Hidup Adalah Menanam

الدني مزراءة الاخرة

(Kehidupan) Dunia adalah ladang (kehidupan) akhirat. Begitu kata para ustadz.
Kita semua adalah petani/penanam. Tugas kita menanam, menanam, dan menanam. Tiap kata dan tindakan kita adalah tanaman masa depan.
Ada yang menanam sebagai bentuk perlawanan. Ada yang menanam karena kesenangan. Semuanya sah. Karena salah satu misi kehidupan di dunia adalah MENANAM.
Selain itu, menanam juga akan mengajari kita tentang cinta kasih dan kelembutan jiwa. Menanam mengajak kita merasakan kehidupan.
Bagaimana hati kita menjadi berharap dan bersemangat ketika melihat daun pertama bersemi.
Bagaimana kita belajar tanggung jawab dan selalu ingin pulang karena ada tanaman yg hidupnya tergantung pada siraman cinta kita.
Juga bagaimana kita belajar mendengar yg tak terucap, memahami kebutuhan tanaman yg tak bisa bicara. Kita berkomunikasi dg rasa, bahasa jiwa.
Leluhur kita adalah petani sejati yg sangat paham filosofi menanam. Mereka terus menanam meski tak pasti kapan akan panen.
Ratusan tahun pendahulu kita rela menanam darah dan tubuhnya untuk kemerdekaan Indonesia. Meski bukan mereka yg menikmatinya.
Bisa jadi kemudahan-kemudahan hidup yang kita alami sekarang adalah buah dari tanaman kebaikan orang tua, simbah, dan pendahulu kita.
Lalu tanaman apa yg akan kita wariskan pada anak turun kita?!

Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah dalam Nikah

Bahwa kehidupan adalah medan juang, samudra pembelajaran. Keluarga adalah sampan yang kita kemudikan. Wadud dan Rahmah adalah dua kayuh untuk mendayung sampan. Ibarat dua sayap yang membantumu terbang.

sakinah_mawadah_warahmah_by_alvinhenanda-d79176o

Maukah kau menikah denganku? – bisa jadi perlu ditilik dengan perspektif yang rumit.” (Dian Arymami)

Penjabaran mbak Dian memang rumit – jelas rumitlaah Cinta level disertasi je – tapi sebenarnya belum seberapa rumit. Ada penjelasan yang lebih rumit tentang pernikahan sampai tingkat galaksi semesta. Sejauh yang kupelajari, pola perjodohan, couple-mating terentang dari level atom hingga galaksi. Bahwa sel-sel melakukan penyatuan untuk berkembang menjadi organisme yang lebih kompleks. Bahwa bintang dan galaksi juga melakukan ‘act of mating‘ (www.independent.co.uk).

Tapi itu bahasan untuk lain kesempatan saja. Kali ini aku ingin menawarkan pemaknaan alternatif saja tentang doa pernikahan. Bukan kebetulan juga kukira ketika tadi pagi tiba-tiba ada pesan masuk dari seorang kawan lama menanyakan “Am, doa golek jodoh opo yo?” *nggg

Dalam budaya kita, terutama Islam, doa yang sering diucapkan kepada kedua mempelai adalah semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Sakinah biasa dimaknai tentram, tenang, diam. Sakinah dari kata sukun (berhenti, diam). seperti lagunya Anji Cintaku Berhenti di Kamu dek. Lalu mawaddah dari kata wadud dan rahmah (seakar dengan kata rahman rahim) yang memiliki arti kurang lebih sama, Cinta, kasih dan sayang. Meski antara wadud, rahman, maupun rahiim memiliki nuansa rasa yang berbeda.

Wadud atau mencintai bisa kita maknai sebagai kualitas emosi yang selalu ingin memberi, segala tindakan yang kita persembahkan untuk orang/sesuatu yang kita cintai. Wadud juga menyimpan makna kelapangan atau kekosongan. Dengan kata lain, wadud adalah cinta yang memberi. Energi yang selalu mendorongmu untuk merayu, mendekat, lalu menyatu bersama kekasihmu. Sementara rahmah mengandung makna cinta yang melayani, menampung, ngemong. Untuk bisa melayani, menampung, ngemong, seseorang harus memiliki keluasan pandang, kelapangan hati untuk menerima apapun yang dimiliki, dibutuhkan, dan diminta oleh orang/sesuatu yang kita sayangi. Singkat kata, rahmah adalah cinta yang menerima, tresna nampa. Keluasan hati menampung. Ruang yang kau sediakan untuk berlangsungnya segala dinamika cintamu.

Lalu di mana posisi sakinahnya?

Sakinah adalah keadaan, state of things. Sakinah adalah output dari proses pernikahan berupa harmoni, titik equilibrium, ketika semuanya berada di titik kesetimbangan. Konsep sakinah dalam pernikahan sendiri bukan keadaan yang tetap. Sebagaimana alam semesta selalu dalam proses menuju harmoni. Tidak ada jaminan bahwa ketika keharmonisan keluarga sudah kita dapat, itu akan berlangsung selamanya. Akan ada perubahaan konstelasi, kesadaran diri, kebutuhan ekonomi, status sosial dan lain sebagainya yang menggoyahkan kesakinahan keluarga.
Pertanyaannya adalah, apakah kita mau terus berupaya ‘li-taskunuu ilaiha‘ (mengupayakan kedamaian dalam keluarga dengan memberikan kebahagiaan pada pasangan) bukan ‘li taskunuu fiiha‘ (mencari kedamaian apalagi bahagia dari pernikahan). Mas Sabrang “Noe” Panuluh pernah serius berkelakar barang siapa menikah karena mencari bahagia, niscaya dia akan kecewa.

Dengan begini, kita bisa mengucapkan doa “semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah” dengan positioning yang lebih jelas. Bahwa kehidupan adalah medan juang, samudra pembelajaran. Keluarga adalah sampan yang kita kemudikan. Wadud dan Rahmah adalah dua kayuh untuk mendayung sampan. Ibarat dua sayap yang membantumu terbang.

Mungkin kalau mau lebih lengkap doanya jadi seperti ini “Selamat mengaruhi samudra dengan bahtera bernama keluarga, dengan kayuh mawaddah dan kayuh rahmah dari Allah. Semoga dengan kedua kayuhmu kalian akan senantiasa sakinah menghadapi gelombang samudra kehidupan dari arah yang tak disangka-sangka.

Sudahkah kita mengasah kayuh cinta kita?

 

Kota Sejuta Romansa, 27 April 2016

Purna-lah Karma

Terlahir kembali untuk catur-cakra sapta-ngkala. 
Mencukupkan dukha, samsara,
juga yajna pada Sang Kama.

Cukup sudah petanda.
Nir-kata.
Mungkin jeda.
Mungkin selamanya.

Purna lah karma.
Selanjutnya hanya dharma.

kota sejuta romansa di teras philokopie Friday Oct 13th, 2013