Syafaat tanggal 17 Juni kemarin, naskah itu dibawakan dalam format Dramatic Reading. Selama mendengarkan, pikiran saya mengembara, gagasan berlompatan, mencari persambungan dengan gagasan-gagasan di luar naskah. Ada yang persambungannya sangat personal dengan apa yang sedang saya alami adapula yang nyambung secara tema dengan problem kebangsaan.

Saya tak sempat mencatat, tak sempat pula merekam. Berikut ini adalah cara saya mengingat fragmen dari naskah tersebut. Fragmen ketika Anoman diutus oleh Ki Semar untuk mencari buah Simalakama. Dalam pencariannya ke kahyangan, Anoman ditemui Dewi Uma, istri Batara Guru. Dewi Uma, sebelum dikutuk menjadi dewi durga penguasa setra gandamayit, adalah perempuan yang cantik, genit, dan jemawil alias jawilable. Anoman memang mendapatkan buah Simalakama lengkap dengan penjelasannya dari Dewi Uma tetapi juga sempat khilaf tergoda njawil Dewi Uma. Terkonanglah adegan jawil menjawil itu oleh Batara Guru.

Singkat cerita, akibat affair kelas kahyangan tersebut, di dunia dimensi ketiga, alam mayapada, Bagong terjerat asmara dan galau tak ketulungan. Anoman yang baru saja mengalami ingin segera turun dan membantu Bagong untuk lepas dari jerat-jerat asmara. Tentu saja berbeda redaksinya tapi inti ceritanya senada.


“Jangan kau libatkan dirimu, Ngger Anoman” kata Batara Guru.
“Tapi Guru, itu Bagong menjerit minta tolong. Biar wajahnya nylekuthis, mulutnya ceriwis, komentarnya sadis, Bagong tetap putra Ki Semar. Anggota Ponokawan juga. Sama Bagong, saya tega larane tapi ora tega patine,” Sanggah Anoman.

“Lalu?” Batara Guru pura-pura tidak tahu arah bicara Anoman.
“Ya hamba harus menolongnya.” Jawab Anoman segera.

“Mengapa begitu?! Siapa yang mengharuskan?!” Batara Guru menggoda dan Anoman tetap belum menyadarinya.
“Bagong, ponokawan, dan semua ksatria putih ada di dalam lingkar pengawasan, lingkar pertemanan, dan lingkar pengabdian hamba. Hamba mengharuskan diri untuk membantu mereka.” Anoman menjelaskan dengan wajah serius.

“Begitukah, Ngger Anoman?!” Batara Guru bertanya sambil menahan senyum di ujung bibir.
Mata Anoman cukup jeli melihat senyum yang dirahasiakan itu tapi tak tahu apa maksudnya.
“Ngg… ya begitu… hamba kira sih begitu.. Lak yo begitu tho seharusnya?! Apa gimana?!” Anoman mulai ragu dan mempertanyakan kalimatnya sendiri.

Ngger Anoman. Kamu memang kera. Bukan manusia. Hatimu putih. Betapa polos dan suci niatmu mengabdi. Menjalankan perintah tanpa pernah mau tahu ada apa di balik itu. Tak peduli intrik para ksatria, tikungan iblis, atau eksperimen para dewa. Yang kamu tahu hanyalah berdharma” Batara Guru berkata dengan tatapan menerawang.

“Ampuni hamba, Batara Guru. Hamba ini memang cuma kera. Tapi mbok ya tolong kalau menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang mudah saja. Pakai bahasa manusia saja kadang gagal paham apalagi bahasa dewa. Lalu apa hubungannya dengan Bagong tadi, Guru?” Anoman tambah bingung.

“Hmmm… Begini Ngger. Soal Bagong, kamu tak usah ikut campur. Aku tahu hatimu berat melihat penderitaannya tapi itu bukan karmamu. Biarlah itu menjadi pelajaran bagi Bagong pribadi, ujian bagi solidaritas Ponokawan, terutama bagi para ksatria Pandawa agar belajar ngicipi tanggung jawab. Karma adalah salah satu bentuk Sih, atau Cinta dari para Dewa bagi makhluk, yang mengejawantah di alam mayapada.

“Melalui karma, tiap makhluk bercengkrama dengan jagad dewata. Karma tiap makhluk berbeda-beda. Sangat personal. Kalian boleh saling bekerja sama menuntaskan karma masing-masing tapi jangan sekali-kali lancang menabrak paugeran, daulat diri, makhluk lain. Itu sama saja kamu sok tahu ngajari dewa apa yang mesti dilakukan” Batara Guru menjelaskan panjang lebar.

Anoman hanya ndomblong mendengarkan.
“Ampuni hamba, Batara” meski masih bingung, Anoman menyadari ada yang salah dari sikapnya.
“Tak apa Ngger Anoman. Kamu di sini saja barang sebentar. Istirahatlah sambil kamu cari cara bagaimana membawa buah simalakama ke hadapan raja Astina.” Batara Guru menghilang dari pandangan.

Nyadran: Melacak Sangkan Merancang Paran

Makna nyadran yang utama adalah menziarahi pemikiran, pitutur, perilaku leluhur yang hidup dalam ingatan. untuk selanjutnya kita gunakan sebagai bekal melanjutkan peran kita dalam bebrayan.

cimg4187

Menjelang Ramadlan dan Syawal, masyarakat kita biasa melakukan nyekar, nyadran, berziarah dengan berkunjung ke makam keluarga, orang tua, atau leluhur kita. Terlebih sejak Muhammadiyah membolehkan umatnya berziarah, tidak lagi keukeuh pada virus TBC (Takhayul, Churafat, Bid’ah), makin ramai kuburan dikunjungi. Ritual nyekar atau nyadran umumnya dilakukan dengan membersihkan rumput, menabur bunga dan mendoakan (sebagian orang mungkin juga selfi di dekat nisan) leluhur yang telah lebih dulu meninggal dunia. Lebih beruntung sedikit jika orang tua kita menjelaskan hubungan kita dengan yang kita ziarahi. “Ini mbahmu le. Itu kuburannya pakdhe” dan semacamnya. Tradisi ini mengajari kita untuk tahu asal usul, dari mana kita berasal, terbuat dari unsur-unsur apa saja.

Lebih jauh, mestinya nyadran adalah ziarah ke alam pikiran, menelisik pengalaman orang tua, mbah, buyut, dan seterusnya. Siapa mereka, apa yang mereka lakukan, apa yang mereka perjuangankan, apa peran mereka dalam kehidupan. Sraddha berasal dari Bahasa Sanskrit memiliki dua arti. Pertama, ritual dalam agama Hindu yang didedikasikan untuk leluhur yang telah meninggal. Kedua, Sraddha juga berarti keyakinan hati atau kepercayaan tentang diri. Keyakinan dapat mewujud dalam beraneka rupa. Bhagavadgita mengajarkan bahwa eksistensi seseorang terbentuk dari apa yang dia yakini. Bahkan keyakinan, pemikiran seseorang itu yang menjadi penanda eksistensi seseorang meski wadagnya telah tiada.

Dengan pemahaman Sraddha demikian, kita jadi paham bahwa makna nyadran yang utama adalah menziarahi pemikiran, pitutur, perilaku leluhur yang hidup dalam ingatan. untuk selanjutnya kita gunakan sebagai bekal melanjutkan peran kita dalam bebrayan. Ketertarikan kita pada dunia bisnis ternyata mirip dengan buyut kita yang dulunya adalah pedagang dari Gujarat. Saya tidak hendak mengatakan bakat adalah 100% faktor keturunan. Saya lebih nyaman mengatakan ada pola-pola peran yang mirip dan entah bagaimana bisa terulang antargenerasi.

Sebagai ilustrasi, bapak saya adalah seorang tukang kayu sembari jadi guru madrasah di sore dan malam hari. Bapak termasuk orang yang supel sekaligus keras kepala. Bapak saya tak akan ragu untuk menengahi pihak-pihak yang sedang berkonflik, terutama jika itu masih saudara. Sementara ibu saya berasal dari keluarga kyai kampung yang hidup dari mengolah lahan. Ibu saya punya kebiasaan untuk menanam pohon yang berbuah di halaman rumah. sesempit apapun, sepenuh apapun lahannya pasti ibu saya akan mencari cara untuk menanam. Selanjutnya Mbah Mun, kakek dari bapak saya di masa mudanya adalah seorang pemuda kampung berperawakan kecil, pendiam. Mbah Mun bekerja sebagai tukang kayu dan punya kebiasaan untuk menampung pemuda yang ingin ajar nyambut gawe (belajar bekerja).Wong lanang yen iso golek pangan, ora bakal dadi bajingan” kira-kira begitu prinsip Mbah Mun. Saat itu Mbah Mun pernah menampung tukang hingga 15 orang. Kalau dilihat secara manajemen bisnis modern, apa yang dilakukan Mbah Mun jelas tidak menguntungkan.

Dalam urusan asmara, Mbah Mun muda termasuk tipikal lelaki pemalu tapi justru berhasil menyunting kembang desa. Gara-gara itu, Mbah Mun pernah dicegat dan nyaris dikeroyok para pemuda kampung sebelah. Sementara Mbah Bariyah, istrinya adalah gadis berparas cantik nan pemberani, anak dari pedagang kain di pasar. Mbah Bariyah pernah menghilang dari rumah 3 hari karena akan dipaksa menikah dengan lelaki yang tak dicintainya. Gara-gara perbuatannya, pihak laki-laki memperkarakan sampai di pengadilan dan menuntut ganti rugi. Jadi bisa dibayangkan mengapa saya menjadi seperti saya yang sekarang. Karena bagaimana pun kita tak bisa lari dari garis nasib dan nasab.

Kita adalah resultan dari rantai aksi-reaksi antara Cahaya, Cinta, dan Kehendak Mencipta yang bermuara pada dentuman pertama semesta.
Yogyakarta, menjelang buka puasa hari pertama 2016.

Dewa Amral Ngoyak Kayangan

Sabtu malam 5 Juli lalu saya diperjalankan Allah untuk menyaksikan pentas Wayang Orang Ngesti Pandowo di Taman Budaya Raden Saleh Semarang. Grup Ngesti Pandawa pernah menjadi ikon budaya kota Semarang. Grup yang dirintis oleh beberapa seniman legendaris, salah satunya ki Narto Sabdho, ini didirikan di Madiun pada 1937 dan berkembang di Semarang hingga sekarang.

Malam itu lakon yang dipentaskan bertajuk Dewa Amral.

Kisah bermula ketika dalam sebuah sidang para Dewa, Batara Guru sebagai pimpinan tiba-tiba membuat putusan. “Puntadewa telah melanggar paugeran. Ia harus menerima hukuman!”

Semua anggota DPD (Dewan Para Dewata) terkejut tapi tak berani membantah.

“Puntadewa harus dihukum mati!” demikian titah Batara Guru.

Para dewa clingak-clinguk saling menatap satu sama lain. Berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran tapi tak ada satupun yang berani bersuara. Lanjutkan membaca “Dewa Amral Ngoyak Kayangan”

Ekspedisi Papua II: Dinamika Sosial dan Ekonomi Kampung Sidomakmur

Sejarah kampung Sidomakmur bermula dari dibukanya perusahaan pengolahan udang terbesar di Indonesia milik keluarga Cendana, PT Jayanti di Wimro. Karena membutuhkan banyak pasokan udang untuk jalannya perusahaan, pemerintah membuka program transmigrasi terutama bagi nelayan-nelayan. Untuk itu di seberang Wimro dibuka permukiman untuk para transmigran cum karyawan PT Jayanti dengan nama resmi TransWimro. Tak heran jika sebagian besar nelayan di Wimro berasal dari Jawa, khususnya Jawa Timur meliputi Gresik, Probolinggo, dan Banyuwangi). Kampung TransWimro dikenal juga dengan sebutan RKI, singkatan dari Rumah Kayu Indonesia, karena semua rumah di sana dari dulu hingga sekarang sebagian besar berbahan utama kayu.

Sekitar tahun 2003, para sesepuh transmigran yang sebagian besar dari Jawa, memberi nama RKI dengan nama Kampung Sidomakmur. Sebagaimana tradisi Jawa, pengubahan nama kampung tersebut dilakukan dengan upacara adat ala Jawa, lengkap dengan tumpeng dan ubarampenya. Lanjutkan membaca “Ekspedisi Papua II: Dinamika Sosial dan Ekonomi Kampung Sidomakmur”

Ekspedisi Papua II: Tenggelamnya Kapal Munaji

Sore ini aku bertukar cerita dengan ibu Sugianti. Dia mengaku keluarganya sedang dalam krisis ekonomi. Suaminya sudah tidak bekerja beberapa bulan lamanya, terutama setelah 1 perahunya karam di Bintuni. Untuk hidup sehari-hari, Sugianti mengandalkan warungnya dengan berjualan sayur mayur dan kue donat plus pisang goreng. Keluarganya menanggung hutang 50 juta dari bank. Ia tinggal di RKI bersama Pak Munaji, suaminya, dan Bagas, anaknya yang berusia 8 tahun.

Sugianti sekeluarga memulai kehidupan di RKI ini sejak 1991 ketika PT Jayanti, perusahaan pengolahan udang milik keluarga Cendana, beroperasi di Wimro yang terletak di seberang pulau. Pada tahun 1993 ia diberhentikan dan diberi pesangon Rp 115.000,-  Lanjutkan membaca “Ekspedisi Papua II: Tenggelamnya Kapal Munaji”