Angka Semesta

Angka semesta selalu dalam keseimbangan tetap, sampai suatu ketika berubah.

Iklan
Infinity
Angka semesta selalu dalam keseimbangan tetap, sampai suatu ketika berubah. Ketidaktahuan kita akan kepastian masa depan, ketidakmampuan kita untuk memengaruhi hasil akhirnya adalah penyeimbang yang hebat. Itu membuat dunia menjadi terlihat lebih adil. Bahwa semua sama-sama tak berdaya di hadapan ketidakpastian.
Komputer menghasilkan angka acak dengan tujuan agar kita mengumpulkan sedikit demi sedikit arti dari ketakterhinggaan jumlah kemungkinan. Deretan angka tak berakhir, pola angka yang tak selesai, selama kejadian bencana alam tiba-tiba berhenti acak. Saat kumpulan kesadaran kita bersinkronisasi, begitu juga angka-angka semesta.
Belum ada ilmu yang bisa menjelaskan cara teknologinya tapi agama bisa. Tak usah bertanya agama yang mana. Satu-satunya agama di sisiNya adalah kesadaran bulat untuk pasrah total. Dalam agama, teknologi itu disebut doa. Suatu permintaan kolektif dikirimkan secara serempak, bangkitnya harapan, hilangnya ketakutan, berbagi perasaan dan makna hidup dengan sesama makhluk, menyebabkan angka semesta menuju koordinat harmoni.
Haruskah gunung-gunung bergolak lagi, gunung es melelehkan diri, bumi menggeser diri, kelompok manusia saling hujat, saling usir, saling serang lagi agar kita mengakui kesalahurusan, kelancangan, sekaligus ketidakberdayaan kita mengatasi kerusakan bumi akibat ulah tangan kita sendiri?! Hingga akhirnya kita terpaksa menyelaraskan energi yang sama, berdoa dengan permintaan yang sama.
Aman aman British Raya aman.
Aman aman Turki aman.
Aman aman IndonesiaRayya amaan.
-menungguvega.memandangmega. 29062016

Doa Yang Terkabul

Aku masih ingat kejadian setahun yang lalu, ketika ada angin bergoyang di lempuyangan dan sekitar bioskop permata menerbangkan apa saja.
Setelah itu aku membayangkan, bagaimana rasanya berada di bawah pusaran angin kencang. melihat benda-benda beterbangan. merasakan belaian udara yang mematikan.
Jum’at kemarin doa itu terkabul. meski aku tidak ikut terbang, tapi melihat sendiri bagaimana pepohonan di depan jurusan berjatuhan, pigura PPC melayang-layang, kaca berserakan, suara mobil kesakitan tertimpa ranting besar.
Subhanallah,, sungguh aku menyaksikan setitik kuasa Allah.
Sementara mas-mas dosen mengabadikan goyangan si Topan, (mantan) Romo Nunung menyuruhku mengumandangkan adzan.
Lafadz demi lafadz panggilan pengingat Tuhan ku teriakkan di antara deru raksasa bayu.
Laa ilaaha illallah, lafadz terakhir berhasil ku selesaikan. Sejenak setelah itu emosi alam mulai reda, angin tak lagi meracau, tinggal hujan yang meraja. menuntaskan airmata yang tersisa.