Angka Semesta

Angka semesta selalu dalam keseimbangan tetap, sampai suatu ketika berubah.

Infinity
Angka semesta selalu dalam keseimbangan tetap, sampai suatu ketika berubah. Ketidaktahuan kita akan kepastian masa depan, ketidakmampuan kita untuk memengaruhi hasil akhirnya adalah penyeimbang yang hebat. Itu membuat dunia menjadi terlihat lebih adil. Bahwa semua sama-sama tak berdaya di hadapan ketidakpastian.
Komputer menghasilkan angka acak dengan tujuan agar kita mengumpulkan sedikit demi sedikit arti dari ketakterhinggaan jumlah kemungkinan. Deretan angka tak berakhir, pola angka yang tak selesai, selama kejadian bencana alam tiba-tiba berhenti acak. Saat kumpulan kesadaran kita bersinkronisasi, begitu juga angka-angka semesta.
Belum ada ilmu yang bisa menjelaskan cara teknologinya tapi agama bisa. Tak usah bertanya agama yang mana. Satu-satunya agama di sisiNya adalah kesadaran bulat untuk pasrah total. Dalam agama, teknologi itu disebut doa. Suatu permintaan kolektif dikirimkan secara serempak, bangkitnya harapan, hilangnya ketakutan, berbagi perasaan dan makna hidup dengan sesama makhluk, menyebabkan angka semesta menuju koordinat harmoni.
Haruskah gunung-gunung bergolak lagi, gunung es melelehkan diri, bumi menggeser diri, kelompok manusia saling hujat, saling usir, saling serang lagi agar kita mengakui kesalahurusan, kelancangan, sekaligus ketidakberdayaan kita mengatasi kerusakan bumi akibat ulah tangan kita sendiri?! Hingga akhirnya kita terpaksa menyelaraskan energi yang sama, berdoa dengan permintaan yang sama.
Aman aman British Raya aman.
Aman aman Turki aman.
Aman aman IndonesiaRayya amaan.
-menungguvega.memandangmega. 29062016

Karma Simalakama

Mencari Buah Simalakama adalah sebuah naskah drama yang sedang diproses oleh Teater Perdikan. Pada Mocopat Syafaat tanggal 17 Juni kemarin, naskah itu dibawakan dalam format Dramatic Reading. Selama mendengarkan, pikiran saya mengembara, gagasan berlompatan, mencari persambungan dengan gagasan-gagasan di luar naskah. Ada yang persambungannya sangat personal dengan apa yang sedang saya alami adapula yang nyambung secara tema dengan problem kebangsaan.

Saya tak sempat mencatat, tak sempat pula merekam. Berikut ini adalah cara saya mengingat fragmen dari naskah tersebut. Fragmen ketika Anoman diutus oleh Ki Semar untuk mencari buah Simalakama. Dalam pencariannya ke kahyangan, Anoman ditemui Dewi Uma, istri Batara Guru. Dewi Uma, sebelum dikutuk menjadi dewi durga penguasa setra gandamayit, adalah perempuan yang cantik, genit, dan jemawil alias jawilable. Anoman memang mendapatkan buah Simalakama lengkap dengan penjelasannya dari Dewi Uma tetapi juga sempat khilaf tergoda njawil Dewi Uma. Terkonanglah adegan jawil menjawil itu oleh Batara Guru.

Singkat cerita, akibat affair kelas kahyangan tersebut, di dunia dimensi ketiga, alam mayapada, Bagong terjerat asmara dan galau tak ketulungan. Anoman yang baru saja mengalami ingin segera turun dan membantu Bagong untuk lepas dari jerat-jerat asmara. Tentu saja berbeda redaksinya tapi inti ceritanya senada.


“Jangan kau libatkan dirimu, Ngger Anoman” kata Batara Guru.
“Tapi Guru, itu Bagong menjerit minta tolong. Biar wajahnya nylekuthis, mulutnya ceriwis, komentarnya sadis, Bagong tetap putra Ki Semar. Anggota Ponokawan juga. Sama Bagong, saya tega larane tapi ora tega patine,” Sanggah Anoman.

“Lalu?” Batara Guru pura-pura tidak tahu arah bicara Anoman.
“Ya hamba harus menolongnya.” Jawab Anoman segera.

“Mengapa begitu?! Siapa yang mengharuskan?!” Batara Guru menggoda dan Anoman tetap belum menyadarinya.
“Bagong, ponokawan, dan semua ksatria putih ada di dalam lingkar pengawasan, lingkar pertemanan, dan lingkar pengabdian hamba. Hamba mengharuskan diri untuk membantu mereka.” Anoman menjelaskan dengan wajah serius.

“Begitukah, Ngger Anoman?!” Batara Guru bertanya sambil menahan senyum di ujung bibir.
Mata Anoman cukup jeli melihat senyum yang dirahasiakan itu tapi tak tahu apa maksudnya.
“Ngg… ya begitu… hamba kira sih begitu.. Lak yo begitu tho seharusnya?! Apa gimana?!” Anoman mulai ragu dan mempertanyakan kalimatnya sendiri.

Ngger Anoman. Kamu memang kera. Bukan manusia. Hatimu putih. Betapa polos dan suci niatmu mengabdi. Menjalankan perintah tanpa pernah mau tahu ada apa di balik itu. Tak peduli intrik para ksatria, tikungan iblis, atau eksperimen para dewa. Yang kamu tahu hanyalah berdharma” Batara Guru berkata dengan tatapan menerawang.

“Ampuni hamba, Batara Guru. Hamba ini memang cuma kera. Tapi mbok ya tolong kalau menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang mudah saja. Pakai bahasa manusia saja kadang gagal paham apalagi bahasa dewa. Lalu apa hubungannya dengan Bagong tadi, Guru?” Anoman tambah bingung.

“Hmmm… Begini Ngger. Soal Bagong, kamu tak usah ikut campur. Aku tahu hatimu berat melihat penderitaannya tapi itu bukan karmamu. Biarlah itu menjadi pelajaran bagi Bagong pribadi, ujian bagi solidaritas Ponokawan, terutama bagi para ksatria Pandawa agar belajar ngicipi tanggung jawab. Karma adalah salah satu bentuk Sih, atau Cinta dari para Dewa bagi makhluk, yang mengejawantah di alam mayapada.

“Melalui karma, tiap makhluk bercengkrama dengan jagad dewata. Karma tiap makhluk berbeda-beda. Sangat personal. Kalian boleh saling bekerja sama menuntaskan karma masing-masing tapi jangan sekali-kali lancang menabrak paugeran, daulat diri, makhluk lain. Itu sama saja kamu sok tahu ngajari dewa apa yang mesti dilakukan” Batara Guru menjelaskan panjang lebar.

Anoman hanya ndomblong mendengarkan.
“Ampuni hamba, Batara” meski masih bingung, Anoman menyadari ada yang salah dari sikapnya.
“Tak apa Ngger Anoman. Kamu di sini saja barang sebentar. Istirahatlah sambil kamu cari cara bagaimana membawa buah simalakama ke hadapan raja Astina.” Batara Guru menghilang dari pandangan.

Kata-kata

“Kemana perginya kata setelah ia diucapkan?
Kemana perginya pikiran setelah ia dituliskan?”

Selalu terasa lucu dan nggatheli tiap kali ingat bagaimana Allah menegurku dengan kata-kataku sendiri. Teman-teman Diskusi Martabat menyebutnya dengan istilah Kena Bandhilan. Tapi kena bandhilan itu kalo kita ga menyadari prosesnya sedangkan kalo sejak awal tahu bahwa kata-kata, persepsi dan pengetahuan yang kita yakini akan menuntut tanggung jawab itu namanya Kulakan Bandhilan.

Seorang dosen pernah mengawali sesi pagi dengan pertanyaan, “Kemana perginya kata setelah ia diucapkan? Kemana perginya pikiran setelah ia dituliskan?” Apakah kata-kata kita tersimpan di suatu tempat seperti kode-kode digital yg tersimpan di server awan?

Kata, suara, pikiran kita adalah getaran/gelombang. Begitu selesai diucapkan kata itu berputar-putar menyelubungi diri kita sebagai energi. Sebagaimana hukum energi, ia akan mencari, menarik gelombang yg sefrekuensi. Ketika koordinat ruang dan waktunya tepat, energi itu kembali menguat dan memunculkan koordinat rasa yang akurat. Di situlah momentum kita untuk mengingat. Kalau perlu mencatatnya sebagai pelajaran dari pengalaman. Apakah rasa itu yg jiwa kita inginkan ataukah kita berendah hati merevisi agar relung hati tak tersakiti. Seperti kata lagunya Letto, “semestinya kata-kata cerminkan jiwa… kini saatnya engkau berhenti melukai relung hati”

“Hidup adalah perjuangan”, kata Rendra. “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.” Mungkin terlalu berat dibayangkan bagaimana mengubah semuanya tapi setidaknya kita bisa memulainya dengan lebih memperbaiki kata-kata kita.

Selamat hari Jumat, utamakan Selawat. 🙂

Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah dalam Nikah

Bahwa kehidupan adalah medan juang, samudra pembelajaran. Keluarga adalah sampan yang kita kemudikan. Wadud dan Rahmah adalah dua kayuh untuk mendayung sampan. Ibarat dua sayap yang membantumu terbang.

sakinah_mawadah_warahmah_by_alvinhenanda-d79176o

Maukah kau menikah denganku? – bisa jadi perlu ditilik dengan perspektif yang rumit.” (Dian Arymami)

Penjabaran mbak Dian memang rumit – jelas rumitlaah Cinta level disertasi je – tapi sebenarnya belum seberapa rumit. Ada penjelasan yang lebih rumit tentang pernikahan sampai tingkat galaksi semesta. Sejauh yang kupelajari, pola perjodohan, couple-mating terentang dari level atom hingga galaksi. Bahwa sel-sel melakukan penyatuan untuk berkembang menjadi organisme yang lebih kompleks. Bahwa bintang dan galaksi juga melakukan ‘act of mating‘ (www.independent.co.uk).

Tapi itu bahasan untuk lain kesempatan saja. Kali ini aku ingin menawarkan pemaknaan alternatif saja tentang doa pernikahan. Bukan kebetulan juga kukira ketika tadi pagi tiba-tiba ada pesan masuk dari seorang kawan lama menanyakan “Am, doa golek jodoh opo yo?” *nggg

Dalam budaya kita, terutama Islam, doa yang sering diucapkan kepada kedua mempelai adalah semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Sakinah biasa dimaknai tentram, tenang, diam. Sakinah dari kata sukun (berhenti, diam). seperti lagunya Anji Cintaku Berhenti di Kamu dek. Lalu mawaddah dari kata wadud dan rahmah (seakar dengan kata rahman rahim) yang memiliki arti kurang lebih sama, Cinta, kasih dan sayang. Meski antara wadud, rahman, maupun rahiim memiliki nuansa rasa yang berbeda.

Wadud atau mencintai bisa kita maknai sebagai kualitas emosi yang selalu ingin memberi, segala tindakan yang kita persembahkan untuk orang/sesuatu yang kita cintai. Wadud juga menyimpan makna kelapangan atau kekosongan. Dengan kata lain, wadud adalah cinta yang memberi. Energi yang selalu mendorongmu untuk merayu, mendekat, lalu menyatu bersama kekasihmu. Sementara rahmah mengandung makna cinta yang melayani, menampung, ngemong. Untuk bisa melayani, menampung, ngemong, seseorang harus memiliki keluasan pandang, kelapangan hati untuk menerima apapun yang dimiliki, dibutuhkan, dan diminta oleh orang/sesuatu yang kita sayangi. Singkat kata, rahmah adalah cinta yang menerima, tresna nampa. Keluasan hati menampung. Ruang yang kau sediakan untuk berlangsungnya segala dinamika cintamu.

Lalu di mana posisi sakinahnya?

Sakinah adalah keadaan, state of things. Sakinah adalah output dari proses pernikahan berupa harmoni, titik equilibrium, ketika semuanya berada di titik kesetimbangan. Konsep sakinah dalam pernikahan sendiri bukan keadaan yang tetap. Sebagaimana alam semesta selalu dalam proses menuju harmoni. Tidak ada jaminan bahwa ketika keharmonisan keluarga sudah kita dapat, itu akan berlangsung selamanya. Akan ada perubahaan konstelasi, kesadaran diri, kebutuhan ekonomi, status sosial dan lain sebagainya yang menggoyahkan kesakinahan keluarga.
Pertanyaannya adalah, apakah kita mau terus berupaya ‘li-taskunuu ilaiha‘ (mengupayakan kedamaian dalam keluarga dengan memberikan kebahagiaan pada pasangan) bukan ‘li taskunuu fiiha‘ (mencari kedamaian apalagi bahagia dari pernikahan). Mas Sabrang “Noe” Panuluh pernah serius berkelakar barang siapa menikah karena mencari bahagia, niscaya dia akan kecewa.

Dengan begini, kita bisa mengucapkan doa “semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah” dengan positioning yang lebih jelas. Bahwa kehidupan adalah medan juang, samudra pembelajaran. Keluarga adalah sampan yang kita kemudikan. Wadud dan Rahmah adalah dua kayuh untuk mendayung sampan. Ibarat dua sayap yang membantumu terbang.

Mungkin kalau mau lebih lengkap doanya jadi seperti ini “Selamat mengaruhi samudra dengan bahtera bernama keluarga, dengan kayuh mawaddah dan kayuh rahmah dari Allah. Semoga dengan kedua kayuhmu kalian akan senantiasa sakinah menghadapi gelombang samudra kehidupan dari arah yang tak disangka-sangka.

Sudahkah kita mengasah kayuh cinta kita?

 

Kota Sejuta Romansa, 27 April 2016

Tentang Mati Rasa

“Kamu agak gemuk sekarang”

“Kamu kelihatan capek ya?!”

“Eh rambutmu kenapa? Kok makin botak aja”

Tak peduli seberapa menyenangkan hari yg baru saja kau jalani, cukup satu kalimat pendek untuk merusaknya. Pernah mengalami kan?!

Lanjutkan membaca “Tentang Mati Rasa”

Berubah. Sekarang!

Setiap hari, tiap saat, tiap nanodetik, dunia berubah. Partikel atom bertumbukan satu sama lain dan saling bereaksi. Manusia saling berbenturan dan mengubah arah satu sama lain.

Tapi kita manusia tidak menyukai perubahan. Kita berjuang melawan perubahan. Perubahan membuat kita takut. Takut kehilangan rasa nyaman. Takut pada ketidakpastian. Lalu kita menciptakan ilusi tentang ‘yang pasti-pasti aja’. Lanjutkan membaca “Berubah. Sekarang!”

Guru-Guru Duniaku

Membaca catatan Mas Rizal tentang Mengapa Mengajar membuatku merenung. Ingatanku mengembara mencari sosok-sosok yang mengilhamiku, membentuk karakterku, dan mewarnai perjalanan hidupku. Tulisan ini tidak bermaksud mengesampingkan peran guru-guru yang lain. Ini hanyalah bentuk apresiasi atau ucapan terima kasih pada jiwa-jiwa yang lebih dulu ada dan membimbingku sebagai jiwa yang lebih muda.

1. Ustad Mansyur Shodiq
Pertemuan pertama kami terjadi pada 1993 ketika aku memulai kehidupanku di Pondok Huffadz Kanak-Kanak Yanbu’ul Qur’an Kudus. Saat itu Ustad Mansyur juga merupakan ustad baru di situ. Beliau alumni Gontor. Penampilannya nyentrik. Sering mengenakan jaket kulit warna hitam. Pada awal pengabdiannya, beliau kemana-mana naik sepeda jengki, persis seperti yang digambarkan Ahmad Fuadi dalam novel Negeri 5 Menara. Kemudian Ustad Mansyur sempat memiliki motor Honda CB warna merah. Dengan kaca mata hitam dan jaket kulit sewarna, kami, para berandal cilik, menjulukinya TJ Hooker, karakter seorang polisi dalam serial televisi dengan judul yang sama di tahun 90an. Tentu saja kami tak berani terang-terangan menyebutnya begitu. Ustad TJ Hooker ini disukai sekaligus dibenci oleh sebagian santri.

Sebelum slogan Man Jadda Wa Jada menggejala seperti sekarang, aku sudah meneriakkannya 20 tahun silam. Ustad Mansyur-lah yang mengajari mulut kami. Dalam pelajaran bahasa Arab, ia mewajibkan kami menghafalkan mahfudzot (peribahasa dalam bahasa arab). Selain man jadda wa jada, kami hafal banyak lagi kata-kata mutiara seperti man shobaro dzofiro (barang siapa bersabar, akan beruntung). Tapi yang paling mengena di hatiku waktu itu adalah “Barang siapa menguasai bahasa Arab dan Bahasa Inggris, dia akan menguasai dunia.” Rupanya kalimat itu menjadi pondasiku ketika masa SMA aku memutuskan masuk program Bahasa, alih-alih IPA apalagi IPS. Itu pula yang melambari impianku untuk pergi ke luar negeri.

Pelajaran berikutnya yang kudapat dari ustad Mansyur adalah story telling. Setiap hari kamis sore, kami biasa merubungnya di depan koperasi pondok untuk mendengarkan dongeng. Dia bercerita sampai ujung bibirnya berbusa. Tapi kami asik saja. Tak penting apa ceritanya, biasanya sih tentang perjalanan seorang pendekar silat, tapi menurutku ceritanya begitu hidup. Waktu itu aku percaya bahwa jurus-jurus yang dia ceritakan, misalnya Ilmu Gin-Kang (meringankan tubuh), Ngrogo Sukmo (keluar dari tubuh) itu benar-benar nyata adanya. Bahkan kadang aku mengkhayal menciptakan jurusku sendiri. Di kemudian hari, aku menginisiasi program berbasis story-telling dengan beberapa teman.

Ustad Mansyur juga sering mengajak kami untuk berpetualang. Hari Jumat adalah waktu bebas bagi kami untuk keluar lingkungan pondok. Biasanya kami menggunakan hari itu untuk bermain bola di lapangan kampung atau nonton film India sebelum jumatan. Pada satu kesempatan kami, tak lebih dari 10 orang, melakukan tracking, njajah deso milang kori. Kami melintasi padang ilalang, kebun singkong, dan sungai kecil yang ada di Desa Singocandi. Kami juga melihat kegiatan sehari-hari, belajar mengenali mata pencaharian penduduk desa. Singocandi terkenal sebagai sentra sandal kulit imitasi dan produsen jagung marning. Kami melihat bagaimana warga menjemur jagung setelah direbus, menggoreng kacang tanah di dalam tong yang diletakkan horizontal.

Dalam kesempatan lain, ustad mansyur mengajari kami melakukan lompatan harimau. Dia memberi contoh lebih dulu. Beberapa teman kami, mulai 4, 5, bahkan 7 orang duduk berjajar dengan posisi doggy, lalu dia melompati semua dari samping. lalu berguling di sisi seberangnya. Tentu saja kami tak mampu menirunya. Dia memberi kami latihan dasar. Hanya satu orang yang berlutut dengan posisi punggung rata-rata air. lalu kami bergantian koprol dengan bertumpu punggungnya. Rasanya pede sekali kalau suatu saat aku akan jadi pesilat.

Suatu ketika dalam kegiatan tracking, kakiku tersandung pangkal pohon sehabis ditebang. Kulihat tulang kecil di sebelah tulang keringku. Berwarna putih sebelum akhirnya berubah merah bersimbah darah. Dengan cekatan ustad mansyur melihat lukaku dan meludahinya. Aku manut saja. Jarak kami dari pondok masih jauh. Kurang lebih 2-3 kilometer. sementara aku tak kuasa berjalan sendiri. kalau dipaksa, pasti pendarahannya akan semakin parah. Lalu Ustad Mansyur membuat tandu dari bahan seadanya. batang pohon seukuran tongkat dan tali pramuka. Dia membuatnya seorang diri. Lalu secara bergantian teman-teman menggotongku di atas tandu. Selembar bendera merah putih digelar di atas tubuhku karena terik matahari mulai mengganggu.

Di kemudian hari, aku aktif di Pramuka dan PMR di tingkat Penggalang. Berkali-kali mewakili MTs Al-Islam dalam lomba-lomba ketangkasan Pramuka dan PMR. Aku pernah hafal di luar kepala sandi morse dan semaphore. Membuat tandu, membebat tangan atau kaki yang cedera, memandikan pasien di tempat tidur atau mendirikan bivak (tenda darurat dari selembar jas hujan) dalam waktu singkat.

Bukan alumni Gontor kalau tidak bisa bahasa asing. Dari Ustad Mansyur-lah aku pertama kali belajar bahasa asing, yaitu Bahasa Arab, sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Aku masih ingat ketika naik kelas 3, ada program muhadloroh (pidato dalam bahasa arab). Biasanya diadakan hari rabu malam atau ahad malam. Seminggu sebelumnya para santri yang akan berpidato akan diberi suatu naskah untuk kami hafalkan. Selama seminggu itu kami akan menghafal dan melatih intonasi, menyapu pandang, dan gerak tubuh ketika menyampaikan pidato. Pada saat hari H, para ‘penceramah’ akan memakai kostum sebagaimana para dai cilik. minimal berbaju koko dan berselendang surban. Latihan-latihan itu yang membuatku dipercaya menjadi pembawa acara dalam bahasa arab di sunatan teman pondokku di hadapan ratusan bapak yang hadir. Tak kusangka keterampilan itu banyak membantu tugas-tugasku selanjutnya ketika menjadi ketua OSIS dan harus memberi sambutan dengan berbagai tema, misalnya di acara natal atau paskah. Sungguh itu tak mudah. Di sebuah SMA Negeri, seorang ketua OSIS yang sehari-hari berpeci harus memberi sambutan di acara umat Kristiani. Tapi dari situlah aku belajar toleransi.

2. Zakariya “Pak Yankz” Anshori
Guru kedua yang kuanggap berjasa dalam hidupku adalah Pak Yank. Dia adalah jebolan Geografi UGM yang mengajar mata pelajaran Fisika di MTs Al-Islam. Sebagai orang yang pernah tinggal di Jogja, nyentrik adalah nama tengahnya. Darinya aku belajar tentang kesetaraan, tentang kepenulisan, tentang perjuangan, tentang menjadi beda, tentang pemberontakan. Dia adalah guru yang selalu menolak memakai sepatu. Katanya itu warisan kolonial dan tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Baru kali itu aku memikirkan dampak kolonialisme dalam hal yang sangat sepele, budaya sepatu. Secara logis dia menjelaskan bahwa Indonesia itu beriklim tropis, mudah sumuk dan berkeringat. Dengan memakai sepatu, kaki jadi lembab dan bau. Budaya sepatu ada di eropa dan negara barat karena mereka perlu menghangatkan kaki mereka. Masuk akal. Sebagai kompromi, dia selalu memakai sepatu sandal dan berkaos kaki jari. Hal terakhir ini yang kutiru sampai sekarang, kaos kaki berjari lima.

Namun yang paling berkesan dari pak Yank adalah dia mengajariku tentang kesetaraan. Sejak awal dia tak pernah mau dianggap guru, melainkan teman belajar. Baginya, dia tahu lebih banyak dari murid-muridnya hanya karena dia lahir lebih dulu dan belajar lebih dulu. Dalam kelas-kelasnya dia menerapkan metode andragogi (bukan anda grogi) sebagai kebalikan dari pedagogi. Menurutnya, murid bukanlah botol kosong tanpa pengetahuan. Tiap orang memiliki pengetahuan, minimal pengalaman, yang harus dihargai. Pendidikan adalah upaya menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman masing-masing peserta didik. Dari pak Yank jualah aku mengawali ketertarikanku pada pengembangan sumber daya manusia, merancang pelatihan, mencoba permainan untuk pembelajaran, dan menjadi fasilitator bagi jiwa-jiwa yang sedang berkembang.

Pak Yank ini pula yang mengenalkanku pada UGM. Dia orang yang pertama kumintai pertimbangan ketika akan ikut UM UGM. Dia pula yang menanggung 150.000 rupiah biaya pendaftaran UM UGM. Sementara rencana itu kusembunyikan dari orang rumah. Sudah pasti keluarga, terutama bapak, tak akan mengijinkanku kuliah. Selain karena ada tanggungan Qur’an juga karena kondisi ekonomi keluarga sangat tidak memungkinkanku untuk kuliah. Aku tahu diri. Akan kubuang bayangan kuliah di Jogja. Tapi sebelum itu, aku mau memastikan, mengukur kemampuan seandainya aku ikut UM UGM, adakah kemungkinan aku diterima. Jika pun aku gagal kuliah karena tiada restu atau biaya, aku tidak akan menyesal karena aku tahu, secara otak, aku mampu. Lalu datanglah aku mengadu pada Pak Yank. Kuutarakan maksudku. Dia setuju dan menjamin biaya registrasi UM UGM. Dia pula yang mewanti-wantiku untuk tidak mengulangi sejarahnya, menjadi KADOGAMA.

3.  Pak Udik Agus Dwi Wahyudi.
Guru yang satu ini kutemui ketika aku duduk di bangku SMA. Itu pun baru intens di tahun terakhir masa studiku. Beliau adalah Wakasek Kesiswaan, sedangkan aku mantan ketua OSIS. Kebetulan juga aku masuk program Bahasa di mana Pak Udik mengampu Sastra Indonesia. Ceritanya, Pak Udik yang sekaligus pembina teater BIASSUKMA membutuhkan seorang pemain teater. Aku lupa judul lakon yang dimainkan, tetapi secara garis besar menceritakan tentang Hari Akhir dan Pembalasan. Pak Udik butuh seorang yang bisa membaca qur’an dengan baik. Pilihannya jatuh padaku mungkin hanya karena peci yang kukenakan sehari-hari. Jadilah aku main teater untuk pertama kalinya dalam hidup. Tak ada make up. Cukup baju koko, peci, dan menggenggam kitab. pakaianku sehari-hari.

Sejak saat itu aku resmi menjadi anggota teater BIASSUKMA. Aku berproses secara kreatif. Latihan vokal, menjiwai karakter. Kadang-kadang kami keluar dari kepribadian kita dan berubah menjadi burung, ayam, anjing, atau hewan lainnya. Bersuara sebagaimana burung bersuara, bergerak, terbang bebas. Kadang kami dibawa ke pantai Karang Kebagusan. Kami diminta fokus pada satu objek yang menarik perhatian. Bisa suara ombak, bisa warna pasir, bisa deru angin. Lalu mengekspresikan pengamatan kami ke dalam satu kalimat. Itulah puisi.

Namun yang kupelajari dari Pak Udik lebih dari itu. Bukan hanya kepekaan nurani dari teater dan pelajaran sastra di kelas, tapi juga cerita-cerita keseharian di rumah. Waktu itu aku sangat sering berkunjung ke rumah Pak Udik. Pak Udik ini tempatku curhat. Benar-benar curhat layaknya anak muda. Bagaimana harus bersikap pada adik kelas yang kusuka. Bahkan karena terlalu sering aku curhat, suatu hari Pak Udik menghadiahiku foto candid close up dari adik kelas yang kebetulan terdokumentasi di kantor SMA. Di lain kesempatan Pak Udik menceritakan kisah-kisah cintanya semasa muda. Bagaimana pergerakan nasib membawanya kepada Bu Alfiah, istrinya tercinta. “Kita tidak bisa memaksa orang untuk mencintai kita. Kalau sekarang kamu masih mencintainya, nikmati saja perasaanmu saat ini. Karena suatu saat, ketika misalnya pada akhirnya dia menyukaimu, belum tentu saat itu kamu mau,” nasehatnya waktu itu.

Dari Pak Udik aku benar-benar belajar menjadi seorang laki-laki, seorang suami yang bersahabat bagi istri dan ayah yang mengayomi bagi anak-anaknya. Darinya aku belajar bahwa seorang suami seyogyanya menemani istrinya ketika proses melahirkan. Karena bersamaan dengan lahirnya jabang bayi, lahir pula jiwa/naluri kebapakan dari suami. Melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana perjuangan istri bertaruh nyawa demi buah hati akan membuat suami berpikir seribu kali untuk menikah lagi. Juga kenyataan bahwa pada akhirnya, relasi suami istri cenderung bermetamorfosis jadi hubungan dua sahabat yang bersama-sama membesarkan anak-anaknya.

Terima kasih guruku.

Kota Sejuta Romansa, 27102013