10th JAFF (Be)Coming ASIA: Diversity of Screen

public-lecture-1080x675

Public Lecture telah menjadi salah satu ciri khas penyemarak dalam perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF). Program ini bertujuan mengedukasi, mengapresiasi dan menegaskan keunikan Yogya.

Program Public Lecture pertama adalah Seminar (Be)Coming Asia. Acara ini digelar di Bentara Budaya, 2 Desember 2015 pukul 10.00-12.00, dipandu oleh Maulin Niam. Sedangkan pembicaranya Budi Irawanto (Direktur JAFF), Isabelle Glachant (Jurnalis dan Distributor Film dari Perancis) dan Mouly Surya (sutradara dan penulis skenario).  Keberadaan sinema Asia memang sangat saling mempengaruhi satu sama lain. Pengenalan dimulai dari karakter visual, bahasa, setting, wardrobe, dan gestur tentunya menjadi tolak ukur pembeda dengan sinema dunia lain. Kekayaan dan ketidakstabilannya Asia justru menjadi sumber artistik sinema Asia.

“Sebenarnya yang akan saya katakan disitu bahwa gagasan tentang Asia itu bisa didekati dengan banyak hal, misalnya kita bisa mendekatinya sebagai kekuatan ekonomi. Secara geografisnya batas negara Asia sebenarnya abstrak. Sehingga Asia bisa menjadi sumber inspirasi tentang penciptaan kreatif baik dalam sastra, film, dan seterusnya,” papar Budi Irawanto.

Diskusi ini menegaskan bahwa negara Asia itu berbeda-beda. Jadi agak sulit menempatkan mereka dalam satu nation yang sama dan baku. Penafsiran yang sama tentang Asia justru membuat Asia jadi tak bermakna. Banyak orang di Asia membentuk identitas hybrid karena pertemuan beraneka budaya Asia dalam dirinya.

Representasi hybriditas Asia dapat dilihat dalam film penutup JAFF tahun ini berjudul Men Save the World karya Liew Seng Tat. Sutradara ini berdarah Cina namun tinggal dan hidup di Malaysia. Liew yang keturunan Cina menceritakan Melayu dalam sudut pandangnya. Di titik ini, nasionalisme berbasis geografis tidak bisa diterapkan sepenuhnya. Banyak orang berpikir bahwa ini bukan film Melayu karena pembuatnya berdarah Cina. Namun di sisi lain, film ini benar-benar mengekspose budaya Melayu melalui setting dan pilihan gambarnya.

Perihal persoalan keresmian nasionalisme inilah yang harus disadari dan dipahami secara kritis. Eksplorasi identitas etnis suatu karakter budaya beserta ciri khas dari masing-masing kultur dapat diperankan oleh etnis lainnya maupun negara lainnya. Sebagai contoh, di Indonesia seorang etnis Batak bisa memerankan etnis Jawa tanpa meninggalkan identitasnya,begitupun sebaliknya.

Soal hybriditas Asia menjadi hal penting untuk dibicarakan dalam film. Film adalah medium perjumpaan dan pertukaran keragaman. Banyak film membincangkan kelompok minoritas yang gagal menjadi representasi bangsanya di media. Sebagai misal, suku Pattani di Thailand yang sama sekali berbeda dengan representasi Thailand yang dikenal luas. Melalui film, penonton dapat menemukan konsepsi diri tentang Asia. Sehingga kita tidak terjebak dalam penyingkiran etnis lain. Film dapat digunakan dalam politik visibilitas, menampilkan relung-relung yang tak nampak di media massa lain.

Oleh: Uswah
sumber:  https://jaff-filmfest.org/10th-jaff-becoming-asia-diversity-of-screen/

Iklan