Kata-kata

“Kemana perginya kata setelah ia diucapkan?
Kemana perginya pikiran setelah ia dituliskan?”

Iklan

Selalu terasa lucu dan nggatheli tiap kali ingat bagaimana Allah menegurku dengan kata-kataku sendiri. Teman-teman Diskusi Martabat menyebutnya dengan istilah Kena Bandhilan. Tapi kena bandhilan itu kalo kita ga menyadari prosesnya sedangkan kalo sejak awal tahu bahwa kata-kata, persepsi dan pengetahuan yang kita yakini akan menuntut tanggung jawab itu namanya Kulakan Bandhilan.

Seorang dosen pernah mengawali sesi pagi dengan pertanyaan, “Kemana perginya kata setelah ia diucapkan? Kemana perginya pikiran setelah ia dituliskan?” Apakah kata-kata kita tersimpan di suatu tempat seperti kode-kode digital yg tersimpan di server awan?

Kata, suara, pikiran kita adalah getaran/gelombang. Begitu selesai diucapkan kata itu berputar-putar menyelubungi diri kita sebagai energi. Sebagaimana hukum energi, ia akan mencari, menarik gelombang yg sefrekuensi. Ketika koordinat ruang dan waktunya tepat, energi itu kembali menguat dan memunculkan koordinat rasa yang akurat. Di situlah momentum kita untuk mengingat. Kalau perlu mencatatnya sebagai pelajaran dari pengalaman. Apakah rasa itu yg jiwa kita inginkan ataukah kita berendah hati merevisi agar relung hati tak tersakiti. Seperti kata lagunya Letto, “semestinya kata-kata cerminkan jiwa… kini saatnya engkau berhenti melukai relung hati”

“Hidup adalah perjuangan”, kata Rendra. “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.” Mungkin terlalu berat dibayangkan bagaimana mengubah semuanya tapi setidaknya kita bisa memulainya dengan lebih memperbaiki kata-kata kita.

Selamat hari Jumat, utamakan Selawat. 🙂

Jalan Terbaik Tak Mesti Lurus

dead_end_road

Pikiran awam akan mengira jalur terdekat dan efektif dari 2 titik adalah sebuah garis lurus. Cara tercepat, terbaik mendapatkan sesuatu adalah dengan dengan cara straight to the point. Ibarat pergi ke suatu tempat, kita perlu memasang kacamata kuda dan lalu jalan terus, lurus. Cara menghilangkan kebaperan adalah bertanya langsung pada orang yang bikin baper. Lalu bagaimana jika jalur itu terhalang?

Ketika aliran sungai terhambat batu, sampah, atau bangunan, air akan membuat jalur lain, berkelok seolah tak patuh pada jalan lurus. Tahukah kamu bahwa itulah rute air paling efisien dari hulu ke hilir? Semesta bisa mencipta jalurnya sendiri.

Ketika 2 titik ditakdirkan untuk bersentuhan, tapi hubungan secara langsung tidak memungkinkan, semesta selalu mencarikan jalan untuk mempertemukannya. Bahkan ketika semua harapan seolah sirna, ikatan-ikatan tertentu tak bisa dipisahkan.

Ikatan-ikatan itu yg menentukan siapa diri kita dan akan menjadi seperti apa kita dalam melintasi ruang dan waktu sepanjang jalan kehidupan yang tak bisa kita prediksi lika-likunya

 

Kota Sejuta Romansa, 1 Juli 2014

air2bterjun2b8

Pujian adalah ujian

Ingatkah kapan terakhir kali kita mendapat pujian?
Apa yang orang lain puji dari diri kita?
Bentuk fisik kita yang cantik atau tampan?
Nilai ujian yang memuaskan?
Atau pekerjaan yang baru saja kita dapatkan?

Lalu, bagaimana perasaan kita ketika mendapatkan pujian tersebut?
Saya yakin ada perasaan tersanjung, terharu, terhormat, senang, gembira, atau cukup membalas dengan senyuman saja. Sebagian besar orang merasa suka ketika orang lain memuji kondisi hidup kita. Itu wajar. Secara psikologis, memang manusia cenderung memilih informasi yang menyenangkan mereka. Lagipula, kesan positif dari orang lain terhadap seseorang turut pula membentuk konsep diri yang positif. Sehingga orang tersebut memiliki kepercayaan diri dan motivasi positif dalam hidupnya. Dalam konteks jiwa yang senantiasa berkembang, pujian memang diperlukan untuk meyakinkan jiwa tahap awal agar mereka bersemangat di di bumi, sekolah kehidupan.

Dalam praktik komunikasi antarmanusia, pujian adalah jurus terjitu mempengaruhi orang. Jika ingin dapat pacar, sering-seringlah merayu dengan ucapan, “kamu cantik sekali.” Bila sedang menghadapi birokrasi, perhatikan hal detil dari penampilan petugasnya dan sanjunglah. bicaralah hal-hal personal seperti dari mana asalnya, berapa anaknya atau apa klub sepakbola favoritnya. Rupanya jurus ini dipahami benar oleh Nabi Muhammad. Baca hadisnya, perhatikan kalimatnya. Niscaya akan kita temukan betapa sering Nabi memuji keunggulan suatu kaum yang datang kepadanya.

Namun bagi jiwa yang benar-benar memperhatikan perjalanan jiwa, pujian sangat mungkin adalah ujian. Ujian tentang kerendahhatian. Bahwa sebagai yang tercipta, manusia adalah entitas yang sangat lemah, tiada berdaya dan selalu bergantung pada sang Pencipta. Sedikit saja manusia itu lengah, maka pujian yang datang itu dengan mudah melenakan kesadaran, membuat manusia bangga diri.

Bangga diri adalah salah satu penyakit hati. Penyakit hati yang apabila dibiarkan akan terus menggerogoti hati kita. Hati-hatilah dengan perasaan bangga diri. Virus bangga diri ini sangat halus sekali sampai sampai kita tidak menyadarinya. Ia tiba-tiba ada dalam hati kita. Kita merasa dengan tidak mengatakan /memamerkan kelebihan kita di hadapan orang, itu bukti bahwa kita tidak berbangga diri. Padahal sebaliknya, Orang yang mengakui dirinya tidak sombong, itulah sebenar-benarnya orang sombong.

Dalam bentuknya yang samar, perasaan bangga diri (ujub) dapat berwujud sebagai perasaan bahwa apa yang kita peroleh adalah semata-mata usaha kita. Bila sudah begitu, kita tidak bisa (atau lebih tepatnya tidak mau) menerima kegagalan apapun dalam hidup kita. Mereka merasa sudah bersabar atas cobaan Tuhan, lalu menuntutNya agar menuruti keinginannya. Mereka sembahyang, berderma, dan berbuat baik kepada sesama. Lalu atas segala ‘perbuatan baik’nya mereka merasa sudah seharusnya mendapatkan segala yang mereka angankan. Jika tidak, mereka menganggap Tuhan berlaku tidak adil. Mereka merutuk, marah, dan berontak pada Tuhan. Mereka lupa pada kalimat yang selalu mereka baca, “Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.” Bahwa tiada puja yang pantas, tiada puji yang lestari, kecuali kepunyaan Allah.

Pujian juga bisa membuat kita merasa sempurna. Ini yang sering kali menggelincirkan orang-orang yang berjuang menuju Tuhan. Bertahun-tahun menjalani ritual, ikut thoriqoh A, B, C, bahkan menjadi pengkhotbah di berbagai tempat. Bisa dikatakan pencapaian religiusitas mereka sudah tinggi. Namun mereka gagal di ujian terakhir. Mereka menganggap diri mereka lebih baik, lebih suci, lebih taqwa daripada pelacur yang terpaksa melacurkan diri karena himpitan ekonomi, atau kuli pasar yang mandi peluh seharian demi menafkahi istri dan anaknya. Akhirnya mereka merasa sempurna di hadapan Tuhan dan gagal meraih puncak pengalaman spiritual, menyaksikan Wajah Tuhan. Padahal bukankah hakikat kemanusiaan justru terletak pada ketidaksempurnaan kita?

Jauh sebelum menjadi Nabi, Yusuf muda harus membayar mahal atas perasaan bangga dirinya. Kata sohibul hikayah, Yusuf adalah orang tertampan nomer 2 setelah Muhammad SAW. Pernah suatu ketika, Yusuf mematut diri di depan cermin. Lamat-lamat ia memandangi keelokan parasnya. Entah sadar entah tidak ia berkata pada dirinya sendiri, “wajah setampan ini, kalau dijual kira kira laku berapa ya?”

Do you all guys know how Allah taught him about being humble? He turned him as no value more than a slave.

Akibat iri dengki saudara-saudara tirinya, Yusuf dibuang di dasar sumur di tengah gurun pasir. Lalu Yusuf ditemukan oleh rombongan pedagang yang kemudian menjualnya di Mesir, dengan harga murah.

“Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf” (Q.S. Yusuf: 20)

Setelah bertahun-tahun, Yusuf kembali menerima ujian berupa pujian. Ayat 31 merekam fragmen tersebut,

Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka.” Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.”

Bisakah kita membayangkan ketampanan atau kecantikan seseorang, yang ketika kita melihatnya, membuat kita tidak sadar melukai diri kita sendiri?!

Untungnya Yusuf belajar bagaimana menjaga hati, (ya iyalah, kalau nggak belajar bukan nabi dong). Yusuf pun memilih dihukum penjara untuk menjaga hatinya hanya untukNya.

Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (Q.S. Yusuf: 33)

*semoga kita terhindar dari segala penyakit hati, termasuk bangga diri.

Kota Sejuta Romansa, 18 April 2010

Kesediaan Hati Adalah Kunci

Kesediaan hati untuk memberi dan berbagi kebaikan kepada orang lain adalah salah satu rahasia hidup berkelimpahan.
Karena dengan memiliki kesediaan hati memberi dan berbagi kebaikan dengan orang lain, maka sesungguhnya kita telah mengundang kebaikan dan kemudahan datang dalam kehidupan kita, bahkan keberlimpahan akan mengalir kepada kita.

Aku MeRasa Iri pada AMROZI

aku merasa iri pada Amrozi
bukan pada sikapnya yg mengaku islami
bukan pula pada aksinya dlm tragedi Bom Bali
tapi bagaimana cara dia menghadapi mati

Aku merasa iri pada Amrozi
yang tahu kapan dia akan mati
yang diberi waktu menyiapkan diri untuk mati

Aku merasa iri pada Amrozi
yang tersenyum menjemput maut
yang disambut dengan tahlil bersaut
yang diiringi langit berkabut
seolah emosi mereka saling terpaut

Ya Allah…
jangan Kau panggil aku
kecuali dalam ibadah kepada-Mu
rela atas segala putusan-Mu

Ya Allah…
berilah aku waktu
mengusap cermin hatiku
hingga mampu pantulkan Wajah-Mu

Ya Allah…
Hidupku, nafasku, gerakku, matiku
(semoga) selalu dalam Asma-Mu