Nyadran: Melacak Sangkan Merancang Paran

Makna nyadran yang utama adalah menziarahi pemikiran, pitutur, perilaku leluhur yang hidup dalam ingatan. untuk selanjutnya kita gunakan sebagai bekal melanjutkan peran kita dalam bebrayan.

cimg4187

Menjelang Ramadlan dan Syawal, masyarakat kita biasa melakukan nyekar, nyadran, berziarah dengan berkunjung ke makam keluarga, orang tua, atau leluhur kita. Terlebih sejak Muhammadiyah membolehkan umatnya berziarah, tidak lagi keukeuh pada virus TBC (Takhayul, Churafat, Bid’ah), makin ramai kuburan dikunjungi. Ritual nyekar atau nyadran umumnya dilakukan dengan membersihkan rumput, menabur bunga dan mendoakan (sebagian orang mungkin juga selfi di dekat nisan) leluhur yang telah lebih dulu meninggal dunia. Lebih beruntung sedikit jika orang tua kita menjelaskan hubungan kita dengan yang kita ziarahi. “Ini mbahmu le. Itu kuburannya pakdhe” dan semacamnya. Tradisi ini mengajari kita untuk tahu asal usul, dari mana kita berasal, terbuat dari unsur-unsur apa saja.

Lebih jauh, mestinya nyadran adalah ziarah ke alam pikiran, menelisik pengalaman orang tua, mbah, buyut, dan seterusnya. Siapa mereka, apa yang mereka lakukan, apa yang mereka perjuangankan, apa peran mereka dalam kehidupan. Sraddha berasal dari Bahasa Sanskrit memiliki dua arti. Pertama, ritual dalam agama Hindu yang didedikasikan untuk leluhur yang telah meninggal. Kedua, Sraddha juga berarti keyakinan hati atau kepercayaan tentang diri. Keyakinan dapat mewujud dalam beraneka rupa. Bhagavadgita mengajarkan bahwa eksistensi seseorang terbentuk dari apa yang dia yakini. Bahkan keyakinan, pemikiran seseorang itu yang menjadi penanda eksistensi seseorang meski wadagnya telah tiada.

Dengan pemahaman Sraddha demikian, kita jadi paham bahwa makna nyadran yang utama adalah menziarahi pemikiran, pitutur, perilaku leluhur yang hidup dalam ingatan. untuk selanjutnya kita gunakan sebagai bekal melanjutkan peran kita dalam bebrayan. Ketertarikan kita pada dunia bisnis ternyata mirip dengan buyut kita yang dulunya adalah pedagang dari Gujarat. Saya tidak hendak mengatakan bakat adalah 100% faktor keturunan. Saya lebih nyaman mengatakan ada pola-pola peran yang mirip dan entah bagaimana bisa terulang antargenerasi.

Sebagai ilustrasi, bapak saya adalah seorang tukang kayu sembari jadi guru madrasah di sore dan malam hari. Bapak termasuk orang yang supel sekaligus keras kepala. Bapak saya tak akan ragu untuk menengahi pihak-pihak yang sedang berkonflik, terutama jika itu masih saudara. Sementara ibu saya berasal dari keluarga kyai kampung yang hidup dari mengolah lahan. Ibu saya punya kebiasaan untuk menanam pohon yang berbuah di halaman rumah. sesempit apapun, sepenuh apapun lahannya pasti ibu saya akan mencari cara untuk menanam. Selanjutnya Mbah Mun, kakek dari bapak saya di masa mudanya adalah seorang pemuda kampung berperawakan kecil, pendiam. Mbah Mun bekerja sebagai tukang kayu dan punya kebiasaan untuk menampung pemuda yang ingin ajar nyambut gawe (belajar bekerja).Wong lanang yen iso golek pangan, ora bakal dadi bajingan” kira-kira begitu prinsip Mbah Mun. Saat itu Mbah Mun pernah menampung tukang hingga 15 orang. Kalau dilihat secara manajemen bisnis modern, apa yang dilakukan Mbah Mun jelas tidak menguntungkan.

Dalam urusan asmara, Mbah Mun muda termasuk tipikal lelaki pemalu tapi justru berhasil menyunting kembang desa. Gara-gara itu, Mbah Mun pernah dicegat dan nyaris dikeroyok para pemuda kampung sebelah. Sementara Mbah Bariyah, istrinya adalah gadis berparas cantik nan pemberani, anak dari pedagang kain di pasar. Mbah Bariyah pernah menghilang dari rumah 3 hari karena akan dipaksa menikah dengan lelaki yang tak dicintainya. Gara-gara perbuatannya, pihak laki-laki memperkarakan sampai di pengadilan dan menuntut ganti rugi. Jadi bisa dibayangkan mengapa saya menjadi seperti saya yang sekarang. Karena bagaimana pun kita tak bisa lari dari garis nasib dan nasab.

Kita adalah resultan dari rantai aksi-reaksi antara Cahaya, Cinta, dan Kehendak Mencipta yang bermuara pada dentuman pertama semesta.
Yogyakarta, menjelang buka puasa hari pertama 2016.

Kata-kata

“Kemana perginya kata setelah ia diucapkan?
Kemana perginya pikiran setelah ia dituliskan?”

Selalu terasa lucu dan nggatheli tiap kali ingat bagaimana Allah menegurku dengan kata-kataku sendiri. Teman-teman Diskusi Martabat menyebutnya dengan istilah Kena Bandhilan. Tapi kena bandhilan itu kalo kita ga menyadari prosesnya sedangkan kalo sejak awal tahu bahwa kata-kata, persepsi dan pengetahuan yang kita yakini akan menuntut tanggung jawab itu namanya Kulakan Bandhilan.

Seorang dosen pernah mengawali sesi pagi dengan pertanyaan, “Kemana perginya kata setelah ia diucapkan? Kemana perginya pikiran setelah ia dituliskan?” Apakah kata-kata kita tersimpan di suatu tempat seperti kode-kode digital yg tersimpan di server awan?

Kata, suara, pikiran kita adalah getaran/gelombang. Begitu selesai diucapkan kata itu berputar-putar menyelubungi diri kita sebagai energi. Sebagaimana hukum energi, ia akan mencari, menarik gelombang yg sefrekuensi. Ketika koordinat ruang dan waktunya tepat, energi itu kembali menguat dan memunculkan koordinat rasa yang akurat. Di situlah momentum kita untuk mengingat. Kalau perlu mencatatnya sebagai pelajaran dari pengalaman. Apakah rasa itu yg jiwa kita inginkan ataukah kita berendah hati merevisi agar relung hati tak tersakiti. Seperti kata lagunya Letto, “semestinya kata-kata cerminkan jiwa… kini saatnya engkau berhenti melukai relung hati”

“Hidup adalah perjuangan”, kata Rendra. “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.” Mungkin terlalu berat dibayangkan bagaimana mengubah semuanya tapi setidaknya kita bisa memulainya dengan lebih memperbaiki kata-kata kita.

Selamat hari Jumat, utamakan Selawat. 🙂

Percumbuan Cahaya dan Cinta

Cintailah apa yang tak tersentuh
belahan jiwa yang membuatmu utuh

Tak satupun ada tercipta
tanpa percumbuan Cahaya dan Cinta
ketika tak ada lagi tanya,
hasrat diri-kah kehendak semesta

Masihkah kau peluk tubuhku begitu erat
ketika akhirnya tubuh pun jadi mayat
Cintailah apa yang tak tersentuh
belahan jiwa yang membuatmu utuh

 

Kota Sejuta Romansa, 13 April 2016

Kinasih

Anak-anak kinasih, terlahir buta tapi hatinya jernih

Kita mesti berterima kasih
pada anak-anak kinasih
terlahir buta tapi hatinya jernih
anak-anak yatim dipandang sebelah mata
tapi tak sedikitpun dendam pada manusia

Bisa jadi Tuhan menangguhkan bencana
hanya karena mereka ada
karena Kanjeng Nabi sendiri yang menemani
hati mereka yang senantiasa sunyi

 

Jogja Kota Cinta, Semoga. 22 April 2016

Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah dalam Nikah

Bahwa kehidupan adalah medan juang, samudra pembelajaran. Keluarga adalah sampan yang kita kemudikan. Wadud dan Rahmah adalah dua kayuh untuk mendayung sampan. Ibarat dua sayap yang membantumu terbang.

sakinah_mawadah_warahmah_by_alvinhenanda-d79176o

Maukah kau menikah denganku? – bisa jadi perlu ditilik dengan perspektif yang rumit.” (Dian Arymami)

Penjabaran mbak Dian memang rumit – jelas rumitlaah Cinta level disertasi je – tapi sebenarnya belum seberapa rumit. Ada penjelasan yang lebih rumit tentang pernikahan sampai tingkat galaksi semesta. Sejauh yang kupelajari, pola perjodohan, couple-mating terentang dari level atom hingga galaksi. Bahwa sel-sel melakukan penyatuan untuk berkembang menjadi organisme yang lebih kompleks. Bahwa bintang dan galaksi juga melakukan ‘act of mating‘ (www.independent.co.uk).

Tapi itu bahasan untuk lain kesempatan saja. Kali ini aku ingin menawarkan pemaknaan alternatif saja tentang doa pernikahan. Bukan kebetulan juga kukira ketika tadi pagi tiba-tiba ada pesan masuk dari seorang kawan lama menanyakan “Am, doa golek jodoh opo yo?” *nggg

Dalam budaya kita, terutama Islam, doa yang sering diucapkan kepada kedua mempelai adalah semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Sakinah biasa dimaknai tentram, tenang, diam. Sakinah dari kata sukun (berhenti, diam). seperti lagunya Anji Cintaku Berhenti di Kamu dek. Lalu mawaddah dari kata wadud dan rahmah (seakar dengan kata rahman rahim) yang memiliki arti kurang lebih sama, Cinta, kasih dan sayang. Meski antara wadud, rahman, maupun rahiim memiliki nuansa rasa yang berbeda.

Wadud atau mencintai bisa kita maknai sebagai kualitas emosi yang selalu ingin memberi, segala tindakan yang kita persembahkan untuk orang/sesuatu yang kita cintai. Wadud juga menyimpan makna kelapangan atau kekosongan. Dengan kata lain, wadud adalah cinta yang memberi. Energi yang selalu mendorongmu untuk merayu, mendekat, lalu menyatu bersama kekasihmu. Sementara rahmah mengandung makna cinta yang melayani, menampung, ngemong. Untuk bisa melayani, menampung, ngemong, seseorang harus memiliki keluasan pandang, kelapangan hati untuk menerima apapun yang dimiliki, dibutuhkan, dan diminta oleh orang/sesuatu yang kita sayangi. Singkat kata, rahmah adalah cinta yang menerima, tresna nampa. Keluasan hati menampung. Ruang yang kau sediakan untuk berlangsungnya segala dinamika cintamu.

Lalu di mana posisi sakinahnya?

Sakinah adalah keadaan, state of things. Sakinah adalah output dari proses pernikahan berupa harmoni, titik equilibrium, ketika semuanya berada di titik kesetimbangan. Konsep sakinah dalam pernikahan sendiri bukan keadaan yang tetap. Sebagaimana alam semesta selalu dalam proses menuju harmoni. Tidak ada jaminan bahwa ketika keharmonisan keluarga sudah kita dapat, itu akan berlangsung selamanya. Akan ada perubahaan konstelasi, kesadaran diri, kebutuhan ekonomi, status sosial dan lain sebagainya yang menggoyahkan kesakinahan keluarga.
Pertanyaannya adalah, apakah kita mau terus berupaya ‘li-taskunuu ilaiha‘ (mengupayakan kedamaian dalam keluarga dengan memberikan kebahagiaan pada pasangan) bukan ‘li taskunuu fiiha‘ (mencari kedamaian apalagi bahagia dari pernikahan). Mas Sabrang “Noe” Panuluh pernah serius berkelakar barang siapa menikah karena mencari bahagia, niscaya dia akan kecewa.

Dengan begini, kita bisa mengucapkan doa “semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah” dengan positioning yang lebih jelas. Bahwa kehidupan adalah medan juang, samudra pembelajaran. Keluarga adalah sampan yang kita kemudikan. Wadud dan Rahmah adalah dua kayuh untuk mendayung sampan. Ibarat dua sayap yang membantumu terbang.

Mungkin kalau mau lebih lengkap doanya jadi seperti ini “Selamat mengaruhi samudra dengan bahtera bernama keluarga, dengan kayuh mawaddah dan kayuh rahmah dari Allah. Semoga dengan kedua kayuhmu kalian akan senantiasa sakinah menghadapi gelombang samudra kehidupan dari arah yang tak disangka-sangka.

Sudahkah kita mengasah kayuh cinta kita?

 

Kota Sejuta Romansa, 27 April 2016

Jalan Terbaik Tak Mesti Lurus

dead_end_road

Pikiran awam akan mengira jalur terdekat dan efektif dari 2 titik adalah sebuah garis lurus. Cara tercepat, terbaik mendapatkan sesuatu adalah dengan dengan cara straight to the point. Ibarat pergi ke suatu tempat, kita perlu memasang kacamata kuda dan lalu jalan terus, lurus. Cara menghilangkan kebaperan adalah bertanya langsung pada orang yang bikin baper. Lalu bagaimana jika jalur itu terhalang?

Ketika aliran sungai terhambat batu, sampah, atau bangunan, air akan membuat jalur lain, berkelok seolah tak patuh pada jalan lurus. Tahukah kamu bahwa itulah rute air paling efisien dari hulu ke hilir? Semesta bisa mencipta jalurnya sendiri.

Ketika 2 titik ditakdirkan untuk bersentuhan, tapi hubungan secara langsung tidak memungkinkan, semesta selalu mencarikan jalan untuk mempertemukannya. Bahkan ketika semua harapan seolah sirna, ikatan-ikatan tertentu tak bisa dipisahkan.

Ikatan-ikatan itu yg menentukan siapa diri kita dan akan menjadi seperti apa kita dalam melintasi ruang dan waktu sepanjang jalan kehidupan yang tak bisa kita prediksi lika-likunya

 

Kota Sejuta Romansa, 1 Juli 2014

air2bterjun2b8

Hikmah Dzikir 1 #Ramadlan

Suatu ketika Allah memerintah Malaikat penjaga, 

“Catat dalam buku amalnya si fulan ini dan itu.”
“Tetapi Ya Allah, Saya tidak melihat si Fulan melakukan amal ini dan itu?”
“Catat saja. Aku lebih tahu apa yg tidak kamu tahu,” kata Allah kepada malaikat. “Sesungguhnya si Fulan sibuk mengingatku di mana pun dan kapan pun. Ia selalu berprasangka baik kepadaku atas segala peristiwa yang kuberikan padanya.”

Perbanyaklah ibadah hati. Baik dengan cara mengingat Allah, berprasangka baik, atau merencanakan hal-hal baik. Itu semua menjadi deposito amal kita di hadapan Allah. Karena sesungguhnya malaikat tidak tahu apa yang ada dalam hati manusia.

Au kama qola Mbah Yai Asrori Al-Ishaqi.*******