Kata-kata

“Kemana perginya kata setelah ia diucapkan?
Kemana perginya pikiran setelah ia dituliskan?”

Selalu terasa lucu dan nggatheli tiap kali ingat bagaimana Allah menegurku dengan kata-kataku sendiri. Teman-teman Diskusi Martabat menyebutnya dengan istilah Kena Bandhilan. Tapi kena bandhilan itu kalo kita ga menyadari prosesnya sedangkan kalo sejak awal tahu bahwa kata-kata, persepsi dan pengetahuan yang kita yakini akan menuntut tanggung jawab itu namanya Kulakan Bandhilan.

Seorang dosen pernah mengawali sesi pagi dengan pertanyaan, “Kemana perginya kata setelah ia diucapkan? Kemana perginya pikiran setelah ia dituliskan?” Apakah kata-kata kita tersimpan di suatu tempat seperti kode-kode digital yg tersimpan di server awan?

Kata, suara, pikiran kita adalah getaran/gelombang. Begitu selesai diucapkan kata itu berputar-putar menyelubungi diri kita sebagai energi. Sebagaimana hukum energi, ia akan mencari, menarik gelombang yg sefrekuensi. Ketika koordinat ruang dan waktunya tepat, energi itu kembali menguat dan memunculkan koordinat rasa yang akurat. Di situlah momentum kita untuk mengingat. Kalau perlu mencatatnya sebagai pelajaran dari pengalaman. Apakah rasa itu yg jiwa kita inginkan ataukah kita berendah hati merevisi agar relung hati tak tersakiti. Seperti kata lagunya Letto, “semestinya kata-kata cerminkan jiwa… kini saatnya engkau berhenti melukai relung hati”

“Hidup adalah perjuangan”, kata Rendra. “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.” Mungkin terlalu berat dibayangkan bagaimana mengubah semuanya tapi setidaknya kita bisa memulainya dengan lebih memperbaiki kata-kata kita.

Selamat hari Jumat, utamakan Selawat. 🙂

Illusion of Separation

I’m silent, it doesn’t mean I’m ignorance
It’s a matter of space-time presence
may be it’s our hate of distance

O friends of mine
Don’t get me wrong, I know
It is our big illusion of separation
Now I start to understand

 

Kota Sejuta Romansa, 24 Maret 2016

Kinasih

Anak-anak kinasih, terlahir buta tapi hatinya jernih

Kita mesti berterima kasih
pada anak-anak kinasih
terlahir buta tapi hatinya jernih
anak-anak yatim dipandang sebelah mata
tapi tak sedikitpun dendam pada manusia

Bisa jadi Tuhan menangguhkan bencana
hanya karena mereka ada
karena Kanjeng Nabi sendiri yang menemani
hati mereka yang senantiasa sunyi

 

Jogja Kota Cinta, Semoga. 22 April 2016

Jalan Terbaik Tak Mesti Lurus

dead_end_road

Pikiran awam akan mengira jalur terdekat dan efektif dari 2 titik adalah sebuah garis lurus. Cara tercepat, terbaik mendapatkan sesuatu adalah dengan dengan cara straight to the point. Ibarat pergi ke suatu tempat, kita perlu memasang kacamata kuda dan lalu jalan terus, lurus. Cara menghilangkan kebaperan adalah bertanya langsung pada orang yang bikin baper. Lalu bagaimana jika jalur itu terhalang?

Ketika aliran sungai terhambat batu, sampah, atau bangunan, air akan membuat jalur lain, berkelok seolah tak patuh pada jalan lurus. Tahukah kamu bahwa itulah rute air paling efisien dari hulu ke hilir? Semesta bisa mencipta jalurnya sendiri.

Ketika 2 titik ditakdirkan untuk bersentuhan, tapi hubungan secara langsung tidak memungkinkan, semesta selalu mencarikan jalan untuk mempertemukannya. Bahkan ketika semua harapan seolah sirna, ikatan-ikatan tertentu tak bisa dipisahkan.

Ikatan-ikatan itu yg menentukan siapa diri kita dan akan menjadi seperti apa kita dalam melintasi ruang dan waktu sepanjang jalan kehidupan yang tak bisa kita prediksi lika-likunya

 

Kota Sejuta Romansa, 1 Juli 2014

air2bterjun2b8

Fight or Flight?!

Sejak jaman purba, kelangsungan hidup manusia seringkali bergantung pada kemampuannya menentukan dengan cepat siapa kawan siapa lawan.

Amigdala adalah bagian dalam otak kita berukuran sebiji almond yang berfungsi untuk membuat penilaian dan pengambilan keputusan spontan. Keputusan-keputusan spontan itu yang membuat kita bertahan hidup. Momen itu biasa disebut fight or flight response, take it or leave it moment.

Fight or flight mungkin merupakan cara primitif otak kita dalam merespon sesuatu tetapi tidak berarti bahwa itu pilihan yang buruk. Kadang memperjuangkan apa yg kita inginkan adalah hal yg tepat untuk kita lakukan. Meski seringnya apa yg sebenarnya kita perjuangkan adalah melawan ketakutan kita sendiri. Takut tersakiti, dan mengulangi kesalahan yang sama berkali-kali.

Kadangkala hal paling bijak adalah meninggalkan semua. Tempuh jalanmu sendiri. Tanpa kompromi. Itu mungkin akan terasa sedikit ngeri, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang-orang yg kita tinggalkan. Karena, ini anehnya, mereka tak akan bisa memahami keputusan kita.

Sekarang dan  ke depan, kita perlu memutus belenggu masa lalu dan melangkah ke wilayah yang belum kita tahu.

Pun jika kita memilih untuk pergi, itu tidak berarti kita tak akan pernah kembali bukan?!

Kota Sejuta Romansa, 150614

#petikandariserialPerceptiondengansedikitpenyesuaian

Sholat: Pada Mulanya Adalah Niat | @31HariMenulis #MaduraMission completed!

Ini hari Jumat (7/05/2010) yang katanya penuh berkat. Matahari pagi ini bersinar cerah. Pelan-pelan kabut yang menyelimuti hatiku menguap. Burung-burung kembali berdendang. Angin semilir berhembus menyegarkan. Demikianlah suasana hatiku ketika melangkah keluar dari kompleks makam Batuampar. Sengaja tidak kuambil tawaran tumpangan kendaran. Kali ini aku ingin jalan kaki saja. Sedari mulanya ini adalah laku-mlaku. Dengan jalan kaki aku bisa lebih cermat menangkap pesan alam. Aku bertekad jalan kaki sampai kutemukan kendaraan umum yang akan membawaku ke terminal Pamekasan.

Perempuan MaduraTernyata jaraknya lumayan jauh. Sudah satu jam aku berjalan kaki tapi tak juga kujumpai angkutan umum. Ya sudah kunikmati saja pemandangan Madura di pagi hari. Di kanan kiri masih banyak ladang. Di sebelah kiri sinar matahari menghangatkan. Kujumpai anak-anak kecil beriringan berangkat sekolah. Kulihat perempuan-perempuan Madura berjalan sembari menyunggi bawaan. Alangkah indah pagi ini.

Di ujung jalan kulihat jalanan mulai ramai. Rupanya itu pertigaan sebelum pasar. Ah akhirnya ada angkutan! Aku naik angkutan L300. Angkutan ini tidak sampai ke terminal bis. Kata supirnya nanti aku diturunkan di jalur terdekat menuju terminal. Dari situ moda transportasi yang tersedia hanya becak. Lalu kutawarkan seorang pengayuh becak, masih muda.

“Terminal berapa Cak?”

“Lima belas ribu.”

“Ah mahalnya!”

“jauh dik jaraknya”

“sepuluh ya?” tawarku lagi

Setelah menimbang-nimbang dalam pikiran, akhirnya ia mengiyakan. “Ya sudah!” Lalu aku naik ke atas becak.

Rupanya jaraknya memang sangat jauh untuk ukuran naik becak. Mana jalannya ada yang menanjak segala. Dalam hati aku menyesal sudah menawar harga. Apalagi ketika Mas Becak tadi keliatan ngos-ngosan di belakang. Begitu sampai di terminal, langsung kuulurkan selembar uang sepuluh ribuan dan selembar lima ribuan.

“Makasih dik” ucapnya lalu membalikkan arah becaknya.

Sampai di terminal aku langsung car ibis AKAS jurusan Surabaya. Berangkat kurang lebih jam 9 pagi. Sampai di terminal Purabaya kurang lebih jam 12.00 siang. Dari beberapa penjuru kudengar adzan sholat jumat tengah dikumandangkan.

Kucari loket penjualan tiket bis menuju Jogja. Tapi tiba-tiba hatiku bimbang antara langsung naik bis atau menjawab panggilan sholat jumat. Bukankah aku sekarang jadi musafir. Sah-sah saja kugunakan hak keringangan menggabung dan mempersingkat jumlah rekaat sholat. Lagi pula jamak dan qoshor adalah fasilitas dari Tuhan kenapa tidak digunakan.

solatDari kejauhan kulihat banyak orang berlalu lalang. Sementara yang menuju masjid hanya satu dua berdatangan. Aku teringat adegan dalam film My Name is Khan ketika Khan sedang dalam perjalanan. Dalam perjalanan tersebut dia bertemu dengan sesama muslim. Di tengah perjalanan bis yang mereka tumpangi sedang istirahat agar penumpangnya bisa membeli makan. Kebetulan waktu itu sudah masuk waktu sholat. Khan hendak sholat tetapi temannya mempertanyakan, mengapa harus sholat sekarang kalau toh bisa dijamak. Lalu Khan menjawab kurang lebih bahwa sholat adalah soal niat. Memang kita diberikan keringanan untuk menjamak tetapi apakah kita punya niat untuk menyegerakan sholat. Bagaimana mungkin kita berharap Allah menyapa kita sedangkan kita tidak benar-benar ingin disapa. Kita lebih menyegerakan hal-hal dunia dan menunda menjawab panggilan mesra dari Allah.

Deg!

Aku tertohok. Kupercepat langkahku menuju masjid. Khotib sudah mulai membacakan khotbahnya. Masjid yang tidak terlalu besar itu sudah penuh. Hanya tersisa di halaman beratap terpal tanpa alas. Kulihat ada anak-anak kecil menunggui setumpuk kardus dan Koran. Segera kuambil wudlu dan membeli selembar kardus dari anak itu. Dan aku menangis untuk yang kedua kali di hari itu dipenuhi rasa haru karena Tuhan menyapa hatiku.

#MaduraMission berakhir di sini.