Neng Ning Nung

Reribeting rwabeda
Sakjroning sirah lan dada
Iku tanda mulur mungkrete kramadangsa
Swara pangaku-aku lan pangarep-arep donya

Yen ta karep sapa sira
Anutup hawa lan swara teka njaba
Anteng meneng kekancan peteng
Anyegur nyegara tanpa rupa
Amrih sesuci ing weninge tlaga

Kaeksi kahanan jatining diri
Dadya panyeksi ning rat lir ginanti
Mugi dumununga sira ing rasa sejati
Yen urip iku pasinaon rasa ngrumangsani

 

Yogyakarta, 01112017

Iklan

Karma Simalakama

Mencari Buah Simalakama adalah sebuah naskah drama yang sedang diproses oleh Teater Perdikan. Pada Mocopat Syafaat tanggal 17 Juni kemarin, naskah itu dibawakan dalam format Dramatic Reading. Selama mendengarkan, pikiran saya mengembara, gagasan berlompatan, mencari persambungan dengan gagasan-gagasan di luar naskah. Ada yang persambungannya sangat personal dengan apa yang sedang saya alami adapula yang nyambung secara tema dengan problem kebangsaan.

Saya tak sempat mencatat, tak sempat pula merekam. Berikut ini adalah cara saya mengingat fragmen dari naskah tersebut. Fragmen ketika Anoman diutus oleh Ki Semar untuk mencari buah Simalakama. Dalam pencariannya ke kahyangan, Anoman ditemui Dewi Uma, istri Batara Guru. Dewi Uma, sebelum dikutuk menjadi dewi durga penguasa setra gandamayit, adalah perempuan yang cantik, genit, dan jemawil alias jawilable. Anoman memang mendapatkan buah Simalakama lengkap dengan penjelasannya dari Dewi Uma tetapi juga sempat khilaf tergoda njawil Dewi Uma. Terkonanglah adegan jawil menjawil itu oleh Batara Guru.

Singkat cerita, akibat affair kelas kahyangan tersebut, di dunia dimensi ketiga, alam mayapada, Bagong terjerat asmara dan galau tak ketulungan. Anoman yang baru saja mengalami ingin segera turun dan membantu Bagong untuk lepas dari jerat-jerat asmara. Tentu saja berbeda redaksinya tapi inti ceritanya senada.


“Jangan kau libatkan dirimu, Ngger Anoman” kata Batara Guru.
“Tapi Guru, itu Bagong menjerit minta tolong. Biar wajahnya nylekuthis, mulutnya ceriwis, komentarnya sadis, Bagong tetap putra Ki Semar. Anggota Ponokawan juga. Sama Bagong, saya tega larane tapi ora tega patine,” Sanggah Anoman.

“Lalu?” Batara Guru pura-pura tidak tahu arah bicara Anoman.
“Ya hamba harus menolongnya.” Jawab Anoman segera.

“Mengapa begitu?! Siapa yang mengharuskan?!” Batara Guru menggoda dan Anoman tetap belum menyadarinya.
“Bagong, ponokawan, dan semua ksatria putih ada di dalam lingkar pengawasan, lingkar pertemanan, dan lingkar pengabdian hamba. Hamba mengharuskan diri untuk membantu mereka.” Anoman menjelaskan dengan wajah serius.

“Begitukah, Ngger Anoman?!” Batara Guru bertanya sambil menahan senyum di ujung bibir.
Mata Anoman cukup jeli melihat senyum yang dirahasiakan itu tapi tak tahu apa maksudnya.
“Ngg… ya begitu… hamba kira sih begitu.. Lak yo begitu tho seharusnya?! Apa gimana?!” Anoman mulai ragu dan mempertanyakan kalimatnya sendiri.

Ngger Anoman. Kamu memang kera. Bukan manusia. Hatimu putih. Betapa polos dan suci niatmu mengabdi. Menjalankan perintah tanpa pernah mau tahu ada apa di balik itu. Tak peduli intrik para ksatria, tikungan iblis, atau eksperimen para dewa. Yang kamu tahu hanyalah berdharma” Batara Guru berkata dengan tatapan menerawang.

“Ampuni hamba, Batara Guru. Hamba ini memang cuma kera. Tapi mbok ya tolong kalau menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang mudah saja. Pakai bahasa manusia saja kadang gagal paham apalagi bahasa dewa. Lalu apa hubungannya dengan Bagong tadi, Guru?” Anoman tambah bingung.

“Hmmm… Begini Ngger. Soal Bagong, kamu tak usah ikut campur. Aku tahu hatimu berat melihat penderitaannya tapi itu bukan karmamu. Biarlah itu menjadi pelajaran bagi Bagong pribadi, ujian bagi solidaritas Ponokawan, terutama bagi para ksatria Pandawa agar belajar ngicipi tanggung jawab. Karma adalah salah satu bentuk Sih, atau Cinta dari para Dewa bagi makhluk, yang mengejawantah di alam mayapada.

“Melalui karma, tiap makhluk bercengkrama dengan jagad dewata. Karma tiap makhluk berbeda-beda. Sangat personal. Kalian boleh saling bekerja sama menuntaskan karma masing-masing tapi jangan sekali-kali lancang menabrak paugeran, daulat diri, makhluk lain. Itu sama saja kamu sok tahu ngajari dewa apa yang mesti dilakukan” Batara Guru menjelaskan panjang lebar.

Anoman hanya ndomblong mendengarkan.
“Ampuni hamba, Batara” meski masih bingung, Anoman menyadari ada yang salah dari sikapnya.
“Tak apa Ngger Anoman. Kamu di sini saja barang sebentar. Istirahatlah sambil kamu cari cara bagaimana membawa buah simalakama ke hadapan raja Astina.” Batara Guru menghilang dari pandangan.

Purna-lah Karma

Terlahir kembali untuk catur-cakra sapta-ngkala. 
Mencukupkan dukha, samsara,
juga yajna pada Sang Kama.

Cukup sudah petanda.
Nir-kata.
Mungkin jeda.
Mungkin selamanya.

Purna lah karma.
Selanjutnya hanya dharma.

kota sejuta romansa di teras philokopie Friday Oct 13th, 2013