White Lily

What a beauty of being humble

Iklan

10399889_10208291815071605_3992782304486130100_n

White Lily on the table
What a beauty of being humble
White Lily on the water
Would you call me when we’re sober

 

Kota Sejuta Romansa, 29 Maret 2016

Percumbuan Cahaya dan Cinta

Cintailah apa yang tak tersentuh
belahan jiwa yang membuatmu utuh

Tak satupun ada tercipta
tanpa percumbuan Cahaya dan Cinta
ketika tak ada lagi tanya,
hasrat diri-kah kehendak semesta

Masihkah kau peluk tubuhku begitu erat
ketika akhirnya tubuh pun jadi mayat
Cintailah apa yang tak tersentuh
belahan jiwa yang membuatmu utuh

 

Kota Sejuta Romansa, 13 April 2016

Kinasih

Anak-anak kinasih, terlahir buta tapi hatinya jernih

Kita mesti berterima kasih
pada anak-anak kinasih
terlahir buta tapi hatinya jernih
anak-anak yatim dipandang sebelah mata
tapi tak sedikitpun dendam pada manusia

Bisa jadi Tuhan menangguhkan bencana
hanya karena mereka ada
karena Kanjeng Nabi sendiri yang menemani
hati mereka yang senantiasa sunyi

 

Jogja Kota Cinta, Semoga. 22 April 2016

Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah dalam Nikah

Bahwa kehidupan adalah medan juang, samudra pembelajaran. Keluarga adalah sampan yang kita kemudikan. Wadud dan Rahmah adalah dua kayuh untuk mendayung sampan. Ibarat dua sayap yang membantumu terbang.

sakinah_mawadah_warahmah_by_alvinhenanda-d79176o

Maukah kau menikah denganku? – bisa jadi perlu ditilik dengan perspektif yang rumit.” (Dian Arymami)

Penjabaran mbak Dian memang rumit – jelas rumitlaah Cinta level disertasi je – tapi sebenarnya belum seberapa rumit. Ada penjelasan yang lebih rumit tentang pernikahan sampai tingkat galaksi semesta. Sejauh yang kupelajari, pola perjodohan, couple-mating terentang dari level atom hingga galaksi. Bahwa sel-sel melakukan penyatuan untuk berkembang menjadi organisme yang lebih kompleks. Bahwa bintang dan galaksi juga melakukan ‘act of mating‘ (www.independent.co.uk).

Tapi itu bahasan untuk lain kesempatan saja. Kali ini aku ingin menawarkan pemaknaan alternatif saja tentang doa pernikahan. Bukan kebetulan juga kukira ketika tadi pagi tiba-tiba ada pesan masuk dari seorang kawan lama menanyakan “Am, doa golek jodoh opo yo?” *nggg

Dalam budaya kita, terutama Islam, doa yang sering diucapkan kepada kedua mempelai adalah semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Sakinah biasa dimaknai tentram, tenang, diam. Sakinah dari kata sukun (berhenti, diam). seperti lagunya Anji Cintaku Berhenti di Kamu dek. Lalu mawaddah dari kata wadud dan rahmah (seakar dengan kata rahman rahim) yang memiliki arti kurang lebih sama, Cinta, kasih dan sayang. Meski antara wadud, rahman, maupun rahiim memiliki nuansa rasa yang berbeda.

Wadud atau mencintai bisa kita maknai sebagai kualitas emosi yang selalu ingin memberi, segala tindakan yang kita persembahkan untuk orang/sesuatu yang kita cintai. Wadud juga menyimpan makna kelapangan atau kekosongan. Dengan kata lain, wadud adalah cinta yang memberi. Energi yang selalu mendorongmu untuk merayu, mendekat, lalu menyatu bersama kekasihmu. Sementara rahmah mengandung makna cinta yang melayani, menampung, ngemong. Untuk bisa melayani, menampung, ngemong, seseorang harus memiliki keluasan pandang, kelapangan hati untuk menerima apapun yang dimiliki, dibutuhkan, dan diminta oleh orang/sesuatu yang kita sayangi. Singkat kata, rahmah adalah cinta yang menerima, tresna nampa. Keluasan hati menampung. Ruang yang kau sediakan untuk berlangsungnya segala dinamika cintamu.

Lalu di mana posisi sakinahnya?

Sakinah adalah keadaan, state of things. Sakinah adalah output dari proses pernikahan berupa harmoni, titik equilibrium, ketika semuanya berada di titik kesetimbangan. Konsep sakinah dalam pernikahan sendiri bukan keadaan yang tetap. Sebagaimana alam semesta selalu dalam proses menuju harmoni. Tidak ada jaminan bahwa ketika keharmonisan keluarga sudah kita dapat, itu akan berlangsung selamanya. Akan ada perubahaan konstelasi, kesadaran diri, kebutuhan ekonomi, status sosial dan lain sebagainya yang menggoyahkan kesakinahan keluarga.
Pertanyaannya adalah, apakah kita mau terus berupaya ‘li-taskunuu ilaiha‘ (mengupayakan kedamaian dalam keluarga dengan memberikan kebahagiaan pada pasangan) bukan ‘li taskunuu fiiha‘ (mencari kedamaian apalagi bahagia dari pernikahan). Mas Sabrang “Noe” Panuluh pernah serius berkelakar barang siapa menikah karena mencari bahagia, niscaya dia akan kecewa.

Dengan begini, kita bisa mengucapkan doa “semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah” dengan positioning yang lebih jelas. Bahwa kehidupan adalah medan juang, samudra pembelajaran. Keluarga adalah sampan yang kita kemudikan. Wadud dan Rahmah adalah dua kayuh untuk mendayung sampan. Ibarat dua sayap yang membantumu terbang.

Mungkin kalau mau lebih lengkap doanya jadi seperti ini “Selamat mengaruhi samudra dengan bahtera bernama keluarga, dengan kayuh mawaddah dan kayuh rahmah dari Allah. Semoga dengan kedua kayuhmu kalian akan senantiasa sakinah menghadapi gelombang samudra kehidupan dari arah yang tak disangka-sangka.

Sudahkah kita mengasah kayuh cinta kita?

 

Kota Sejuta Romansa, 27 April 2016

Cari dalam Diam

Jika kau hendak mencari kebenaran, carilah dalam diam.

emilysquotes-com-wisdom-sad-speaker-of-truth-truth-consequences-proverb-african-proverb

Jika kau hendak mencari kebenaran
carilah dalam diam.

Jika pun kau merasa menemukan kebenaran
simpanlah dalam-dalam.

Jangan sekali-kali kau kabarkan,
kecuali jika dan hanya kepada
mereka yang siap mendengarkan

Karena kutukan bagi pengabar kebenaran adalah
KEMATIAN atau KETERASINGAN
Hidup tanpa Teman.

 

Kentungan, 02 Mei 2016